SBY ‘Bonek’ dan Boed Malu Tak Gentar

Posted on 11 Maret 2010

1


aksi bonek, foto google

aksi bonek, foto google

Pengamat politik Universitas Indonesia (UI) Boni hargens menilai, pernyataan sby dalam pidatonya menanggapi hasil paripurna DPR terkait skandal Bank Century, tidak berbeda jauh dengan kelakuan sporter ‘bonek’ (bondo nekat) sepakbola. Bahkan, ia menganggap sby dalam pernyataannya terkesan menjadi juru bicara (jubir) bagi ani dan boed.

Sementara itu aktivis KOMPAK Ray Rangkuti menegaskan sikap moral boed yang tak mau mundur dari jabatannya walau telah diduga melakukan pelanggaran perundang-undangan dalam proses bailout Century adalah perwujudan dari krisis moralitas kepemimpinan. Seharusnya, boed harus rela meletakkan jabatannya karena ada dugaan pelanggaran kebijakan yang merugikan masyarakat Indonesia. Ia melihat bahwa boedi ketika melakukan kesalahan bukan mundur tetapi malah maju terus. Sebab itu falsafah Boediono saat ini bukan “maju tak gentar” melainkan “malu tak gentar”.

Sepertinya pemberian istilah bonek dari Boni dan malu tak gentar dari rangkuty, sangat nyambung dan cukup serasi, seorang bonek berarti melakukan aksinya dengan malu tak gentar, sementara seorang malu tak gentar, tentu dia seorang bonek, heheheheh…..iya bukan..?

Menghadapi wong bonek dan malu tak gentar, tentu bisa membingunkan, terlepas dari pendapat ke dua tokoh tersebut, memang ada keganjilan di dalam pidato sby itu, di salah satu sisi dia mengatakan bertangggungjawab, tetapi di sisi lain malah mengatakan tidak memberi ijin kepada ani dan boed melakukan bailout century. Tidak memberi ijin tapi malah membelanya.

Coba bandingkan sikap sby dengan kasus tifatul menkoinfo, sudah tidak memberi ijin plus memberinya teguran keras di depan publik, padahal soal tifatul urusannya terlalu kecil dibanding kasus skandal century.

Atas pidato sby itu, saya kira wajar dong menterinya melakukan sesuatu tanpa perlu seijin sby lalu kemudian sby pula harus bertanggungjawab, tapi nyatanya tidak demikian bukan…?

Jika demikian pidato sby, maka makna sebenarnya adalah kebalikan dari pidato itu, kecuali soal sby bertanggungjawab itu memang benar demikian karena dialah presidennya.

Jadi makna sebenarnya pidato sby itu adalah sebagai berikut :

1. Tidak menjalankan proses demokrasi santun, buktinya membiarkan si poltak berlaku kasar di pansus century.
2. Ani dan boed itu memiliki rekam jejak buruk selama kiprahnya, buktinya melakukan bailout tanpa seijin presiden, padahal dasarnya keppres.
3. Aliran dana bailout century ada yang mengalir ke tim kampanye capres dan partai, buktinya ada PT. AJP dan boedi sampurna nasabah kakap BC yang nyumbang saat pemilu ke mereka di tambah ada keganjilan proses pencairan dana nasabah BC yang fiktif atau semi fiktif.
4. bailout century bukan karena alasan dampak krisis global dan sistemik, tapi karena ekspektasi politik untuk memenangkan incumbent sby, sehingga proses bailout by design sedemikian rupa.
5. Sby tidak menghargai dan mengapresiasi keputusan sidang paripurna DPR karena dimenangkan oleh voting opsi c, buktinya sby memilih melawan DPR dengan membenarkan opsi A.

Pertanyaan besarnya kembali ke DPR atas sikap sby itu, apakah DPR berani menggunakan hak mengajukan pendapat, kalau ingin menunggu hasil KPK, apakah KPK sanggup mengurai benang kusut skandal century ini.

Jika akhirnya kemudian kerja besar pansus ini hanya ending masuk angin belaka nantinya, artinya pansus century itu ada karena kadung basah aja dengan tekanan publik, alias DPR itu bonek juga. Maka jadilah negeri ini 5 tahun ke depan tidak akan berbuat banyak demi kemajuan bangsa, yang ada akan selalu risau oleh supporter bonek, demikian pula karena ulah para politisi bonek. wallahualam.

salam dialog

Ditandai:
Posted in: Hukum, Politik