SBY; Menikmati Kekuasaan

Posted on 10 Maret 2010

0


foto revro inka

foto revro inka

Seorang sahabat Rasulullah SAW, saat terpilih mendapat giliran menjadi khalifah, maka dia berucap “innalillahiwainnailahirajiun…”, apa pasal demikian, karena sebagai khalifah atau untuk kelas Indonesia sama dengan seorang presiden adalah pengembang amanah, imam, petunjuk dan pendamai bagi kemajuan bangsa dan negaranya atau kaumnya.

Ilustrasi ini bisa dicontohkan saat seoraang khalifah, sahabat Rasulullah SAW menyamar menjadi orang biasa, di tengah mengunjungi menelusuri kampung-kampung, sampai tiba saatnya dia memasuki sebuah rumah. Nampak di dalam seorang Ibu lagi memasak, sang sahabat menanyakan, “wahai ummi, apakah yang sedang kau masak..?”, si ibu lalu menjawab sedang menanak batu di dalam air karena tidak ada lagi makanan yang bisa dimasak karena miskin yang menderanya, dia menanak itu karena sedang mengulur waktu agar anaknya bisa sabar menunggu, kemudian tertidur dan melupakan rasa lapar yang menyerangnya, dan memang anaknya sedang tidur terlelap.

Sungguh khalifah terkejut, pendek cerita sekembalinya dari tempat itu beliau menyuruh hulubalang istana untuk membawakan ibu tersebut sekarung gandum.

Selamat pagi Indonesia, sejak sby berkuasa terdapat antara 15 – 17% penduduk Indonesia hidup dalam kemiskinan yang sampai saat ini belum bisa beranjak dari derita nestapanya, dan terdapat 12 juta penduduk Indonesia tergolong sangat miskin dan papa, berada di bawah garis kemiskinan. Sungguh ironi bangsa ini karena dijalan-jalan kita bisa menikmati lalu lang mobil-mobil yang harganya, naujubilleh, antara 500 juta – 2 milyar rupiah. Belum lagi pejabat atau pemerintah saat ini, boro-boro prihatin malah menaikkan gaji.

Apakah sby peduli dengan itu ?, kalau pidato tentu prihatin atau mungkin di jawab tidak semua itu menjadi tanggungjawab presiden, seperti jawaban para sby-isme dalam kasus skandal century, tapi ujub-ujubnya sby malah mengaku bertanggungjawab. Lalu apa sanksinya, jika DPR sudah berkata, “memang itu sebuah skandal…”. Sby menjawab dengan pidato, biasa, kembali melawan keputusan DPR.

Jika sudah demikian adanya, pidato sby pasca sidang paripurna DPR tentang skandal bailout century, sudah benar-benar terkuak bahwa lawan DPR bukan ani dan boed tetapi si buya, meminjam istilah pendemo pembawa kerbau.

Dalam pidato tersebut sby menyampaiakan alasan yang sama, seperti di awal-awal skandal ini mulai bergulir, yang baru sby menekankan kesantunan dalam berdemokrasi tetapi malah membiarkan si gundul poltak bermain kata-kata bangsat di sidang pansus, bukankah sby ketua dewan PD di mana si poltak bergabung ?

Sby meminta kasus ini dibuka terang benderang, lha..wong DPR sudah membuka, malah sby menutup kembali dengan pidatonya, “cemmana mau kau…?”, kata wong medan. Jika sby ingin terang benderang seharusnya dia berpidato untuk segera mengusut keputusan DPR itu, iya bukan…!

Sby juga berkesimpulan bahwa tidak ada aliaran dana bailout mengalir ke tim sukses sby dan PD, padahal pansus sudah menemukan banyak keganjilan, lagi pula pansus baru meneliti dana hanya pada lapis pertama, sedangkan BPK berkesimpulan untuk mengetahui ke mana aliran dana tersebut, perlu dilakukan audit tujuh lapis yang mungkin memakan waktu dua bulan lagi.

Sby juga berkesimpulan bahwa ani dan boed memiliki rekam jejak yang bersih, malah disanjung-sanjung bagai sepasang mahkota negara penyelamat bangsa, puiiiihhhhhh……………..benarkah demikian…?

Setahu saya, semua atau nyaris saja para pejabat penting yang pernah dibesarkan oleh Orba, termasuk boed, tentu memiliki rekam jejak buruk. Yang jelas boed itu pionir skenario IMF di krisis tahun 1997-1998, di mana saat itu Indonesia hancur lebur, kata IMF akhirnya, mengakui gagal dalam skenario recovery perekonomian Indonesia saat itu. Tinggalah utang yang menganga lebar.

Jika sby mengakui berhasil pada kepemimpinan pertama dan dengan kata lain ani dan boed berhasil merecovery perekonomian, tentu saat ini Indonesia bukan negara no. 1 terkorup di dunia versi PRC yang baru dirilis. Jadi apa arti sby terdepan memberantas koruptor dan mafia peradilan, sungguh indah janji surga ini.

Jika ani itu bersih, tentu dari dulu menyeret ical atas kasus pengempalangan pajak, kok..baru sekarang diungkit-ungkit, ataukah..masih ingatkah kita, ani membebaskan bea pajak import sepatu hartati Murdaya, sama waktu dia menjabat menkeu. Mungkin hal ini akan dijawab para sbyer, bahwa rata-rata orang DPR juga bermasalah, jika ini faktornya, maka sebaiknya mari kita berlomba-lomba saja menjadi koruptor kakap.

Ilustrasinya begini, apa karena orang menganggap polisi itu umumnya ‘tidak baik’, lalu kemudian tidak boleh menumpas kejahatan, atau tdiak boleh menilang para pelanggar lalulintas, begitukah….?
Apakah karena para pejabat dan anggota dewan punya rekam jejak buruk, lalu mereka dibungkam dengan itu, dan akhirnya korupsi jalan terus, laanjutken……………..

Apakah karena anda itu seorang bekas penjahat, lalu mau membiarkan anak-anaknya menjadi penjahat juga………….? Nampaknya inilah yang sedang terjadi akut dan kronis di negeri sby ini.

Sebenarnya dengan kasus skandal century, malah menjadi entri point memberangus para penjahat negara yang selama ini slumun-slumen slamet, tapi apa daya sby dan sbyernya juga malah menempuh si slamet itu saja.

Menyimak sepak terjang sby dan sbyer di dalam membela para pelaku skandal, sangat nyata sby sebenarnya dalam buaian menikmati kekuasaan. Citra dan gelar penghargaan memang dipanen oleh sby, tetapi apa makna pelajaran yang bisa dipetik dari bangsa ini untuk memperbaiki nasibnya..?

Tanda-tanda itu juga ada saat menyusun kabinet, semua dalam rangka memperbesar wilayah kekuasaan agar kekuasaan itu dapat dinikmati, soal bagaimana bangsa ini, mari kita berpidato saja.

Mungkin karena pernah merasakan orgasme kekuasaan, sehingga diujung uzur hanya orgasme ini yang bisa berulang…..astaga…………akhirnya nikmatilah kekuasaan itu.

Saya tidak ingin berdebat soal skandal century, believe or not, yang jelas sudah dua lembaga tinggi negara sederajat lembaga kepresidenan, BPK dan DPR berkeputusan bailout itu adalah skandal yang dilakoni pemeran utama ani dan boed, apakah kita menutup mata dan nurani dengan pendapat ini ?

Cak boed memang lebih suka skandal ini diusut dengan proses hukum, karena sudah tahu jelas bagaimana sulitnya menyerat para pengemplang BLBI dulu, malah obligor itu masih pada melenggang kankung.

Jika masa pemilu, semua ngomong proses politik yang demokratis, giliran berkuasa malah ngomong proses formalitas hukum memberantas korupsi, itulah retorika penikmat kekuasaan.

Bagaimana mau membuktikan secara hukum para koruptor, lha wong..membeli bensin aja petugas SPBU sudah ngomong duluan, “bonnya mau ditulis berapa pak..?”. wallahualam.

Salam dialog

Ditandai:
Posted in: Hukum, Politik