Kenapa SBY Memilih Andi Mallarangeng (2)

Posted on 17 Mei 2010

0


Tinggal beberapa hari lagi kongres/musyawarah nasional Partai Demokrat akan diselenggarakan di Kota Bandung, tepatnya tanggal 21-23 Mei yang dihadiri kurang lebih 1200 orang politisi PD dari DPC, DPD dan DPP, selain itu tentu para penggembira yang turut meramaikan pesta demokrasi ini.

Sampai saat ini masih terdapat 3 kandidat calon Ketum yang akan berlaga yaitu Andi Mallarangeng, Anas Urbaningrum, dan Marzuki Ali. Menurut perkiraan banyak kalangan jika hanya ketiga kandidat ini yang jadi, maka pertarungan pemilihan akan menguat pada perseteruan pemilih antara AM dengan AU, di mana salah satunya akan muncul sebagai pemenang.

Kedua calon ini pula yang mengklaim mendapat dukungan penuh baik dari DPC dan DPD, demikian pula sama-sama mengklaim mendapat dukungan dari Ketua Dewan Pembina PD, SBY. Pesan-pesan kampanye ke dua calon ini pun sama, menyanjung-nyanjung SBY sebagai pendiri PD dan presiden Indonesia yang sudah terpilih dua kali.

Dengan kata lain pesan-pesan kampanye itu menyiratkan bahwa peran SBY masih sangat besar dan sangat signifikan di dalam menentukan nahkoda PD lima tahun ke depan dan mungkin untuk 10 tahun ke depan. Dengan demikian semua strategi pemenangan dan berbagai anasir politik selain itu dianggap absurd dan teriduksi karena ujung-ujungnya akan kembali ke tangan SBY sebagai penentu siapa yang akan terpilih nanti. Memperkirakan munculnya kandidat lain atau bisa saja kemudian Marzuki Ali jadi pemenang, why not..?, toh..semua kembali pada pertimbangan-pertimbangan dan tujuan yang ingin dicapai oleh SBY baik untuk mengamankan pemerintahan kabinet sekarang ini maupun terkait suksesi pemilu di tahun 2014 dan keberlangsungan PD di pemilu 2019.

Sebagai pendiri PD wajar SBY memikirkan itu, selain memikirkan keberlangsungan partai sebagai pemenang pemilu, hal ini juga terkait masa depan dua putra mahkotanya yaitu Ibas yang saat ini sudah menjadi Politisi teras PD dan Agus, abang Ibas yang saat ini berkarir di militer dan sedang menempuh studi magister Kebijakan Publik di Harvard University.

Nah, siapakah yang dianggap SBY mampu mengamankan dan membawa misi pemikiran SBY itu, maka itulah kandidat yang jadi pilihan SBY di kongres nanti, Kota Bandung.

Kecenderungan yang dapat dibaca bahwa SBY akan memilih AM sebagai Ketum PD lima tahun mendatang, Ibas yang menjadi tim sukses AM tentu tidak serta merta menjadi pendukung, restu bapaknya tentu ada. Demikian pula kehadiran para menteri dari Politisi PD saat deklarasi AM karena sudah membaca sinyal itu.

Pertimbangan lain SBY tidak memilih AU dan Marzuki, AU sebagai ketua fraksi PD dan marzuki sebagai Ketua DPR dapat dianggap gagal di dalam mengembangkan loby politik di dalam memanage koalisi partai di parlemen, sehingga SBY perlu menunjuk Aburizal Bakri Ketum Golkar untuk memimpin koalisi, walaupun alasannya dialah yang senior diantara para pimpinan partai koalisi SBY.

Mundurnya Menkeu Sri Mulyani seperti diungkapkan pernyataan AU bahwa itu membawa angin sejuk bagi pemerintahan SBY dan kondisi politik di DPR sedikit mencair yang sempat memanas terkait kasus yang ditangani Pansus Century. Faktor ini juga menjadi celah SBY menunjuk AB menjadi pimpinan/ketua harian partai koalisi SBY, dalam pengertian lain SBY sudah membenahi kondisi dan peta kekuatan para politisi di DPR terutama terkait dengan para koalisinya.

Akan halnya tindak lanjut pengusutan hasil rekomendasi DPR terhadap kasus Bank Century, kemungkinan besar akan berkesudahan seperti kasus BLBI, itulah transaksi bargaining politik yang saat ini terjadi.

Setelah membenahi koalisi di parlemen kini kembali SBY membenahi kandangnya sendiri, dengan menentukan pilihannya siapa yang akan menahkodai PD . Untuk persoalan ini SBY nampaknya lebih percaya kepada AM, percaya dalam arti kata AM lebih mampu menafsirkan, mengimplementasikan dan merealisasikan pikiran-pikiran SBY. Kepercayaan itu tumbuh saat AM menjadi jubir SBY, yang kemudian dipercaya menjadi salah satu menterinya. Rasa percaya SBY kepada AM sudah menjadi kedekatan secara personal, ibarat sudah menjadi lingkup keluarga, sehingga tidak ada jarak di dalam membahas berbagai persoalan.

Soal loyalitas AM kepada SBY juga tidak diragukan lagi, hal ini dapat dilihat dari kemampuan Fox Indonesia yang ditukangi trio Mallarangeng, memanege kampanye pemilu dan Pilpres sehingga PD mampu menjadi pemenang dan SBY terpilih kembali dalam satu putaran. Malahan saat kampanye Pilpres di Kota Makassar di mana SBY tidak hadir dipercayakan kepada AM dan AM melontarkan pernyataan bahwa belum saatnya orang Bugis menjadi presiden.

Faktor lain selain beberapa hal di atas, bahwa selama ini Ketum PD tidak memainkan peran yang strategis, mungkin karena kuatnya hegemoni SBY dan mungkin juga karena kemampuan politik yang dimilikinya terbatas. Sehingga SBY membutuhkan figur di mana hegemoninya tetap ada sebagai dewan pembina plus Ketum PD yang mampu menjadi daya kohesif bagi partai-partai lain terutama dari partai koalisi.

Siapakah itu dan siapakah dia….? Bagi kita, yah, kembali ke SBY dong, bisa AM, bisa UB, bisa MA, atau bisa yang lainnya, Jadi kita tunggu saja kisah selanjutnya. Wallahualam.

salam dialog

Posted in: Politik