Tanah Melayu Induk Peradaban Manusia Modern

Posted on 21 Oktober 2010

0


Lagi-lagi momen bersejarah bagi bangsa Indonesia. Pada momen Hari Sumpah Pemuda Nasional yang jatuh setiap 28 Oktober 2010, Indonesia mendapat hadiah terindah. Hadiah tersebut adalah kemunculan buku Eden In The East karya Prof. Dr. Stephen Oppenheimer, seorang ahli genetika & struktur DNA manusia dari Oxford University, Inggris.

Apa istimewanya buku tersebut bagi bangsa Indonesia ? Adalah teori nya yang begitu mendunia dan dikenal sebagai Oppenheimer Theory yang dengan tegas menyatakan bahwa nenek moyang dari induk peradaban manusia modern (Mesir, Mediterania dan Mesopotamia) adalah berasal dari tanah Melayu yang sering disebut dengan sunda land.

Eden In The East mendasarkan kesimpulannya kepada penelitian yang dilakukan selama puluhan tahun. Dokter ahli genetik dengan struktur DNA manusia tersebut melakukan riset struktur DNA manusia sejak manusia modern ada selama ribuan tahun yang lalu hingga saat ini. Guru Besar dari Oxford University ini menguasai filosofi pendekatan dasar yang digunakan disiplin keilmuan kedokteran, geologi, linguistik, antropologi, arkeologi, linguistik, folklore.

Lebih lanjut, Prof. Dr. Stephen Oppenhenheimer yang menjadi peneliti ahli sekaligus penulis tetap Oxford Science Review tersebut dan juga telah menulis The Origin Of The British (Asal Mula Nenek Moyang Orang-Orang Inggris) menegaskan bahwa orang-orang Polinesia (penghuni Benua Amerika) bukan berasal dari Cina sebagaimana yang terpampang dalam setiap teks sejarah buku pelajaran, melainkan dari orang-orang yang datang dari dataran yang hilang dari pulau-pulau di Asia Tenggara. Penyebaran kebudayaan dan peradaban tersebut disebabkan “banjir besar” yang melanda permukaan bumi pada 30.000 tahun yang lalu. Hal tersebut diperkuat oleh catatan-catatan cerita masyarakat Asia Tenggara yang banyak sekali tersimpan di museum purbakala mengenai banjir besar di periode tersebut.

Tidak berhenti sampai di situ, Oppenheimer yang teori nya didukung oleh scientist dari Oxford University dan Leeds University tersebut mengatakan bahwa budi daya bercocok tanam /penanaman padi pertama kali bukan berasal dari Cina atau India melainkan penduduk di semenanjung Malaya pada 9000 tahun yang lalu. Teori penyebaran budaya dan peradaban dunia yang berasal dari tanah Melayu tersebut bahkan dikuatkan oleh riset tahunan yang dilakukan Dr. Joanna Nichols yang berakhir pada kesimpulan besar, bahwa arus migrasi besar-besaran dunia berasal dari masyarakat Semenanjung Melayu menuju Cina selanjutnya menyebar ke tempat lain bukan sebaliknya sebagaimana teori yang menyebutkan bahwa nenek moyang Asia Tenggara berasal dari Cina.

Temuan tersebut memperkuat buku lain yang telah muncul sebelumnya Atlantis, The Lost Contiennt Finally Found karya Prof. Arysio Santos dengan sejumlah argumentasi ilmiah yang juga melakukan pendekatan dari berbagai disiplin ilmu. Baik Prof. Arysio Santos dan Prof. Dr.Stephen Oppenheimer memperlihatkan dengan jelas bagaimana sebuah pendekatan multi disiplin sangat penting digunakan untuk merekontruksi sebuah missing link yang hilang dalam sejarah peradaban manusia modern.

Pada bulan Oktober 2010, seiring dengan Hari Sumpah Pemuda, tim ekspedisi Atlantis Prof. Arysio Santos dan Prof. Dr. Stephen Oppenheimer akan tiba di Jakarta. Kedatangan dua tim tersebut—tentu—sangat istimewa mengingat mereka—sebagai orang luar Indonesia—telah membantu Indonesia dan Dunia merekontruksi dari mana mereka berasal. Kedatangan mereka juga sangat istimewa mengingat banyak sekali pertanyaan-pertanyaan yang berkembang di Indonesia mengenai kebenaran Indonesia sebagai pusat peradaban dunia. Sebagian kecil masyarakat Indonesia mungkin bingung dan meragukan. Toh nyatanya, kebingungan dan keraguan tersebut perlu dihadapkan pada ahlinya yang memiliki deret bukti panjang yang dibawa dengan susah payah ke tanah air.

Tim ekspedisi Atlantis Prof. Arysio Santos akan ditemani dengan kehadiran tim ahli lapangan, Rose Berekofen dan Hans Berekofen, yang selama lebih dari 15 tahun terakhir telah menyusuri Semenanjung Melayu (Indonesia, Malaysia dan Singapura) untuk mengumpulkan bukti-bukti lapangan yang menunjukkan bahwa pusat peradaban dunia terkubur di bawah puluhan meter permukaan tanah Semenanjung Melayu.

Pada 28 / 29 Oktober 2010, Ufuk Publishing House bekerjasama dengan Universitas Indonesia dan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) akan memberikan kesempatan kepada masyarakat Indonesia bertemu langsung dengan tim Atlantis Prof. Arysio Santos dan Prof. Dr. Stephen Oppenheimer di Jakarta. Acara yang akan terbuka untuk umum tersebut tentu akan sangat berharga di momen yang berharga tersebut. Kami secara terbuka mengundang Anda untuk hadir pada acara tersebut.

Bukankah sebagai bangsa besar kita harus bersikap besar pula dalam memberikan respon terhadap penemuan besar yang akan berpengaruh besar pada kehidupan dunia ?
Muhammad Sadan

Sumber : http://ahmadsamantho.wordpress.com/2010/10/19/diskusi-atlantis-sunda-land-dan-eden-in-the-esat-di-gedung-lipi-28-oktober-2010/