Bohong & Kebohongan

Posted on 7 Februari 2011

2


Bohong atau dusta dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah sesuatu yang tidak sesuai dengan hal yang sebenarnya dan dalam Bahasa Arab disebut “kizb”, berasal dari kosa kata “kaziba” yang merupakan lawan kata sadaqa yang berarti benar atau jujur. Pelaku bohong itu disebut kazib dan apabila sering melakukan kebohongan maka pelakunya disebut kazzâb.

Di dalam Alquran banyak ditemukan kata yang berarti bohong, ada bentuk kata sifat dan kata benda atau kata kerja, sebagai isyarat bahwa kebohongan bukan hanya merupakan suatu sifat, akan tetapi ia juga merupakan suatu pekerjaan bahkan menjadi profesi.

Para ahli Tasawwuf di antaranya Syaikhul Islam Imam al-Ghazali mengartikan dusta atau bohong adalah bentuk tidak seimbangnya antara lahir dan batin, antara berbuat dan berkehendak serta antara perbuatan lidah dan perbuatan hati.

Ketidaksesuaian antara perkataan dan perbuatan, antara ucapan dan kenyataan, tidak dapat dibenarkan di dalam ajaran Islam, karena akan menimbulkan sifat kepura-puraan yang merupakan karakter orang-orang munafik. Oleh sebab itu kebohongan adalah salah satu tanda kemunafikan, dan kemunafikan sangat dikecam oleh Islam.

Ketidaksesuaian antara konsep dan kenyataan, antara lahir dan batin di negeri ini sudah merupakan hal yang fenomenal, seakan-akan jika tidak berbohong di negeri ini tidak akan berhasil mendapatkan sesuatu yang diinginkan, sehingga sering kita dengar ungkapan-ungkapan yang tidak mencerminkan kejujuran, seperti “Jika berlaku jujur akan terbujur”, “Mencari yang haram saja sulit apalagi yang halal”, “Berbohong demi kebaikan”, dan sebagainya.

Fenomena kebohongan di negeri ini sudah menjalar ke seluruh persendian kehidupan mulai dari pendidikan, perekonomian, kesehatan, politik bahkan sampai kepada keyakinan beragama, dan hal ini betul-betul merupakan kondisi yang mengkhawatirkan.

Dari sektor pendidikan, lihatlah betapa banyak sekolah, pesantren, yayasan, bahkan perguruan tinggi yang menjanjikan mutu dan kualitas pendidikan, akan tetapi pada hakikatnya mengutamakan komersial, dan pada gilirannya lembaga-lembaga pendidikan tidak akan melahirkan anak didik yang berkarakter terbaik (akhlakul karimah). Lebih dari sekadar komersial, pendidikan yang dianggap menjanjikan oleh masyarakat tidak lagi melakukan selektifitas yang berarti, akan tetapi tergantung pada besar atau kecilnya setoran. Oleh karenanya, kita sama-sama dapat melihat hasilnya, pasien-pasien berbondong-bondong berobat ke luar negeri, misalnya ke negeri jiran (Penang-Malaysia, Singapura) akibat berkurangnya kepercayaan kepada pengelola kesehatan.

Dari sektor perekonomian, yang seyogianya berbasis kerakyatan, akan tetapi mulai bergeser kepada kekuasaan, sehingga para pedagang yang lebih dekat pada penguasa akan menjadi “Tuan Takur” di negeri ini. Lebih dari itu, para penguasapun tidak mau ketinggalan ikut mengelola bisnis-bisnis untuk menopang kekuasaannya.

Dari sektor politik, pembohongan tidak lagi merupakan “barang haram” akan tetapi merupakan suatu keniscayaan, dengan alasan demi kepentingan umat, demi kepentingan partai, ironisnya lagi, demi kepentingan agama, sehingga dalam dunia politik kita, orang yang tidak pandai berbohong tidak akan populer dalam politik, sehingga politik dipandang “najis” di mata umat. Padahal politik dalam Islam (siasah) berfungsi untuk harasatuddîn wa siasatuddunyâ (menjaga agama dan mengatur dunia). Seperti yang dikatakan oleh Al-Mawardi di dalam kitab Ahkam al-Sulthoniah.

18 macam kebohongan pemerintah yang disampaikan oleh tokoh-tokoh lintas agama ke Istana Negara merupakan akumulasi dari kebohongan partai-partai politik di negeri ini, yang mana jika tidak disikapi dengan serius, otomatis akan menghilangkan loyalitas dan kepercayaan rakyat kepada pemimpinnya.

Dari sektor hukum, tidak lagi mendahulukan prinsip-prinsip keadilan, para penegak hukum sudah kehilangan jati diri akibat mafia penegak hukum. Kasus Gayus Tambunan yang menggegerkan negeri ini, tidak dapat dilupakan oleh anak bangsa ini untuk selamanya, dimana seorang napi dapat bebas keluar masuk penjara menghirup udara luar dalam status tahanan. Para penegak hukum menutup mata dengan kejadian ini. Dunia hukum kita tidak ubahnya seperti “dunia binatang”.

Penulis teringat dengan cerita yang dihikayatkan di dalam kitab Kalilah Wadimnah, yang menceritakan seekor induk ayam yang kehilangan anak, ternyata anaknya dimakan oleh seekor burung elang. Induk ayam ingin untuk mendapatkan keadilan lalu melaporkan kasus ini kepada seekor musang. Karena musang diharapkan bisa menjadi hakim dalam persoalan ini, maka musang memanggil burung elang untuk diberi hukuman. Akan tetapi di saat musang mau menjatuhkan hukuman kepada burung elang, elangpun membongkar kasus si musang karena musang pernah memakan induk ayam. Induk ayam berusaha untuk mendapatkan keadilan dari binatang yang lebih berkuasa dari musang, maka iapun melaporkan persoalan kepada harimau, akan tetapi ketika musang dipanggil untuk menghadap ke harimau, persoalan kandas di tangan harimau, di saat musang membongkar kasus harimau, karena ia pernah memakan seekor kambing.

Induk ayam tidak putus asa untuk mendapatkan keadilan, ia pun melaporkan halnya kepada raja hutan yaitu singa. Dengan kegagahannya, sang raja hutan memanggil harimau untuk menyelesaikan persoalan induk ayam, yang akhirnya persoalan juga kandas di tangan raja hutan, di saat harimau membongkar skandal singa yaitu pernah memakan seekor lembu, akhirnya perkara induk ayam dipetieskan dan turunlah instruksi dari raja hutan agar menjaga “ladang” masing-masing.

Terakhir dari sektor agama, kebohongan dalam persoalan ini tampak jelas pada partai-partai politik yang berbasis agama, yang mana seyogianya partai-partai Islam memposisikan diri sebagai partai oposisi sehingga dapat melaksanakan fungsi amar ma’ruf nahi mungkar terhadap pemerintah. Akan tetapi partai-partai Islam sudah berubah haluan, yaitu merebut kekuasaan dan jabatan, akhirnya terjadilah kompromi-komromi yang pada gilirannya kebohongan yang dilakukan oleh pemerintah adalah kebohongan bersama.

Sedemikian mengkhawatirkan pembohongan di negeri ini, sementara tanda-tanda untuk kembali kepada kejujuran belum terlihat, malah sebaliknya, masing-masing berupaya untuk menutup-nutupi kebohongan agar tidak terbongkar, dan akhirnya habis energi bangsa ini untuk menutupi kebohongan karena apabila ada satu kebohongan akan menuntut kebohongan yang lain untuk menutupinya, berikutnya kebohongan baru itu pun menuntut kebohongan yang lain pula untuk menutupinya.

Begitulah seterusnya, sehingga berderet kebohongan-kebohongan, karena untuk menutup satu kebohongan diperlukan lebih dari satu kebohongan, dan akhirnya anak bangsa ini berada dalam “penjara kebohongan” dan sulit untuk melepaskan, terkecuali kejujuran, sebagaimana pepatah Barat mengatakan “The truth will set you free” (kejujuran dapat membebaskan anda). Lalu, pertanyannya, masih adakah orang jujur di negeri ini? Wallahua’lam bil ash-shawab

oleh :NASIR
salam dialog

Ditandai: ,
Posted in: agama, Budaya, Hukum