Mandikan Aku Bunda

Posted on 31 Oktober 2011

0


Di bawah ini adalah salah satu contoh tragis. Sering kali orang
tidak mensyukuri apa yang diMILIKInya sampai
akhirnya …..

Ilustrasi

> Rani, sebut saja begitu namanya. Kawan
> kuliah ini berotak cemerlang dan memiliki idealisme
> tinggi. Sejak masuk kampus, sikap dan konsep dirinya
> sudah jelas: meraih yang terbaik, di bidang akademis
> maupun profesi yang akan digelutinya. ”Why not the
> best,” katanya selalu, mengutip seorang mantan
> presiden Amerika.
>
> Ketika Universitas mengirim mahasiswa untuk studi
> Hukum Internasional di Universiteit Utrecht , Belanda,
> Rani termasuk salah satunya. Saya lebih memilih
> menuntaskan pendidikan kedokteran.
> Berikutnya, Rani mendapat pendamping yang ”selevel”;
> sama-sama berprestasi, meski berbeda profesi.
>
> Alifya, buah cinta mereka, lahir ketika Rani diangkat
> sebagai staf diplomat, bertepatan dengan tuntasnya
> suami dia meraih PhD. Lengkaplah kebahagiaan mereka.
> Konon, nama putera mereka itu diambil dari huruf
> pertama hijaiyah ”alif” dan huruf terakhir ”ya”,
> jadilah nama yang enak didengar: Alifya. Saya tak
> sempat mengira, apa mereka bermaksud menjadikannya
> sebagai anak yang pertama dan terakhir.
>
> Ketika Alif, panggilan puteranya itu, berusia 6 bulan,
> kesibukan Rani semakin menggila. Bak garuda, nyaris
> tiap hari ia terbang dari satu kota ke kota lain, dan
> dari satu negara ke negara lain.
> Setulusnya saya pernah bertanya, ”Tidakkah si Alif
> terlalu kecil untuk ditinggal-tinggal? ” Dengan sigap
> Rani menjawab, ”Oh, saya sudah mengantisipasi segala
> sesuatunya. Everything is OK!” Ucapannya itu
> betul-betul ia buktikan. Perawatan dan perhatian
> anaknya, ditangani secara profesional oleh baby sitter
> mahal. Rani tinggal mengontrol jadual Alif lewat
> telepon. Alif tumbuh menjadi anak yang tampak lincah,
> cerdas dan gampang mengerti.
>
> Kakek-neneknya selalu memompakan kebanggaan kepada
> cucu semata wayang itu, tentang kehebatan
> ibu-bapaknya. Tentang gelar dan nama besar, tentang
> naik pesawat terbang, dan uang yang banyak.
> ”Contohlah ayah-bunda Alif, kalau Alif besar nanti.”
> Begitu selalu nenek Alif, ibunya Rani, berpesan di
> akhir dongeng menjelang tidurnya.
>
> Ketika Alif berusia 3 tahun, Rani bercerita kalau dia
> minta adik. Terkejut dengan permintaan tak terduga
> itu, Rani dan suaminya kembali menagih pengertian
> anaknya. Kesibukan mereka belum memungkinkan untuk
> menghadirkan seorang adik buat Alif. Lagi-lagi bocah
> kecil ini ”memahami” orang tuanya. Buktinya, kata
> Rani, ia tak lagi merengek minta adik. Alif, tampaknya
> mewarisi karakter ibunya yang bukan perengek. Meski
> kedua orangtuanya kerap pulang larut, ia jarang sekali
> ngambek.
> Bahkan, tutur Rani, Alif selalu menyambut
> kedatangannya dengan penuh ceria. Maka, Rani
> menyapanya ”malaikat kecilku”.
> Sungguh keluarga yang bahagia, pikir saya. Meski kedua
> orangtuanya super sibuk, Alif tetap tumbuh penuh
> cinta. Diam-diam, saya iri pada keluarga ini.
>
> Suatu hari, menjelang Rani berangkat ke kantor, entah
> mengapa Alif menolak dimandikan baby sitter. ”Alif
> ingin Bunda mandikan,” ujarnya penuh harap. Karuan
> saja Rani, yang detik ke detik waktunya sangat
> diperhitungkan, gusar. Ia menampik permintaan Alif
> sambil tetap gesit berdandan dan mempersiapkan
> keperluan kantornya. Suaminya pun turut membujuk Alif
> agar mau mandi dengan Tante Mien, baby sitter-nya.
> Lagi-lagi, Alif dengan pengertian menurut, meski
> wajahnya cemberut.
>
> Peristiwa ini berulang sampai hampir sepekan. ”Bunda,
> mandikan aku!” kian lama suara Alif penuh tekanan.
> Toh, Rani dan suaminya berpikir, mungkin itu karena
> Alif sedang dalam masa pra-sekolah, jadinya agak lebih
> minta perhatian. Setelah dibujuk-bujuk, akhirnya Alif
> bisa ditinggal juga.
>
> Sampai suatu sore, saya dikejutkan telponnya Mien,
> sang baby sitter. ”Bu dokter, Alif demam dan
> kejang-kejang. Sekarang di Emergency.” Setengah
> terbang, saya ngebut ke UGD. But it was too late.
> Allah swt sudah punya rencana lain. Alif, si malaikat
> kecil, keburu dipanggil pulang oleh-Nya.
>
> Rani, ketika diberi tahu soal Alif, sedang meresmikan
> kantor barunya. Ia shock berat. Setibanya di rumah,
> satu-satunya keinginan dia adalah memandikan putranya.
> Setelah pekan lalu Alif mulai menuntut, Rani memang
> menyimpan komitmen untuk suatu saat memandikan anaknya
> sendiri.
>
> Dan siang itu, janji Rani terwujud, meski setelah
> tubuh si kecil terbaring kaku. ”Ini Bunda Lif, Bunda
> mandikan Alif,” ucapnya lirih, di tengah jamaah yang
> sunyi. Satu persatu rekan Rani menyingkir dari
> sampingnya, berusaha menyembunyikan tangis.
>
> Ketika tanah merah telah mengubur jasad si kecil, kami
> masih berdiri mematung di sisi pusara. Berkali-kali
> Rani, sahabatku yang tegar itu, berkata, ”Ini sudah
> takdir, ya kan . Sama saja, aku di sebelahnya ataupun
> di seberang lautan, kalau sudah saatnya, ya dia pergi
> juga kan ?” Saya diam saja.
> Rasanya Rani memang tak
> perlu hiburan dari orang lain. Suaminya mematung
> seperti tak bernyawa. Wajahnya pias, tatapannya
> kosong. ”Ini konsekuensi sebuah pilihan,” lanjut
> Rani, tetap mencoba tegar dan kuat. Hening sejenak.
> Angin senja meniupkan aroma bunga kamboja.
>
> Tiba-tiba Rani berlutut. ”Aku ibunyaaa!” serunya
> histeris, lantas tergugu hebat. Rasanya baru kali ini
> saya menyaksikan Rani menangis, lebih-lebih tangisan
> yang meledak. ”Bangunlah Lif, Bunda mau mandikan
> Alif. Beri kesempatan Bunda sekali saja Lif. Sekali
> saja, Aliiif..” Rani merintih mengiba-iba. Detik
> berikutnya, ia menubruk pusara dan tertelungkup di
> atasnya. Air matanya membanjiri tanah merah yang
> menaungi jasad Alif. Senja pun makin tua.
>
> — Nasi sudah menjadi bubur, sesal tidak lagi menolong.
>
> — Hal yang nampaknya sepele sering kali menimbulkan sesal dan
> kehilangan yang amat sangat.
>
> — Sering kali orang sibuk ‘di luaran’, asik dengan dunianya dan
> ambisinya sendiri tidak mengabaikan orang2 di dekatnya yang
> disayanginya.
> Akan masih ada waktu ‘nanti’ buat mereka jadi abaikan saja dulu.
> — Sering kali orang takabur dan merasa yakin bahwa pengertian dan
> kasih sayang yang diterimanya tidak akan hilang. Merasa mereka
> akan
> mengerti karena mereka menyayanginya dan tetap akan ada.
>
> — Pelajaran yang sangat menyedihkan.
>
> Semoga yang membacanya bisa mengambil makna yang terkandung
> dalam kisah tsb

salam dialgnol

sumber : milis Pemanas PNPM MP Perkotaan

Iklan
Ditandai: , , ,
Posted in: Budaya, copas, Peristiwa