Kritik Atas Bank Dunia dan Bu Ani

Posted on 5 Mei 2010

2


Kabar mengejutkan datang dari Bank Dunia. Sri Mulyani diangkat sebagai managing director di organisasi tersebut. Kinerja sebagai Menteri Keuangan yang cukup handal menjadi salah satu alasan kuat terpilihnya Sri. Inilah keterangan yang dikutip dari Presiden Bank Dunia Robert Zoellick di situs resminya.

Sri Mulyani lahir 47 tahun silam. Bakat ekonom memang dimiliki wanita lulusan University of Illinois Amerika Serikat itu. Gebrakannya bergaung saat ia menjabat sebagai executive director dana moneter internasional (IMF) mewakili 12 negara Asia. Ibu tiga orang anak itu juga merupakan perempuan pertama dari Indonesia yang menduduki posisi bergengsi itu.

Beberapa kali Sri masuk dalam susunan kabinet negeri ini, mulai dari Menteri Negara Perencanaan Pembangunan hingga Menteri Keuangan. Prestasinya makin diakui ketika Emerging Markets menobatkannya sebagai Menteri Keuangan Terbaik Asia tahun 2006. Ia juga terpilih sebagai wanita paling berpengaruh ke-23 di dunia versi Majalah Forbes.

Meski banyak yang mengucapkan selamat, termasuk sby, tapi tak sedikit pula yang mengecamnya sebagai orang yang lari dari tanggung jawab. Jika kebenaran ditegakkan, masyarakat akan tahu apakah Sri berdiri di jalur yang benar atau salah.

Dibalik pemberitaan itu saya juga terkesima, bertanya-tanya karena ditengah-tengah pengusutan bank century dimana sesuai hasil pansus telaah memberi sangkaan atas keterlibatan bu ani. Sekali lagi saya pun bertanya-tanya ada apa dibalik semua ini, apakah memang karena kecerdasan seorang bu ani sehingga dia menjadi pilihan, atau karena faktor lain, anggap saja misalnya konspirasi neoliberalisme, ataukah karena presiden bank dunia itu telah dibesarkan di illinois sehingga memilih bu ani yang menyelesaiakan studi doktornya juga di illinois.

Untuk seusia bu ani dibandingkan dengan eks managing direktor lainnya di bank dunia, bu ani cukup tergolong muda, sehingga tentu menimbulkan pertanyaan besar terkait keterlibatannya di dalam kasus bank century dan juga terkait program neoliberalisme bank dunia di indonesia. Artinya memang bank dunia memiliki kepentingan besar atas peran bu ani agar neoliberalisme dan misi-misi terselubung bank dunia semakin mencengkram di tanah air, bisa dibayangkan jika akhirnya kemudian bu ani memang terbukti bersalah dan harus mendekam di hotel prodeo, tentu kecelakaan dan kesialan besar bagi bank dunia di indonesia.

saya masih akan menulis untuk mencoba mereka ada apa dibalik semua ini, namun pada kesempatan lain saja, melengkapi tulisan sederhana ini berikut saya postingkan gelaran komentar seputar kritik atas bank dunia dan bu ani yang dilakukan oleh seorang kompasianer dalam artikel “Bank Dunia dan Perjuangan SMI” yang ditulis oleh Bprastyo, berikut ini :

Kalau membaca bagaimana permainan Bank Dunia di Indonesia, intrik-intrik Bank Dunia telah menjerat dan mencengkram Indonesia dengan berbagai macam policy, MoU, dan perjanjian-perjanjian lainnya. Bukan satu atau dua tahun Bank Dunia “bermain” di Indonesia, tetapi puluhan tahun, dan negeri kita pun tetap begini-begini saja. Utang ditukar kepentingan dan pinjaman ditukar dengan kemiskinan. Artinya ada harga mahal yang harus dibayar oleh rakyat Indonesia sampai tujuh turunan.

Apakah hanya karena World Bank menunjuk Sri Mulyani sebagai Managing Director lantas Kejeniusan Sri Mulyani di bidang finansial dan ekonomi adalah yang paling jenius di atas orang-orang Indonesia? Apakah pengakuan World Bank itu menjadi justifikasi yang legitimate untuk hal tersebut? World bank atau Bank Dunia adalah bagian dari the global order yang mendominasi sistem perekonomian dunia setelah perang dunia ke II, di mana kapitalisme menjadi pemenang dan semakin merajalela, maka tentunya Bank Dunia akan mensupport orang-orang atau tokoh-tokoh di belahan dunia yang sejalan dengan misi mereka. Lantas apa narasi besar ini bisa menjustifikasi rakyat Indonesia untuk bangga dengan “dicomotnya” Sri Mulyani sebagai bagian dari the global order yang distandarkan oleh mereka? Iya, Sri Mulyani berprestasi, itu kata para pemuja kapitalisme global.

Toh, masih banyak orang-orang Indonesia yang lebih mempunyai kapabilitias melebihi Sri Mulyani dan memiliki integritas tinggi dengan sistem perekonomian Indonesia yang berbasis kerakyatan, meskipun mereka bertentangan dengan Bank Dunia. Jadi apa yang perlu dibanggakan dari sistem yang “mengintimidasi” Indonesia selama puluhan tahun? Mengapa Indonesia tidak bisa membangun sistem perekonomian yang tidak memposisikan bangsa ini dari menjadi “kacung” di negeri sendiri.

Mungkin orang-orang yang mendukung Sri Mulyani untuk segera “minggat” ke luar negeri berpendapat bahwa Sri Mulyani adalah manusia cerdas, jenius yang telah berupaya melakukan perubahan tetapi diperlakukan hina dina dan dihujat sana-sini. Saya katakan pada mereka, orang sekelas Soeharto itu kurang apa melakukan perubahannya bagi negara ini, tetapi ada sisi-sisi di mana rakyat menilai sesuatu hal atau fenomena yang terjadi di birokrasi telah bertentangan dengan rasa keadilan mereka, terutama pada permasalahan-permasalahan di bidang hukum. jadi kenapa harus dikatakan bahwa di Indonesia ini banyak rakyat tidak tahu terima kasih atau berbalas budi atau rakyat Indonesia diibaratkan sekumpulan orang terdiri hanya dari otak-otak yang sok tahu, sok pinter dan omong doang.

Negara ini bukan milik Sri Mulyani seorang, dan seorang Sri Mulyani bukanlah manusia super yang yang paling benar, yang terlindungi dari segala dosa dan kesalahan. yang tidak bisa diadili, yang tidak bisa terjerat kasus. Justru karena Sri Mulyani sama halnya dengan seluruh rakyat Indonesia yang hanya manusia biasa, maka seorang Sri Mulyani bisa saja terjerat atau terlibat dalam skandal Century, dan itu memang perlu pembuktian, makanya jangan sampai kepergian Sri Mulyani ke luar negeri meninggalkan lubang besar menganga pada penyelesaian kasus Century.
Komentar Kupret Elkazhiem

wallahualam

salam dialog

Posted in: Ekonomi, Hukum, Politik