Orang Indonesia Cerdas tapi Terbuang Percuma

Posted on 28 April 2011

0


Minggu lalu saya berkesempatan pulang ke tanah air untuk menyampaikan kuliah umum di Universitas Indonesia. Kesempatan langka yang juga saya manfaatkan untuk bernostalgia setelah 12 tahun meninggalkan almamater tercinta.

Dua belas tahun ternyata menciptakan perubahan radikal. Di tahun 1999, mahasiswa UI yang bisa berkomunikasi dalam bahasa Inggris bisa dihitung dengan jari. Minggu lalu justru mereka yang meminta kuliah umum disampaikan dalam bahasa Inggris!

Walaupun hari libur dan long weekend, pesertanya membludak. Lebih dari 200 mahasiswa S-1 mengorbankan waktu liburnya untuk hadir ke kuliah umum saya. Luar biasa! Semangat menuntut ilmu yang jarang saya jumpai di kebanyakan mahasiswa Malaysia yang biasa saya ajar.

Tapi kemana mahasiswa-mahasiswa cerdas ini akan pergi setelah lulus S-1? Akankah mereka melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi? Atau langsung bekerja? Atau tinggal di rumah sambil menanti seorang pria datang meminang?

Tidak banyak yang punya kesempatan untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Akhirnya bakat-bakat terpendam ini terbuang percuma.

Sebabnya karena menempuh studi pascasarjana di Indonesia adalah sebuah perjuangan memeras air mata, keringat, dan uang.

Mahasiswa pascasarjana harus membayar berbagai iuran, mulai dari iuran registrasi, iuran untuk setiap satuan kredit semester (SKS), ditambah lagi uang untuk membayar penguji tesis, dan uang makan-minum untuk para penguji dan hadirin selama sidang.

Berapa (puluh) juta uang yang harus dihabiskan seorang kandidat master/doktor di Indonesia? Hanya Tuhan yang tahu.

Tak heran jika di Indonesia jarang sekali yang mampu menyelesaikan studi S-3 sebelum umur 30 tahun. Karena para pemuda yang baru lulus S-1 tentu tidak punya banyak uang. Mereka harus bekerja dulu, mungkin selama 10 tahun, untuk mengumpulkan uang berpuluh-puluh juta.

Studi pascasarjana, khususnya untuk bidang ilmu alam, memerlukan energi dan konsentrasi luar biasa. Eksperimen yang terkadang dijalankan berhari-hari, jam kerja yang tak menentu, dan tingkat kegagalan eksperimen yang tinggi, mungkin sangat berat untuk kandidat yang sudah berumur atau berkeluarga. Saya kadang-kadang jatuh iba melihat para kandidat S-3 di Indonesia yang sudah tua-tua, nyaris pensiun malah, harus berjuang nyaris 24 jam sehari demi sebuah gelar.

Idealnya, seseorang sudah harus menyelesaikan studi S-3 sebelum usia 30 tahun. Ini hanya mungkin dicapai jika kandidat tersebut langsung melanjutkan studinya setelah lulus peringkat S-1.

Tapi dengan sistem pendidikan pascasarjana di Indonesia yang bertendensi memeras uang, saya tidak yakin kondisi yang ada sekarang dapat berubah.

Di Amerika dan Eropa, bisa saya katakan 99% mahasiswa pascasarjana (terutama level PhD) menerima bayaran dari universitas atau lembaga lain. Bentuknya bisa berupa teaching assistantship atau beasiswa biasa. Mereka dibayar, bukan membayar seperti di Indonesia.

Tidak perlu jauh-jauh ke negara Barat, di Malaysia pun sebagian besar mahasiswa pascasarjana menerima gaji yang bervariasi antara RM 1500 (Rp 4.5 juta) sampai RM 2300 (Rp 7 juta) perbulan.

Tak heran, di negara-negara tersebut sangat biasa untuk melihat wajah-wajah muda dan enerjik meraih gelar doktornya sebelum usia 30 tahun! Dan saya menyaksikan dengan mata kepala sendiri beberapa orang mendapat gelar profesor sebelum mencapai usia 40 tahun!

Membangun sistem pendidikan pascasarjana yang kondusif adalah perlu untuk menguatkan kualitas sumber daya manusia Indonesia. Sistem pendidikan pascasarjana yang berorientasi fulus seperti saat ini, wajib dihentikan.

sumber : Bimo Tejo

Posted in: Pendidikan