Partai Demokrat, Antara SBY, AM, dan AU

Posted on 18 Mei 2010

0


Tersisa 2 hari lagi Kongres Nasional PD akan diselenggarakan, 21-23 Mei di Kota Bandung, jika tidak ada perubahan scenario, terdapat 3 kandidat calon Ketum akan maju; Anas Urbaningrum (AU), Andi Alifian Mallarangeng (AM) dan Marzuki Ali (MA).

Analisis dan anasir politik terhadap suksesi di tubuh PD ini bisa dianggap tidak terlalu menarik karena faktor SBY sebagai penentu masih dianggap terlalu kuat dibandingkan strategi, mungkin visi dan misi yang dikampanyekan ke tiga kandidat untuk meraih pemilih menuju kemenangan. Namun bisa saja ada kemungkinan lain, walaupun dianggap mustahil, bahwa SBY hanya sebatas merestui pencalonan ke tiga kandidat, selebihnya terserah kepada Pimpinan DPC, DPD, dan DPD untuk menentukan pilihannya secara demokratis. Ataukah memang saat ini para kandidat hanya memikirkan, kemanakah gerangan keputusan SBY untujk memilih salah satu diantara mereka, seperti di jaman Orba saat pemilihan Ketum Golkar para kandidat tidak memikirkan siapa-siapa yang akan memilih mereka tetapi hanya berpikir siapakah yang akan direstui oleh Soeharto.

Suksesi PD kali ini dianggap memiliki posisi strategis, karena sebagai partai yang pertama kali menjadi pemenang pemilu para kadernya memiliki beban moral bagaimana mengatur strategi ke depan menjelang pemilu 2014, setidaknya posisinya tidak berubah seperti sekarang. Strategi pemenangan tentu sangat berbeda dengan Pemilu 2009 karena faktor SBY sebagai incumbent masih power hegemoni di dalam meraih kemenangan, sementara di tahun 2014 kekuatan SBY mungkin tidak ada lagi atau mana tahu SBY hanya bertahan sampai di 2011 seperti yang diramalkan oleh Permadi. Inilah mungkin peer berat bagi politisi PD bisakah mereka berjaya kembali tanpa faktor SBY.

Saat deklarasi para kandidat, sesuai urutan deklarasi, AM dan AU yang mendapat dukungan lebih banyak dan sekali lagi jika tidak ada perubahan scenario, kedua kandidat inilah nanti yang akan muncul sebagai salah satu Ketum PD, baik karena factor SBY maupun tidak.

Terlepas dari faktor SBY dan rekam jejak PD selama pemerintahan SBY jilid 2 ini, mungkinkah ada perubahan menarik dunia politik Indonesia dengan munculnya ke dua tokoh muda ini AM dan AU dalam kancah politik nasional di tanah air. Kedua tokoh muda ini bisa dianggap mewakili generasi baru politisi nusantara, menguatkan semakin maraknya politisi muda yang sudah ada selama ini di berbagai partai politik lain.

Gambarannya bahwa kedua tokoh ini saat pemerintahan jaman Orba, AM dan AU masih sibuk menempuh studi. Saat studi keduanya menjadi aktivis kampus yang selalu mengkritisi pemerintahan rezim Soeharto. Karir politik pun mulai mereka rintis pasca jatuhnya Orba atau disebut jaman reformasi, keduanya sama-sama pernah menjadi anggota KPU, sama-sama kader organisasi extra kampus yang paling disegani, HMI. Para kader HMI sejak dulu percaya bahwa ada dua kolaborasi kekuatan yang bisa melakukan perubahan karena kemampuan militansi mobilisasi massa yang massif yaitu HMI dan militer. Dengan kata lain keduanya baru melek politik benaran sejak tahun 2000an dan dapat disebut angkatan 90-an.

Keduanya juga politisi sipil dengan latar belakang pendidikan yang tidak diragukan, sama-sama menempuh studi S3 politik, bedanya AM sudah selesai dan diambil di luar negeri, sedangkan AU masih kandidat studi S3 di dalam negeri.

Sementara kalangan para pengamat berpendapat, walaupun keduanya tokoh muda dan mewakili generasi baru, namun karena kedekatannya dengan kekuasaan saat ini, masih melihat pesimis, bahwa ini cuma ganti chasing aja, seperti politisi muda lain tapi gaya dan pemikirannya masih jadul alias jaman orba.

Dari segi usia AM dan AU memang cukup muda untuk menjadi politisi kawakan dan bisa dianggap mewakili era pergantian generasi perpolitikan tanah air dan memotong siklus generasi penerus jaman Orba, jika keduanya mampu memainkan politik cantik yang lebih menjunjung azas moralitas dan azas penegakan hokum yang lebih berkeadilan serta menjadikan tahun ini hingga 2014 merupakan era transisi menuju Indonesia baru dan tatanan baru. Jika tidak barangkali kita perlu menunggu pasca Indonesia merdeka 100 tahun. Wallahualam.

Salam dialog

Posted in: Politik