CINTA DALAM KETIADAAN

Posted on 6 April 2010

0


171351

Betapa tak kan sedih aku, bagai malam, tanpa hari-nya serta
keindahan wajah hari terang-nya ?
rasa pahit-nya terasa manis bagi jiwaku; semoga hatiku menjadi
korban bagi kekasih yang membuat pilu hatiku!
Aku sedih dan tersiksa karena cinta demi kebahagiaan
rajaku yang tiada bandingannya.

Titik air mata demi dia adalah mutiara, meski orang menyangka sekedar air mata.
Kukeluhkan jiwa dari jiwaku, namun sebenarnya aku tidak mengeluh;
Aku Cuma berkisah.

Hatiku bilang tersiksa oleh-nya, dan kutertawakan seluruh dalihnya.
Perlakukanlah aku dengan benar, o yang maha benar, o engkaulah
Mimbar agung, dan akulah ambang pintu-mu!

Dimanakah sebenarnya ambang pintu dan mimbar itu ? dimanakah sang kekasih,
Dimanakah ”kita” dan ”aku”?
O engkau, jiwa yang bebas dari ”kita” dan ”aku”, o engkaulah
hakekat ruh lelaki dan wanita.

Ketika lelaki dan wanita menjadi satu, engkau-lah yang satu itu;
Ketika bagian-bagian musnah, lihatlah, engkau-lah kesatuan itu.
Engkau ciptakan ”aku” dan ”kita” supaya memainkan puji-pujian bersama diri-mu.

Hingga seluruh ”aku” dan ”engkau” dapat menjadi satu jiwa serta akhirnya lebur dalam sang kekasih.

Posted in: Paradigma Satu