Seks Karena Cinta, Itu Bohong Belaka

Posted on 18 Mei 2010

5


“Semakin besar cinta Anda kepada Tuhan maka semakin besar
rasa kasih sayang Anda kepada sesama mahluk dan alam semesta.”

Apakah yang kita maksud dengan cinta ?

Cinta dikenal dan dirasakan serta dapat diungkap di semua pola-pola kebudayaan manusia, jika kita membuka kamus atau mempelajari defenisi cinta menurut pendapat berbagai ahli, maka ribuan penjelasan yang akan kita temukan, seperti itu pula rumitnya ungkapan perasaan cinta baik menyangkut subjek dan objeknya maupun tujuan yang ingin dicapai.

Sedikit membantu berikut ini saya kutip pemahaman cinta dari sumber wikipedia :
Cinta adalah sebuah perasaan yang ingin membagi bersama atau sebuah perasaan afeksi terhadap seseorang. Pendapat lainnya, cinta adalah sebuah aksi/kegiatan aktif yang dilakukan manusia terhadap objek lain, berupa pengorbanan diri, empati, perhatian, memberikan kasih sayang, membantu, menuruti perkataan, mengikuti, patuh, dan mau melakukan apapun yang diinginkan objek tersebut.

Ungkapan cinta mungkin digunakan untuk meluapkan perasaan seperti berikut:
1. Perasaan terhadap keluarga
2. Perasaan terhadap teman-teman, atau philia
3. Perasaan yang romantis atau juga disebut asmara
4. Perasaan yang hanya merupakan kemaluan, keinginan hawa nafsu atau cinta eros
5. Perasaan sesama atau juga disebut kasih sayang atau agape
6. Perasaan tentang atau terhadap dirinya sendiri, yang disebut narsisisme
7. Perasaan terhadap sebuah konsep tertentu
8. Perasaan terhadap negaranya atau patriotisme
9. Perasaan terhadap bangsa atau nasionalisme

Begitu besarnya dan dalamnya makna, ungkapan dan perasaan cinta, terutama terkait kisah romatisme asmara sepasang kekasih (laki vs perempuan) sehingga ribuan kisah sinetron, cinema, novel tak habis-habisnya membuat sekuel yang mengharu biru hati manusia dalam suka dan duka sampai meneteskan air mata. Namun jangan heran kalau kisah kaum lesbian dan homoseksual juga menyebut hubungan mereka atas dasar cinta.

Drama-drama kolosal atau berbagai cerita cinema, alur cerita akan terasa hambar jika tidak dibumbui oleh kisah romantisme asmara. Anda mungkin menyukai kisah petualangan misi spionase James Bond, namun dibalik itu anda akan lebih menikmati kisah tersebut karena adanya bumbu asmara perilaku play boy si jagoan James Bond.

Perasaan cinta kemudian menjadi semakin dashyat jika untuk itu nikmat seks kemudian bercampur menjadi satu. Pada abad 21 ini evolusi ungkapan perasaan cinta sudah nyaris berkonotasi seks. Anda mengajak seorang bercinta, maka setidaknya minimal sudah terbersit di libido anda tentang nikmat seks.

Saat ini begitu banyak remaja-remaja kita yang hamil diluar nikah, melakukan aborsi, atau tidak virgin lagi alias mengalami kecelakaan. Semua terjadi karena alasan saling mencintai, dimabuk cinta.

Selain itu hubungan pasutri yang harmonis dan langgeng agar cintanya tetap terpelihara, maka sejumlah terapi seks, eksplorasi persetubuhan pasutri telah dijadikan sandaran, demi kepuasan meraih cinta sehidup semati dengan pasangannya.

Namun benarkah, hubungan seks itu terjadi karena dilandasi hubungan cinta…?

Jawabnya bukan bisa ya, bisa tidak tetapi bohong belaka. Cinta ya cinta, seks ya seks, tetapi seks yang dilakukan karena ada rasa cinta, itu memang benar dan lebih nikmat, tidak soal apakah hubungan itu syah atau tidak. Malah hubungan seks itu lebih nikmat kata peselingkuh dan yang lagi jatuh cinta dimabuk asamara, apalagi para pelanggan jajanan seks.

Salahkah arti makna cinta itu ? atau mungkin kita perlu menemukan makna sejati kemuliaan dan kesucian makna cinta.

Jika kita percaya ungkapan perasaan cinta itu adalah energi yang luar biasa seperti yang disimbolkan dengan gambar hati, seharusnya rasa cinta itu adalah ungkapan universal, abadi dan sejati, tidak berawal dan tidak berakhir, tak lekang oleh panas dan tak lapuk oleh hujan, maka sebenarnya objek cinta itu bukanlah sesuatu yang duniawi, bukan pula untuk sesama mahluk baik lawan jenis maupun sesama jenis. Karena cinta seperti yang kita pahami selama ini bermakna duniawi lebih menjurus ke arah yang menyesatkan.

Apapun latar belakang budaya manusia, agama, keyakinan, kepercayaan bahkan yang atheis sekalipun semua mengenal (tahu ada) Tuhan. Demikian pula pada saat yang sama juga mengenal rasa cinta.
Dalam kitab orang muslim dikatakan,” tidaklah dikatakan seorang beriman jika lebih mencintai yang lain dibanding kepada Tuhan dan Rasulnya.”.

Sederhananya bahwa cinta itu objek dan subjeknya hanya kepada Tuhan, cinta itu sejati dan hanya Tuhan yang sejati, jika cinta selain itu maka tunggulah malapetaka akan menimpa.

Jika Anda mengenal Asmaul Husna, sifat dan nama Tuhan ada 99, lalu yang ke-100 itu apa ?

Jawabnya sederhana, tidakkah itu ‘cinta’ (mahabbah), manusia yang mengenal konsep cinta ini, itulah para pencinta, karena makna cinta itu adalah penyerahan diri, kepada Tuhan saja Anda layak berserah diri.
Mana mungkin rasa kasih dan sayang itu tumbuh di dalam sanubari manusia, jika tidak ada cinta kepada Tuhannya, karena sang pencipta itulah pemberi kasih dan sayang.

Anda ingin lebih disayangi oleh pasangan anda atau siapa saja yang anda harapkan dan Anda ingin lebih mengasihi dan menyayangi mereka, maka perdalamlah rasa cinta Anda kepada Tuhan yang Anda yakini. Wallahualam.

Salam dialog

Ditandai: , ,
Posted in: Paradigma Satu