Saat Mbah Merapen Ikut Bicara

Posted on 18 November 2010

0



Maafkan aku, Merapi
(Setelah pulang dari Jogja)

Maafkan aku Merapi,
Dia tidak mengerti. Aku juga tidak mengerti.
Mengapa cinta tidak bisa diberi.
Mungkin orang seperti aku dan dia merusak bumi
yang kami pijak dan mengotori
dengan segala cinta, keterpaksaan, dan duniawi

Mungkin ketika mereka meminta benda-benda gaib berterbangan ke sana-ke mari untuk dipakai sebagai jampi-jampi,
“Beri kekuasaan, beri kami harta, beri perempuan, beri pria, beri itu ini…”
Kamu menangis, Merapi.


Tertegun aku di sini,
melihatmu mulai akan menyemburkan api
Tolong jangan, jangan Merapi
jangan lukai kami
terimalah terimalah persembahan kami untuk bumi
maafkan maafkan kami
sampah yang kami buang, sampah juga di dalam hati.

Kembali pada cinta, Merapi
kegaiban cuma milik Sang Gusti
dan alam menyimpannya rapi-rapi
sehingga aku berlutut dan menyerah diri
“Ia telah meminta untuk dicintai. Orang lain mengguna-guna karena tidak bisa mencintai. Sementara aku mencintai, tapi dibenci orang di sana-sini. Dan aku akhirnya menyendiri. Ia dikunci. Kekasih hati tidak peduli.”


Duh Gusti,
sabarkan Merapi
apalah artinya mati?
jika masih banyak juga yang tidak peduli?
sementara aku sudah berperang melawan mereka, seorang diri.
tapi Gusti dan Merapi,
aku tahu telah mendapat teman sejati.

Duh aduh Gusti,
katakan pada Merapi
aku sendiri telah menyimpan cinta walau inginnya jadi api
karena cinta mendidih setelah merasa dikhianati
(“Sabar, sabar, Nduk. Wong sabar dikasihani. Kamu dan dia akan menjadi dekat karena Gusti. Sabar. Sementara orang-orang yang meminta duniawi? Oh, mereka akan ‘mati’.”- kata guru yang tinggal di kaki Merapi.)


Sabar, sabar, duh Merapi
sabarlah bersama aku di sini.
(Ketika keluarga Niken mengadakan pengajian, aku rasa mereka ikut memintamu, Merapi. Agar jangan mengeluarkan api. Hingga kami mati.)


MERAPI

Semalam kau
menggeliat hebat
mencoba mengeluarkan isi perutmu
yang telah penuh
getaranmu
menggetarkan semuanya
bahkan isi dada ini
mulutku yang biasa berteriak pongah
kini terdiam seribu bahasa
dan yang tersisa hanya
do’a yang berkepanjangan


ku tahu
kau hanya melakukan
takdir yang harus kau jalani
untuk tetap menjaga
bumi ini berdiri tegak
menjadikan tanah tempat ku berpijak
dapat ditumbuhi lagi
walau
itu buatku terpuruk
dan berlari ketakukan
melihat langit malam gelap


penuh debumu
mendengar teriakanmu yang
memekakkan telinga
kini
banyak kudengar
alunan do’a memuji kebesaran-NYA
karenamu
kulihat banyat hati melembut
dan menyatu
yang biasa bercerai berai
karna kepentingan


yang tersisa
dari semuanya
akan buatku bangkit
untuk meneruskan langkah hidup
yang belum usai dijalani.


Merapi

Sejukmu,
heningmu,
kesahajaanmu,
selalu menyita rinduku.

Tiada jumawa,
walau perkasa,
hangat menyambut,
para perindu kedamaian.


Murkamu,
membawa pilu,
ada air mata di sana,
ada pula dukaku di sini.

Kembalilah sejukmu,
kembalilah heningmu,
kembalilah sahajamu,
jangan murka lagi, Merapi.

***

Sumber PUISI: Bencana Alam dan “Pray for Indonesia” » Catatan Sawali Tuhusetya http://sawali.info/2010/10/31/merapi-dalam-sajak-sebuah-kesaksian-intuitif/#ixzz15cpTBaEc
Under Creative Commons License: Attribution Non-Commercial Share Alike