Kesadaran Menggapai Substansi

Posted on 6 April 2010

5


188109

Kesadaran adalah kemampuan memahami setiap kejadian dilingkungan sekitar dan kemampuan untuk menceritakan serta mengekspresikan apa yang di dalam pikirannya. Kesadaran ini akan membawa pada kemampuan untuk mencari, menemukan dan memberi makna setiap kejadian serta tindakan yang dilakukan.

Pemilikan kesadaran dibagi tujuh tahapan, seperti langit ada 7 atau hari ada 7 dan lapisan unsure bumi juga ada 7. Kesamaan ini karena manusia adalah bagian dari alam semesta. Manusia adalah mikrokosmos dari alam semesta yang makrokosmos. Paradigma yang dimiliki seseorang sangat dipengaruhi oleh keberadaan tahapan pemilikan kesadaran. Jika kesadarannya di tahap pertama maka paradigma cara berpikirnya akan berasosiasi pada kesadaran tahap pertama, demikian pula selanjutnya.

Ketujuh tahapan kesadaran itu adalah sebagai berikut :
1. Kesadaran keluarga,
2. Kesadaran kelompok
3. Kesadaran social
4. Kesadaran diri
5. Kesadaran mistik
6. Kesadaran reflektif
7. Kesadaran hakiki (Absolut Reality).

Jika dihubungkan dengan relativitas keberadaan manusia yang meliputi 3 unsur yang melekat sebagai penampakan kepribadian yaitu; jasmani (raga), nafsani (jiwa), dan ruhani (spiritual atau spirit), maka ketujuh tahapan kesadaran di atas dibagi atas 3 bahagian besar, adalah sebagai berikut :
1. Alam jasmani (raga) adalah tempat pemilikan kesadaran keluarga dan kesadaran kelompok. Alam jasmani adalah personifikasi bentuk kesempurnaan raga yang mencerminkan keseimbangan dualitas, seperti kesempurnaan yang dimiliki setiap binatang. Hawa nafsu adalah manisfestasi keseimbangan dualitas jasmani. Medianya menggunakan sarana panca indera ragawi.

2. Alam nafsani (jiwa) adalah tempat pemilikan kesadaran social dan kesadaran diri.

3. Alam ruhani (spiritual) adalah tempat bersemainya pemilikan kesadaran mistik, kesadaran reflektif dan kesadaran hakiki.

Alam jasmani dan alam jiwa adalah manifestasi hasil evolusi alam semesta sebagai makrokosmos, sehingga jasmani dan jiwa adalah mikrokosmik personifikasi alam semesta. Hasil evolusi ini banyak dipengaruhi oleh proses dualitas alam semesta seperti pergantian siang dan malam sehingga menghasilkan berbagai fenomena alam, maka demikian pula dalam proses yang sama telah menghasilkan berbagai fenomena watak dan sifat manusia. Ada suka dan duka, tangis dan gembira, lapar dan kenyang, sehat dan sakit dan seterusnya. Alam semesta selalu butuh keseimbangan, demikian pula manusia selalu membutuhkan keseimbangan dalam hidupnya. Alam semesta kadang melahirkan bencana demi terbentuknya keseimbangan baru, demikian pula manusia kadang perlu marah untuk suatu penegasan sikap agar keseimbangan bisa tercapai atau dipertahankan.

Alam ruhani adalah alam transenden seorang pribadi dengan Tuhannya, suatu pola hubungan primordial yang tiada seorang pun tahu. Suatu hubungan kausalitas ketulusan sehingga seorang pribadi tenggelam dalam kesadaran ketuhanan yang Esa. Hubungan kausalitas berdasarkan cinta, bahwa pengabdian pada sesama bukanlah karena kebaikan yang diharapkan tetapi suatu kesadaran bahwa perbuatan itu terjadi karena semata rahmat Tuhan Yang Maha Esa. Kualitas yang imanen ini akan membawa suatu pencapaian yang telah melampaui hukum dualitas alam semesta. Artinya hukum dualitas alam berjalan pada hubungan sebab akibat atas segala sesuatu, tetapi alam ruhani telah membawa bahwa sebab dan akibat itu sendiri adalah karena kehendak Tuhan semata. Kedua proses ini benar bersumber pada yang satu, tetapi setiap manusia menjadi alternatif pilihan pada berbagai obsesi perikehidupannya. Jika menanam jagung maka akan menuai jagung. Tetapi jika cinta Tuhan adalah sandarannya, maka alam ruhani bisa berkehendak lain. Karena atas kehendak Tuhan apa yang tidak mungkin pasti dapat saja terjadi.

Ketujuh tahapan kesadaran itu dapat dijelaskan secara sederhana sebagai berikut :
1. Kesadaran keluarga; kesadaran ini adalah bentuk kesadaran yang pertama kali dialami yaitu ketika seorang anak sudah dapat mengenal ibu, bapak, saudara kandungnya dan rumah tempat tinggalnya serta orang-orang yang serumah dengannya. Bentuk kepedulian masih sekitar rumah dan orang-orang yang dikenal dirumahnya. Orang dewasa pun masih ada dan banyak yang memiliki tingkat kesadaran ini, sikap perilaku lebih banyak berorientasi mengejar kepuasan dan kepentingan lingkungan keluarganya, sehingga mengorbankan atau menyepelekan kepentingan patut bagi orang lain atau orang banyak. Tindakan manipulasi pun banyak terjadi pada orang yang memiliki tingkat kesadaran ini.

2. Kesadaran kelompok; kesadaran ini mulai muncul saat seorang anak telah mengenal kelompok bermain sehari-hari baik dilingkungan sekolah dan lingkungan tempat tinggalnya. Asosiasi kesadaran kelompok ini sangat besar pengaruhnya pada perkembangan mental seseorang. Kelompok-kelompok remaja maupun dari kalangan dewasa yang terjadi merupakan bentuk kuatnya asosiasi. Jika kesadaran ini menguat maka cenderung perilaku diskriminasi terhadap kelompok lain kadang muncul. Namun dari yang memahaminya sebagai media pembelajaran hal-hal positif dapat muncul dari kedua tahap kesadaran ini.

3. Kesadaran social; kesadaran ini adalah suatu kecenderungan melihat diri berdasarkan perbandingan dengan orang lain sebagai cermin. Diri selalu apa yang dialaminya berdasarkan cermin sosial. Kebaikan dan kepedulian dilakukan karena harapan penghargaan dari lingkungannya. Pembenaran atas kesalahan yang dilakukannya dijustifikasi atas kesamaan yang juga dilakukan oleh orang lain. Serta kecenderungan ini selalu melimpahkan kesalahan pada orang lain dan sering mengeluh.

4. Kesadaran diri; kesadaran ini melihat diri sebagai cermin, setiap kenyataan yang dialaminya dikembalikan atas sikap perilaku pribadi, suatu kecenderungan untuk selalu meniti ke dalam diri. Fakta eksternal selalu dimaknai sebagai implikasi dari fakta internal pribadi. Kecenderungan ini menghasilkan bahwa kepedulian dan kebaikan kepada orang lain adalah implikasi atas kepedulian dan kebaikan untuk diri sendiri. Orang seperti ini percaya bahwa apapun yang dilakukan sebagai bentuk kepedulian dan kebaikan yang nampaknya untuk orang lain, sesungguhnya untuk kepedulian dan kebaikan dirinya sendiri. Demikian pula jika hal sebaliknya atau keburukan yang akan dilakukannya.

5. Kesadaran mistik; kesadaran ini muncul sebagai implikasi menguatnya kesadaran diri, sehingga melahirkan suatu kekuatan keyakinan yang tidak semata-mata hanya berdasarkan atas rasa percaya saja, tetapi sesuatu lakon yang telah dijalaninya. Kecenderungan kesadaran ini dapat memahami realitas di balik kata atau kalimat serta makna dari suatu tindakan baik dari dirinya maupun dari orang lain. Dengan kata lain suatu kemampuan untuk memahami apa yang ‘ada’ karena disebabkan oleh suatu yang tak nampak atau dapat ditangkap oleh panca indera. Orang pada tingkat kesadaran ini selalu memiliki rasa percaya diri yang tinggi, memahami apa yang harus dilakukan dan percaya segala upaya yang dilakukannya dapat menuai hasil tanpa perlu merasa kuatir.

6. Kesadaran reflektif; kesadaran ini muncul sebagai upaya memberi makna akan segala fakta yang dialaminya dan bagaimana memberi makna inti atas suatu tindakan yang akan dilakukan. Kecenderungan ini menghasilkan proses dialog didalam pribadi antara kecenderungan kesadaran diri dan kecenderungan kesadaran mistik. Walaupun kesadaran mistik sudah melampaui kesadaran diri, namun karena berbagai fenomena eksternal sangat heterogen dan bervariasi sehingga makna yang dipahami mengalami proses pembelajaran untuk sampai pada pemahaman makna yang mencerahkan.

7. Kesadaran hakiki (Absolut Reality); kesadaran ini adalah puncak pencapaian tahapan pemilikan kesadaran yang dihasilkan dari pencapaian kesadaran reflektif. Proses kesadaran reflektif yang menemukan makna hakiki, maka akan menjadi suara rangkaian panjang untuk sampai pada kesadaran hakiki atau absolut reality. Kesadaran ini disebut juga kesadaran keilahian, bahwa segala sesuatu yang nampak dan tidak tampak pada hakikatnya adalah realitas yang satu, realitas yang absolut. Sebab itu dari Tuhan, begitupun akibat datangnya juga dari Tuhan. Semua yang ada sebenarnya berhakikat satu.

Baik dan buruk adalah sama karena kebaikan tidak mungkin ada tanpa adanya keburukan. Bencana dan keberuntungan juga adalah sama karena tanpa bencana keberuntungan pun tidak akan pernah ada, begitu pula sebaliknya. Sama dalam artian berasal dari yang satu. Fakta menjadi dualitas karena merupakan sebuah media pembelajaran proses evolusi atau siklus menuju penyempurnaan jiwa. Jiwa sempurna akan menyatu dengan ruh manusia, suatu kondisi kesiapan jiwa untuk kembali kepada Tuhan yang pada awalnya juga berasal dari Tuhan. Air berasal dari samudra lautan, kemanapun dia merembes dan menetes karena proses siklus alam, maka pada akhirnya kembali ke samudra lagi.

Pohon yang yang tumbuh, bercabang, berbunga, dan akhirnya berbuah pada musimnya berasal dari satu biji benih, yang pada akhirnya akan kembali menjadi satu benih lagi. Puncak pencapaian kesadaran ini akan membawa seseorang menikmati mati sebelum mati raga, keinginan sudah sirna, semua yang dilakukan karena semata amanah yang diembangnya, hidup hanya untuk mengejar amanah dan tanggungjawab kemanusiaan. Orang ini telah tenggelam dan mati di dalam samudra hakiki, kalaupun bergerak dan beraktivitas semua karena disebabkan oleh gerak dan irama samudra. Siapakah orang ini ? orang yang seperti ini berdasarkan pencapaian tingkat kesadaran absolut ini adalah pribadi orang-orang suci, avatar, maupun hanya orang biasa saja. Hidup dalam kebatinan yang kuat yang selalu on line dengan Tuhannya.

Hidup dalam ketulusan tanpa batas, sabar tanpa batas, dan tindakan yang menurut penilaian orang lain adalah negatif yang dilakukannya merupakan upaya untuk memberikan dan menyebarkan makna hakiki pada sesama. Orang ini mengetahui segala makna manfaat di setiap nafas dan perbuatan apa yang harus dilakukannya, baik bermanfaat bagi dirinya maupun untuk sesama. Orang ini menjadi lokus dari titik-titik landscap keseimbangan alam semesta. Hidup menjadi pencinta dan kekasih Tuhan. Semua yang ada adalah setara, semulia dengan dirinya, dan semua telah menjadi saudara kandungnya sendiri.

Di kesadaran mana kita menggapai substansi ? Kita bahas sikit dulu, apa makna Substansi.

Mengapa kita butuh substansi, karena manusia pada hakikatnya adalah subsansi itu sendiri (Rumi, 2004). Substansi alam semesta adalah hakikat manusia, manusia yang hidup dalam makna substansi adalah menusia yang bisa selaras dengan dirinya sendiri dan alam semesta.

Substansi adalah suatu makna yang imanen dan transenden. Tidak mengenal awal dan akhir atau tidak bersifat sementara, universal dan tidak dibatasi oleh ruang dan waktu. Hakikat manusia adalah jiwa dengan Ruhnya, tidak berawal dan tidak berakhir.

Jadi untuk menggapai substansi kita harus memulai dengan kepemilikan akan kesadaran diri, step by step dengan proses yang intens di dalam pembelajaran sehingga maju terus tanpa henti menuju puncak kesadaran absolut reality. Sedangkan untuk mengilhami orang lain untuk merubah kesadarannya dan tercerahkan, maka tingkat kesadaran kita harus sudah mencapai tingkat kesadaran reflektif. Karena ini pulalah makna substansi pemberdayaan. “manalah mungkin Anda kan menabur benih jagung dilahan dan menuai hasilnya, jika Anda sendiri tidak memiliki benih jagung itu sendiri.”

Wallahualam.

Ditandai:
Posted in: Paradigma Satu