Mujizat Mimpi Melani

Posted on 13 April 2010

0


Pertanyaan besar dan awal dari seorang ‘pencari’ atau pencinta dalam istilah sufi, “untuk apa Tuhan menciptakan semua ini, dari tiada lalu menjadi ada? “. setelah terjawab, lalu muncullah pertanyaan baru, “lalu untuk apa kita/manusia diciptakan ?”, setelah terjawab si pencinta pun larut dan tenggelam dalam madu cinta/mahabbah kepada Sang pencipta.

Semua manusia akan sampai kepada pertanyaan-pertanyaan itu, lalu melakukan pencarian dan perjalanan untuk kembali kepada asal yang sejati. namun setiap orang menjalani dalam derajat yang berbeda-beda karena semua manusia itu berbeda dan unik di mata sesama, demikian pertanda kemahabesaran dan kemahakuasaan sang pencipta.

Adalah melani seorang hamba warga keturunan bisa menjadi contoh atas kisah perjalanan itu. Terlahir di sebuah kota di nusantara dengan karunia 15 bersaudara, melani mengihlaskan kepergian Ibunya saat berumur 10 tahun karena si Ibu berpulang memenuhi keharibaan sang pencipta.

Dalam kehidupan melani terjadi pergelutan batin dari tiga aliran keyakinan yang tarik menarik di dalam dirinya yang berasal dari lingkungan keluarga dan tempat tinggalnya, hal ini tentu sangat mempengaruhinya karena di usia 10 tahun tanpa seorang Ibu yang seharusnya bisa menjadi tempat mencurahkan kegalauan dan mendapatkan belaian kasih sayang.

Ketiga aliran keyakinan itu, dua berasal dari lingkungan keluarga yang menganut agama nasrani dan yang lainnya masih beragama kong hu cu dan satu pengaruh keyakinan lagi yang berasal dari lingkungan tempat tinggalnya dari keluarga yang muslim.

Pergaulan melani dengan tetangga keluarga muslimnya ini yang kemudian sampai saat ini melani mendapatkan ibu angkat dan kemudian menetapkan hati untuk menjadi seorang muslimah saat melani sudah mulai beranjak remaja, namun kisah pergulatan tiga aliran keyakinan itu di dalam diri melani masih terus berlanjut dan hati melani selalu bertanya-tanya dan mencari makna sebuah kebenaran.

Alhasil pada suatu malam menjelang idul adha, melani pun mengalami mimpi. Dalam mimpinya melani diperlihatkan sesuatu seperti huruf “w” yang kemudian dibelakang hari diketahuinya itu adalah sebutan huruf “ALLAH”, dalam mimpi itu melani tidak dapat memahaminya karena dinampakkan dalam huruf Arab.

Bersamaan penampakan huruf itu, kemudian diselingi tulisan yang berkedip-kedip bagai lampu jalan yang terang benderang dalam bahasa indonesia, ” bacalah”, “bacalah”. Namun dalam mimpi itu melani hanya bisa menjawab, “apa yang perlu saya baca dan saya tidak tahu itu huruf apa?”. karena terus ‘diperintah’ membaca, akhirnya melani pun tersentak terbangun dari mimpinya.

Kisah pengalaman mimpi melani ini mengingatkan kisah kerasulan Muhammad SAW saat menerima wahyu pertama di Gua Hira ‘iqra’ yang artinya sama, “bacalah dengan nama Tuhanmu”. Atau kisah ini sama seperti pengalaman para sufi besar yang mendapat petunjuk dari sumber mimpi.

Kenapa manusia mesti mencari dan menjadi pencinta, sementara Dia bertitah, “kemanapun kau hadapkan wajahmu maka di situ wajahKU, Aku lebih dekat dari tenggerokanmu sendiri”.

“kau setapak mendekatiKU, maka Aku selangkah mendekatimu, kau berjalan mendekatiKU, maka Aku berlari mendekatimu”.

Kisah titah sang pencipta itu, jika disadari, itu adalah firman yang menggambarakan agar memang setiap hamba harus mencarinya, karena titah selanjutnya, “Aku mencipta karena Aku ingin dikenal.”

Lalu, kenapa kita mesti mengenalnya, ibarat peribahasa, “tak kenal maka tak sayang.”
Jika rasa sayang sudah ada dari sang kekasih, hidup ini menjadi lebih tenang, apatah lagi jika itu datang dari sang pencipta, datang dari yang sejati.

dan diakhir titah sang pencipta pun berfirman, ‘wahai jiwa-jiwa yang tenang, masuklah ke dalam surgaKU”.

Kita semua ini adalah melani-melani dengan cara, jalan, dan kehendak sang pencipta yang berbeda-beda alias, ‘jalan lurus itu cuma satu’, ‘namun banyak jalan menuju roma’.

Melani telah menemukan dan menempuh jalannya sendiri, menemukan mujizat di dalam mimpinya.wallahualam.

Salam Dialog

catatan : melani adalah samaran, namun pengalamannya adalah kisah nyata seperti yang dituturkannya kepada penulis dan tidak ingin identitas dipublikasikan.

Posted in: agama, Paradigma Satu