Menjadikan Seks Tak Lagi Tabu

Posted on 1 Mei 2010

0


Judul: Wahai Pemimpin Bangsa!!! Belajar Dari Seks, Dong!!
Penulis: Mariska Lubis
Editor: Andy Syoekry Amal
Penerbit: PT Grasindo (Gramedia Widiasarana Indonesia),
Jakarta 2010
Tebal: (xxi + 136) halaman

SEKS selama ini masih dimaknai dengan begitu dangkal. Ia sekadar pembagian jenis kelamin: lelaki atau perempuan. Bahkan, pada tingkat lebih sempit, seks hanya mengenai teknik perpaduan cinta di ranjang!

Membaca Wahai Pemimpin Bangsa!!! Belajar Dari Seks, Dong!! karya Mariska Lubis, kita akan memperoleh perspektif lebih luas mengenai seks. Urusan yang masih dianggap tabu oleh sebagian orang itu rupanya tidaklah porno sebagaimana dipikirkan.

Buku setebal sekitar 150 halaman itu, sungguh merupakan bahan pendidikan seks yang bermanfaat dibaca. Sebab, ia bukan hanya memperlebar sudut pandang mengenai cara memahami topik itu. Lebih jauh, buku ini memunculkan kesadaran betapa tidak ada yang boleh ditutup-tutupi dari masalah seks.

Ia merupakan kebutuhan dasar mahluk bernyawa: manusia dan hewan. Buku ini mengulas dengan cerdas tetapi jenaka bagaimana binatang juga suka seks. Ada kisah tentang kanguru dan orang utan yang kepergok sedang masturbasi. Malah hewan juga ada yang homoseks! Sepasang singa jantan di Taman Safari, Bogor, pernah kedapatan bermesra-mesraan.

Namun, perilaku seks hewan tentu saja sama sekali berbeda dengan manusia. Binatang lebih sering melakukan hubungan seksual demi perkembang-biakan keturunan dan kesenangan semata. Dan, cuma dibimbing oleh insting.

Sedangkan bagi manusia, seks tidak sebatas itu. Ia dilakukan dengan penuh kesadaran dan dituntun oleh norma-norma yang berlaku di masyarakat. Ruang bidik pendidikan seks, termasuk apa yang dicatat Mariska Lubis dalam buku ini, adalah tentang norma-norma itu. Tetapi, pada saat sama, juga coba merobohkan puritanisme seks salah kaprah yang masih berkembang di masyarakat. ***

SAMPAI sekarang, memberikan pendidikan seks bukanlah perkara gampang. Di tengah masyarakat masih hidup pandangan-pandangan kaku mengenai topik ini. Seks sering disalahtafsirkan sebagai sesuatu yang berbau cabul.

Pendidikan seks juga dianggap mengajari generasi muda teknik bermain seks. Sebuah pengetahuan yang dipercaya bisa dikuasai seseorang secara alamiah. Karena itu, tak perlu ada kampanye terus menerus mengenai perilaku seks yang sehat dan bertanggung-jawab. Pendapat-pendapat keliru semacam ini masih ada di tengah masyarakat Indonesia yang sudah modern.

Kita belum lupa bagaimana dulu kalangan agamawan menentang dengan sengit program Keluarga Berencana (KB) karena dituding menyalahi fitrah manusia. Padahal, program ini bertujuan mengerem laju peledakan penduduk. Setiap anak yang lahir harus sungguh-sungguh berdasarkan perencanaan. Supaya mereka kelak bermanfaat bagi lingkungan, bukan justru menjadi beban pembangunan.

Karena perkara seks dianggap tabu dan cabul, maka topik ini tidak menjadi bahan ajar di sekolah-sekolah. Ia hanya dibahas serba sedikit dalam pelajaran biologi. Itupun sebatas mengenai alat-alat reproduksi. Akibatnya, masyarakat memperoleh pengetahuan yang dangkal, bahkan keliru, mengenai seks.

Remaja dan anak-anak muda kita biasanya mendapatkan pengetahuan tentang seks dari lelucon-lelucon cabul yang beredar di antara mereka. Juga dari bacaan, gambar, dan film porno yang belakangan makin mudah diperoleh, terutama lewat bantuan internet.

Akhirnya, generasi muda kita punya pengetahuan dan persepsi yang keliru tentang seks. Aktivitas seksual dianggap sebagai permainan yang menyenangkan dan tidak boleh dihambat oleh perasaan bersalah, malu, tradisi, dan moralitas.

Ini yang kemudian menghadirkan fakta-fakta memalukan, menyedihkan, dan menggusarkan menyangkut perilaku seks anak-anak muda kita. Seperti berhubungan seks di luar nikah dan kehamilan tak dikehendaki yang menyebabkan menjamurnya praktek aborsi.

Sebagai kebutuhan dasar, seks karena itu sama dengan makanan. Setiap mahluk hidup butuh makan. Orang tahu makanan yang halal dan haram. Makanan halal pun ada yang menyehatkan dan ada yang menimbulkan risiko penyakit. Lalu, ada makanan yang mestinya halal, tetapi diperoleh dengan cara haram. Demikian juga seks. Harus yang halal, mesti yang menyehatkan itu.

Maka dari itu, ihwal tentang seks tidak boleh ditutup rapat, baik atas nama ajaran agama maupun norma sosial. Ia harus dimaklumkan kepada setiap orang. Supaya makin banyak orang tahu yang baik dan buruk menyangkut perilaku seksual. Agar menghasilkan manusia yang bertanggung-jawab terhadap dirinya dan orang lain. ***

SEKS bukan hanya soal pelepasan nafsu lahiriah sepasang manusia. Ia juga bukan sekadar tentang masalah reproduksi. Seks justru esensi dalam kehidupan. Bukan cuma kehidupan pribadi, tetapi merembet ke masyarakat dan negara. Perilaku seksual individu akan mempengaruhi kelompok, bahkan sebuah bangsa.

Buku bergaya bahasa anak muda ini mengisahkan kasus nyaris punahnya sebuah etnis di Amerika Selatan, 15 abad lalu. Penduduk jajahan bangsa Eropa itu hampir mati semua gara-gara diserang sipilis. Mereka tertular penyakit kelamin tersebut dari anak buah Christopher Colombus. Demikian besar dampaknya, kegiatan seksual yang menyimpang dapat memusnahkan sebuah bangsa!

Itu sebabnya, buku ini mengajak setiap orang agar berperilaku seksual yang sehat dan bertanggung-jawab. Supaya berdampak positif bagi dirinya dan lingkungan. Orang yang kehidupan seksualnya tidak bahagia, biasanya akan mengalami gangguan kepribadian. Menjadi mudah marah, tertutup, gampang stres, senang berbohong untuk menutupi kelemahan, dan cenderung suka berkamuflase.

Sebaliknya, mereka yang kehidupan seksualnya bahagia biasanya menjadi pribadi yang menyenangkan dalam pergaulan. Punya kepercayaan diri yang tinggi dan bersemangat, sehingga menjadi manusia produktif. Bisa seperti itu karena kegiatan seksual membutuhkan energi dan menghasilkan energi baru.

Seperti diketahui, energi itu bersifat kekal, ia tidak bisa dibuat hanya dapat diubah menjadi bentuk kekuatan dan materi lain. Ini yang dapat menjelaskan mengapa perilaku seksual seseorang dapat mempengaruhi orang lain, bahkan sebuah bangsa.

Karena itu pula, para pemimpin bangsa wajib memiliki kehidupan seks yang sehat dalam rumah tangga mereka. Jangan jadikan segala keruwetan tugas sebagai alasan untuk tidak sempat berkasih mesra dengan pasangan. Jadilah keluarga bahagia karena punya perilaku seksual yang sehat. Supaya dapat diharapkan menjadi pemimpin yang membawa pengaruh positif bagi warganya.

Kecuali wajib memiliki kehidupan seks yang bahagia, para pemimpin bangsa juga patut belajar dari seks! Bahwa dalam seks berlaku norma, budaya, dan etika. Keluar dari itu, maka disebut menyimpang. Dan, kita sudah tahu dampak dari penyimpangan itu. Ada orang menjadi tidak bahagia, kecewa, marah, gusar, bunuh diri, atau hidup liar.

Dengan demikian, perilaku politik para pemimpin tidak boleh menyimpang. Sebab, punya dampak-dampak luas bagi warga yang dipimpinnya. Sebagaimana seks, dalam politik juga ada yang boleh dan tidak boleh dilakukan.

Ditulis oleh seorang jurnalis yang juga konsultan seks, buku bersampul kelabu ini mengasyikkan untuk dibaca. Pemikiran-pemikirannya disampaikan dengan gaya bertutur yang riang. Penulisnya seolah mengajak pembaca dan pihak yang dia kritik untuk berkomunikasi, merenung, dan berintrospeksi bersama.

Memang, buku yang mulai dipasarkan awal Mei 2010 ini tidak diikhtiarkan untuk mengonstruksi teori karena hanya berupa kompilasi artikel. Namun, ia bertabur informasi dan gagasan menarik yang beberapa di antaranya mengejutkan.

Boleh jadi, banyak orang tidak sependapat dengan pemikiran penulisnya. Terutama dari kalangan yang menganggap seks tabu dibicarakan sedemikian terbuka. Akan tetapi, dapat dipastikan tidak seorangpun menyesal telah membaca dengan tuntas buku ini.

Catatan: Resensi saya buat sebagai bentuk penghargaan untuk Mariska Lubis, Kompasianer yang konsisten menulis dalam satu tema: Pendidikan Seks. Sebuah spesialisasi yang belum mampu saya capai setelah belasan tahun berkubang di dunia jurnalistik.

Penulis : Firman Seponada

Posted in: Resensi Buku