Renungan Ramadhan, “Aku adalah Tuhan”

Posted on 28 Juli 2011

3


Makhluk Badaniah seperti manusia memiliki kemampuan tertentu, sehingga mencintai-Nya bisa membuat seseorang memasuki suatu wilayah dimana dia tidak menyadari keterpisahan antara dia dengan yang dicintainya. Seluruh perasaan, penglihatan, pendengaran, penciuman, dan lain-lain terserap ke dalam yang dicintainya, sampai tidak ada anggota tubuhnya yang membutuhkan rangsangan indrawi yang lain. Hal ini terjadi karena dia melihat segala sesuatu “melebur” dan menganggap segala sesuatu “hadir”. Apabila salah satu anggota yang kita sebut tadi menemukan kebahagiaan sempurna, seluruh anggota lain akan terserap ke dalam keterpesonaan orang itu dan tidak akan mencari rangsangan lain. Ketika organ indera mencari rangsangan secara terpisah, ini menunjukkan belum terjadi penyatuan-sebagaimana dapat terjadi-tetapi hanya menemukan sebagai pemenuhan.

Ketika satu indera belum terserap seluruhnya, indera lain mencari kepuasannya sendiri secara terpisah. Pada hakikatnya anggota pancaindera adalah keseluruhan, tetapi dalam bentuknya mereka merupakan bagian-bagian yang terpisah. Ketika satu organ terserap, yang lainnya ikut terserap ke dalam organ itu.

Seperti lalat; ketika terbang, sayapnya bergerak, kepalanya bergerak, semua bagiannya bergerak. Ketika menghirup madu, seluruh organnya sepakat berhenti bergerak. “Keterserapannya” membuat dia tidak sadarkan diri dan tidak lagi melakukan pengerahan tenaga, gerakan ataupun perubahan. Gerakan apapun yang muncul dari orang tenggelam tidak benar-benar dari dia, tetapi dari air. Apabila dia masih mampu berteriak, “Tolong, aku tenggelam !” maka dia tidak dapat dikatakan tenggelam.

Ungkapan “Aku adalah Tuhan” bukanlah pengakuan atas keagungan. Melainkan suatu kerendahan hati yang total. Seseorang yang berkata “Aku adalah hamba Tuhan” menyebutkan dua keberadaan, dirinya dan Tuhan. Sedangkan ungkapan “Aku adalah Tuhan” berarti peniadaan diri, yakni, dia menyerahkan keberadaan dirinya sebagai kekosongan (non-eksistens). Dikatakan “Aku adalah Tuhan” bermakna : “Aku tidak ada; segala sesuatu adalah Dia. Keberadaan adalah Tuhan sendiri, aku bukan keberadaan sama sekali; bukan apa-apa.”

Pernyataan ini demikian luar biasa, lebih dari pengakuan terhadap keagungan apapun. Sayangnya, banyak yang tidak memahami. Ketika manusia menyadari penghambaannya kepada Tuhan, dia sadar atas perbuatannya sebagai hamba. Penghambaan ini bisa jadi memang ditujukan pada Tuhan. Namun dia masih memandang diri dan perbuatannya setara dengan melihat Tuhan. Ini berarti dia tidak “tenggelam” (terserap); tenggelam adalah dia yang dalam dirinya tidak memiliki gerakan atau perbuatan, kecuali digerakkan oleh perubahan air.

Orang yang terserap cinta dengan Tuhan, ibarat dihatinya selalu berkata :

“Citra-Mu berada di dalam mataku; namamu pada bibirku

Pikiran tentang Engkau bersemayam di dalam hatiku

Di mana lagi aku perlu menulis ?

Cinta itu sejati dan hanya bisa diperuntukkan bagi sesuatu yang sejati, Tuhan. Kata cinta dan Tuhan adalah permainan kata dan bahasa, sebuah personifikasi yang menggambarkan eksistensi yang sama tentang keberadaan Tuhan, dengan “rasa” cinta, manusia dapat merasakan keberadaan itu, lalu menyebut adanya istilah Tuhan, jadi dua kata sesungguhnya berasal dari sumber yang satu.

Ketika keterserapan jiwa manusia terjadi artinya itu adalah suatu hasil dari proses saling mencintai antara hamba dengan Tuhannya, saat ini terjadi, maka apapun yang terjadi dari sikap perilaku manusia terserap itu, dia hidup sampai kematian jasad terjadi, hidupnya sudah diperjalankan oleh bimbingan cahaya “nur ala nur”. Hukum alam atau sunnatullah tidak lagi bisa menyentuhnya seperti manusia lain yang belum mengalami “keterserapan”. Baik dan buruk, dosa dan amal dan seterusnya, sudah dirasakan menjadi satu rasa karena cinta sejati yang dimilikinya telah berlabuh dipelabuhan yang sejati. Air berasal dari laut dan akan kembali ke laut.

Manusia yang mengalami hal ini, ibarat telah tenggelam di lautan samudara, tetap hidup dan bergerak, semua kata yang keluar dari mulutnya, terjadi karena digerakkan oleh air lautan samudera, bukan lagi oleh bagian syaraf otaknya yang menggerakkan panca indrawi karena semua unsur jasadi itu telah mati. Apapun perkataan yang keluar dari mulutnya atau bunyi yang terdengar bermacam-macam, sesungguhnya bermakna satu secara tersirat, hanya berzikir menyebut asma-Nya.

Ramadhan disebut sebagai bulan yang lebih mulia dari seribu bulan, karena ramadhan menjadi media atau pintu untuk menemukan cinta sejati atau mengalami “keterserapan” dalam cahaya Tuhan. Puasa itu adalah “pekerjaan” Tuhan, manusia yang berpuasa adalah manusia yang mencoba “mengambil” amanah “pekerjaan” Tuhan.

Apa “pekerjaan” Tuhan ?,

adalah menjadi rahmatanlilalamin. Rahmat bagi seluruh mahluk dan alam semesta. Inilah jawaban, kenapa manusia perlu diciptakan ? agar menjadi rahmatanlilalamin. Dalam bahasa Qur’an, Puasa itu adalah untuk Tuhanmu, ibadah lain adalah untuk dirimu sendiri, sehingga seorang yang berpuasa hanya dirinya sendiri yang bisa mengetahui dan memastikan bahwa dia sedang berpuasa, tidak bisa diketahui oleh orang lain sebagaimana biasanya ibadah-ibadah lain yang bisa disaksikan orang lain, seperti shalat. Di dalam mesjid saat shalat anda bisa melihat siapa yang shalat atau tidak, tetapi dari semua yang didalam mesjid apakah dia sedang shalat atau tidak, anda tidak bisa melihat, siapakah diantara mereka yang sedang berpuasa. Wallahualam.

Marhaban ya ramadhan

salam dialognol