Islam Bukan Agama Kekerasan

Posted on 7 Februari 2011

4


Islam seperti yang dialamatkan Barat menjadi agama yang selalu dikaitkan dengan kekerasan. Kitab suci Alquran di tangan kanan dan pedang di tangan kiri adalah anggapan yang sangat populer di Barat untuk mendeskreditkan Islam. Islam bukanlah agama kekerasan dan tidak identik dengan kekerasan. Islam agama penangkal semua konsep dan bentuk kekerasan.

Islam adalah agama perdamaian. Arti dari kata Islam sendiri mengandung makna penyerahan mutlak pada Tuhan yang mampu memancarkan perdamaian. Dalam bahasa Arab perdamaian itu adalah salam. Karena itu, ketika orang Islam bertemu atau menyambut satu sama lainnya, mereka memohon perdamaian salam alaikum (perdamian ada bersamamu). Bukan hanya orang Islam, tapi semua manusia harus disambut dengan kata-kata ini.

Inilah fungsi agama bagi kaum muslimin yaitu menciptakan perdamaian. Lebih dari itu penyerahan pada kehendak Allah juga memaksa orang Islam untuk berusaha menciptakan perdamaian. Allah Maha Pengasih dan Penyayang . Kekerasan dengan pengasih dan kekerasan dengan penyayang tidaklah dapat disatukan. Seseorang yang pengasih dan penyayang tidaklah dapat melakukan kekerasan.

Dalam artikelnya berjudul Source of Nonviolence in Islam, Dr Asghar Ali Engineer menyebutkan Islam juga agama yang sangat toleran terhadap agama lainnya . Secara jelas hal itu pernah dikatakan bahwa Rasulullah telah menjelaskan kebenaran yang telah ada sebelumnya. Nabi Muhammad Saw bukanlah pembawa kebenaran yang baru karena tak ada pernyataan dari Rasulullah yang menyalahkan kebenaran yang telah disampaikan oleh para nabi sebelumnya.

Dalam surat Al Baqarah 62 disebutkan: “Sesungguhnya orang-orang mukmin, orang-orang Yahudi, orang-orang Nasrani dan orang-orang shabiin, siapa saja di antara mereka yang benar-benar beriman kepada Allah, hari kemudian dan beramal saleh, mereka akan menemui pahala dari Tuhan mereka, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak pula mereka bersedih hati.”

Ayat ini menunjukkkan toleransi agama Islam yang besar karena orang-orang mukmin begitu pula orang-orang Yahudi, Nasrani dan shabiin yang beriman kepada Allah termasuk beriman kepada Nabi Muhammad Saw, percaya kepada hari akhirat dan mengerjakan amal saleh, mereka mendapat pahala dari Allah.

Perang dalam Islam hanya diperbolehkan untuk melawan penindasan dan pemerasan. Alquran menyetujui perang kalau bagian yang lemah dari masyarakat disiksa dan tidak ada jalan lain untuk menyelamatkan mereka sebagaimana disebutkan dalam surat Annisa ayat 75: “Mengapa kamu tidak berperang di jalan Allah dan (membela) orang-orang yang lemah baik laki-laki, wanita maupun anak-anak yang semuanya berdoa, “Ya Tuhan kami keluarkanlah kami dari negeri ini (Mekkah) yang zalim pendudukanya dan berilah kami pelindung dan penolong dari sisi Engkau.”

Ayat ini menjelaskan bahwa Alquran menyuruh orang-orang beriman untuk berperang melawan penindasan yang menimpa laki-laki, wanita dan anak-anak yang lemah. Hal ini mengingatkan kita akan siksaan dan penindasan yang diterima Rasulullah dan kaum muslim di Kota Makkah di masa-masa awal perkembangan Islam. Jadi berperang melawan penindasan adalah berperang di jalan Allah.

Ayat berikutnya juga menjelaskan: “Orang-orang beriman berperang di jalan Allah dan orang-orang kafir berperang di jalan setan/taghut”. Taghut merupakan gambaran kekuatan-kekuatan penindasan dan penyiksaan. Jadi perlu untuk membersihkan mereka (orang-orang yang berada dalam jalan itu) dapat didorong untuk menghentikan penindasan. Alquran tidak menghendaki adanya pemerasan dan penyiksaan. Karena itu, semua bentuk perbuatan itu harus dimusnahkan.

Selain itu, ada juga ayat Alquran yang berbicara tentang perang dan pembunuhan orang-orang kafir. Misalnya, Alquran menyebutkan: “Perangilah orang-orang yang tidak percaya kepada Allah dan hari kiamat dan orang yang mengingkari Allah dan Rasulnya dan tidak menjalankan perintah agama , tidak mengikuti sebagian dari orang yang telah menerima kitab, sampai mereka mau membayar zakat dengan penuh kesadaran”.

Dalam menafsirkan ayat ini, kita harus mengetahui sebab-sebab dan sejarah turunnya ayat atau asbab al-nuzul yaitu dulu ada kesalahpahaman antara orang Islam dan orang Yahudi. Ketika terjadi serangan orang musyrik Makkah, orang-orang Yahudi menurut perjanjian berperang di pihak orang-orang Islam. Namun orang Yahudi malah mengkhianati kaum muslimin dan tidak pernah mau mengakui keberadaan orang-orang mukmin di Madinah. Kaum Yahudi di Madinah dibantu orang musyrik Makkah dan bersepakat untuk melenyapkan Islam dari tanah Arab.

Di lain pihak, ketika orang-orang Kristen berkuasa , kerajaan Roma mencoba untuk mengerahkan kekuatannya melawan Islam dan berusaha untuk menaklukan Islam. Peperangan ini ditandai dengan perang Tabuk. Jadi ayat di atas jauh dari maksud Alquran yaitu untuk memaksa orang-orang musyrik Makkah, orang Yahudi atau Nasrani untuk menerima Islam.

Ayat lain menunjukkan bahwa Islam bukan agama kekerasan seperti yang disebutkan dalam surat Al Baqarah 256 yang menyatakan bahwa tidak ada paksaan dalam agama bahwa jalan yang benar sudah sangat jelas berbeda dengan jalan yang salah. Karena itu, bagi siapa saja yang tidak percaya kepada taghut dan percaya kepada Allah, mereka telah benar-benar berpegang pada tali Allah yaitu tali yang kuat dan kekal”.

Dari ayat diatas jelas sekali disebutkan kaum muslimin tidak boleh memaksa umat agama lain untuk memeluk agama Islam dan ini didengungkan terus-menerus karena sudah jelas mana jalan benar dan yang salah. Dari ayat ini kita diingatkan untuk berpegang pada tali yang kuat dan tidak pernah putus yaitu pada agama Allah dan agama diterima melalui keyakinan bukan paksaan.

oleh :NURHAYATI BAHERAMSYAH

salam dialog

Posted in: agama