SBY, Antara Gaji dan Buku

Posted on 4 Februari 2011

0


kompas.com

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dengan nada bercanda mengeluhkan gajinya tidak pernah naik selama 7 tahun terakhir. Hal ini disampaikan dalam pidato pada Rapim TNI dan Polri di Balai Samudera, Kelapa Gading, Jakarta Utara, Jumat (21/1/2011). SBY berujar, “Sampaikan ke seluruh jajaran TNI/Polri, ini tahun ke-6 atau ke-7 gaji Presiden belum naik,”

Keluhan SBY ini bukan yang pertama kalinya atau selama SBY menjabat presiden sudah dua kali memberi pernyataan seperti ini, yang pertama kali terjadi pada tahun 2009. “Gaji SBY belum pernah naik selama lima tahun terakhir ini. Tidak apa-apa,” kata SBY pada acara silaturahmi dengan para guru peserta program peningkatan kemampuan guru di Surabaya, Jumat 4 April 2009 di Surabaya.

Pada saat pertama kali SBY mengeluhkan gaji ini yang disampaiakan secara bercanda tidak terlalu mendapat perhatian dan sorotan baik dari publik maupun media, namun pada keluhan yang kedua baru-baru ini cukup menyedot perhatian publik dan media. Di Gedung DPR sana sampai ada aksi pengumpulan koin buat presiden yang kemudian diikuti secara demonstratif dilakukan di jalan-jalan seperti aksi pengumpulan koin yang akan disumbangkan pada saat kasus prita mencuat. Peristiwa ini sebenarnya hanya dampak dari kondisi semakin banyaknya permasalahan hukum terutama persoalan korupsi yang mencuat ke permukaan yang sampai saat ini publik melihat ketidakjelasan dan ketidaktegasan di dalam penyelesaiannya, malahan terlihat adanya tembok kekuasaan yang membuat segala persoalan tersebut menjadi semakin rumit dan kompleks. Apalagi SBY pernah memberi pernyataan untuk tampil di depan, berjihad, menumpas para koruptor dan mafia hukum. Alih-alih hal ini akan dilakukan SBY, tiba-tiba SBY berkeluh soal gaji yang diterimanya.

Tidak ada yang salah SBY bersoal dengan gajinya, namun secara moral dan etika sepertinya SBY tidak rela dengan apa yang diterimanya padahal dana taktis kepresidenan mencapai 2 milyar per bulan. Saya kira semua orang percaya dengan dana taktis sebesar itu, mana sempat gaji presiden sebesar 82 juta lebih perbulan itu akan dibelanjakan lagi. Hasilnya publik mungkin akan menyindir, “siapa suruh mau jadi presiden, dua kali pula.” atau, “tapi katanya lanjutkan…………..”.

Sorotan publik atas sikap SBY ini juga tidak bisa disalahkan, makanya dikatakan tidak etis, karena pernyataan itu melahirkan multitafsir. Tanggapan dijajaran kabinet juga demikian, Pak Sudi mengatakan itu bukan keluhan tapi sekedar perbandingan saja, demikian pula Pak Hatta berkata bahwa SBY tidak pernah curhat soal itu, namun disisi lain Menkeu malah berniat akan menaikkan gaji presiden.

Yang salah barangkali SBY tidak melakukan perbandingan yang proporsional, atau SBY khilaf di dalam membangun pencitraan, tega banget SBY membandingkan gajinya yang tidak pernah naik dengan gaji para tentara, Polri dan para guru yang besarannya sangat jauh sekali dibandingkan dengan gaji SBY. SBY sebulan gajian bisa membeli rumah type 36, sedangkan tentara dan guru serta Polri mungkin mereka harus mencicil selama 10 tahun baru bisa memilikinya.

Filosofi uang, “sedikit juga cukup banyak juga habis,” artinya berapun besaran gaji yang diterima seorang pegawai pemerintah tidak akan pernah merasa cukup dan terpuaskan. kenapa dan mengapa, karena perilaku korupsi masih merajalela dan setiap pegawai selalu terobsesi untuk melakukan itu jika terdapat kesempatan.

Secara intrinsik pernyataan SBY soal gajinya ini juga semakin menguatkan bahwa SBY sangat fokus di dalam politik pencitraan atau dengan kata lain menurut budayawan Emha AN, SBY lebih fokus memikirkan dirinya daripada memikirkan rakyatnya. Dalam konteks ini pulalah dapat dipahami mengapa 10 judul buku seri SBY nyasar ke sekolah-sekolah SD dan SMP, padahal buku-buku ini lebih layak menjadi konsumsi kalangan kampus. Ironinya peredaran buku ini malah menggunakan dana alokasi khusus, tentunya kejadian ini sepengetahuan dengan jajaran di kementrian pendidikan.

Sepuluh judul buku seri SBY itu yakni “Berbakti Untuk Bumi” dengan jumlah halaman 234 halaman, “Merangkai Kata Menguntai Nada” 126 halaman, “Menata Kembali Kehidupan Bangsa” sebanyak 182 halaman, “Indahnya Negeri Tanpa Kekerasan” sebanyak 224 halaman,

Kemudian buku berjudul “Peduli Kemiskinan” sebanyak 244 halaman, “Diplomasi Damai” 252 halaman, “Adil Tanpa Pandang Bulu” tebal buku 200 halaman, “Jendela Hati” 242 halaman, “Jalan Panjang Menuju Istana” 220 halaman “Memberdayakan Ekonomi Rakyat Kecil” tebal buku 192 halaman.

Jika dikatakan ini untuk pengkayaan, sebenarnya masih lebih banyak buku-buku yang dibutuhkan dan layak bagi anak-anak SD dan SMP yang bermuatan science, seni, dan sastra.

Jangan-jangan seperti celoteh teman saya, SBY lagi mencari tambahan penghasilan dari royalti buku-bukunya yang terjual, maklum gajinya sudah 7 tahun tidak pernah naik, sementara laju inflasi semakin menanjak dan harga barang-barang dan sembako juga melambung tinggi. wallahualam.

Ditandai: , , ,
Posted in: Budaya, Hukum, Politik