Buku PBDI, Pak Beye dan Inu

Posted on 4 Agustus 2010

4


Mas Inu bersama karyanya

Buku PBDI, Pak Beye dan Istananya bisa dipelesetkan menjadi Pak Beye dan Inu, karena Wisnu Nugroho dipanggil Inu salah satu jurnalis yang ngepos di istana negara yang mau menorehkan tulisan-tulisan detil dan tidak penting terhadap beberapa perilaku dan fenomena SBY dengan istananya, tulisan tidak penting ini ternyata membuat sesuatu yang terkait dengan itu malah menjadi semakin penting.

Panelis bedah buku dengan Moderator Tina Talisa

Satire Mas Inu ala wong java jogja, kritis, menggelikan dan mengundang senyum bagi yang memahami arus isu utama yang sedang dibahas. Menurut Effendi Gazali (Pakar Komunikasi) salah satu pembedah buku dalam acara grand launching ini, seharusnya lebih heboh dari buku Gurita Cikeas, tajam dan divisualisasikan dengan foto-foto jepretan mas Inu yang katanya berasal dari kamera pinjaman kantor. Namun menariknya buku ini yang merupakan tulisan kompilasi dari blog kroyokan Kompasiana hanya bisa dipahami jika si pembaca minimal sedikit mengetahui liku-laku perjalanan politik SBY bersama keluarganya dan kroninya. Satire hanya bermakna ketika kita tahu apa yang sebenarnya terjadi dibalik itu, saat itulah kita paham bahwa itu sebuah kritikan tetapi mengundang senyum saat membacanya.

Seorang Peserta sedang menanggapi PBDI

Linda Djalil, mantan wartawati selama 23 tahun dan juga pernah ngepos di istana seperti Mas Inu di jaman Pak Harto, menyebut buku ini sangat nakal, kata nakal biasanya memang tidak berkonotasi pembangkangan, tetapi Mbak Linda yang juga tampil sebagai salah satu pembedah buku menggambarkan bagaimana kebebasan itu bisa dimiliki Mas Inu dibandingkan di jaman Pak Harto, tentu buku-buku seperti ini tidak akan pernah ada.

Foto bareng kompasianer

Salah satu peserta yang hadir sempat menanyakan kenapa buku ini tampil sederhana dengan cover yang hanya hitam putih, kalau saja tampil berwarna tentu akan lebih menarik, padahal menurut penjelasan penerbit itu terkait soal marketing saja, agar murah dan laris dipasaran serta pesan bisa sampai kepada banyak orang.

Tetapi apa jawaban Mas Inu di depan peserta ?, “Apakah SBY menarik …..?,” pertanyaan ini mengundang senyum dan tawa di beberapa peserta.

Secara keseluruhan isi buku ini memang sampai pada kesimpulan seperti statment Mas Inu itu, dan Mas Inu tidak memberikan jawaban atas pernyataannya itu sendiri, artinya buku ini kembali kepada si pembaca untuk memilih apakah menarik atau tidak. Yang suka SBY maupun tidak suka tetapi suka mengamati SBY tentu buku ini tidak bisa dilupakan saja, layak untuk dibaca, renyah, sederhana dan mudah dipahami. yang suka apalagi, patut membacanya dan menurut Effendi Gazali buku ini layak di baca bagi mahasiswa komunikasi dan politik, suatu pola komunikasi kritis tetapi tidak sampai melukai.

Foto bareng kompasianer dengan pak admin

Bagi yang masih penasaran dengan kelanjutan buku ini, tenang, editor buku sang penggagas dan ‘provokator’ Kompasiana ini sudah menyiapkan tiga seri buku cerita selanjutnya dengan tema-tema yang berbeda, artinya bagi para Kompasianer masih ada lagi tiga event grand launching ke depan yang akan dilaksanakan, jadi yang belum sempat datang, boleh datang di kesempatan lain.

kompasianer kang asep aksi bersama tina

Akhir cerita, ternyata acara seperti ini juga menjadi acara kopdar bagi para kompasianer, kangen-kangenan, say hello, dan saling bersapa, “ini toh orangnya yang namanya ini…!!!!”.

foto bareng kompasianer bersama tina

Tak pelak lagi setelah acara selesai, apalagi kalau bukan aksi foto bersama terutama sesama kompasianer. Moderator di acara ini Tina Talisa Juga cukup memikat, malah jadi sasaran ingin berposes bersama, saya pun tergoda untuk itu, hehehehh…

salam dialognol

Posted in: Budaya, Peristiwa