Wafatnya Gus Dur, Antara Citra SBY dan Komoditas Politik

Posted on 5 Januari 2010

0


Sebelum mulai membaca artikel ini, saya anjurkan kepada para pembaca agar membacakan doa alfatihah kepada gus dur bagi yang muslim dan doa apa saja bagi non muslim sesuai kegemarannya. Semoga dengan doa ini dilapangkan jalannya kembali kepada keharibaan ilahi, ilahirajiun, menuju tempat tinggalnya yang sejati, abadi dalam kasih sayang Tuhan.

Sekitar 80 hari masa pemerintahan sby kedua, media pemberitaan seolah mengguras habis citra sby, benarkah demikian, walaupun di sana-sini masih menjadi obrolan yang dipertanyakan. Namun demikian pada kasus KPK bibit-candra dan pengusutan skandal bank Century, di kedua kasus ini mosi tidak percaya sudah melekat ke citra sby. Termasuk rencana kenaikan gaji bagi pejabat di 12 kementrian dan pembagian mobil dinas seharga 1,3 milyar menjadi pertanda, benarkah dan di mana komitmen sby yang selalu dijanjikan dalam kampanye, menggalang koalisi besar baik di kabinet dan parlemen sebagai upaya mendorong mulusnya program peningkatan kesejahteraan rakyat. Apakah dalam proses untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat, maka para pejabat dulu yang perlu super sejahtera ¿

Wafatnya gus dur sebagai mantan presiden dan bukan kebetulan terjadi menjelang pergantian tahun, seyogianya menjadi momentum media perenungan bagi pemimpin bangsa ini. Sebaik-baik pelajaran ádalah memaknai peristiwa kematian, bahwa itulah tujuan pasti setiap manusia, dunia hanya tempat persinggahan sementara, sehingga semua pelaku peran perlu mendudukan setiap lakon peristiwa pada kejujuran, pada kebenarannya dan bukan pada ambisi kekuasaan, harta dan tahta. Pengusutan skandal bank Century tentu bisa menjadi momentum implementasi hasil perenungan itu, semua yang terkait bisa mengungkap fakta pada kejujuran dan kebenaran itu.

Gus Dur, tokoh besar itu telah tiada. Sebagai manusia yang mengenal adab, masyarakat, para pengikut dan lebih terutama lagi keluarganya, akan mengalami masa berkabung sesudahnya. Bahkan agama Islam secara spesifik mengatur adab berkabung ini bagi wanita yang ditinggal mati suaminya, sedemikian detil hingga ke soal pakaian dan kosmetika.

Celaka. Sungguh celaka. Orang-orang hingga nun jauh dari Jombang seperti di Negeri Belanda dan belahan lain dunia sedang berkabung, salat gaib, berdoa demi menghormati dan kasih sayang pada Gus Dur, eh keluarga sendiri sudah mulai bertengkar memperebutkan PKB. Notabene baru tiga hari Gus Dur wafat! Tidak bisakah kedua pihak mengunci mulut barang sejenak? Mari berkabung sebentar.

PKB untuk sementara ini tidak ada nilainya, sama sekali tak berharga untuk diperebutkan oleh kubu Muhaimin dan Yenny. Yang sesungguhnya jauh lebih berharga adalah mengingat keadaan si mayit, menghormatinya, dan memberikan teladan baik bagi jutaan warga Nahdliyyin. Apalagi Muhaimin dan Yenny adalah Bani Hasyim, keturunan Hadratus Syeikh Hasyim Asy’ari, pendiri jam’iyah NU. Ada tanggung jawab besar di pundak mereka untuk menjaga kehormatan dan nama baik buyut mereka, yang jauh lebih berharga dari PKB dan seisinya. Lagi pula bahan bakar pemantik pertikaian dua kubu kembali saling berebut PKB itu cuma isyarat-isyarat hari-hari akhir Gus Dur. Muhaimin menakwilkannya sebagai wasiat menyatukan PKB, Yenny menakwilkan makam KH Hasyim Asy’ari yang ‘dilihat’ kotor oleh Gus Dur sebagai tanda PKB ‘harus dibersihkan’. Mereka lupa bahwa mereka bukan Nabi Yusuf, yang diberi mukjizat kemampuan menakwilkan. Jangan-jangan takwil yang lebih tepat adalah bahwa kubu mereka berdua inilah kotoran sebenarnya, yang mengotori nama besar buyut mereka.

Di luar kubu PKB family, para politisi berebut menjadikan gus dur pahlawan nasional, ádalah kubu partai demokrat mengakui kalau merekalah yang pertama mengusulkan hal itu. Gelagak ini membuat media santer memberitakan, prosesi pemakaman gus dur dianggap sebagai media bagi pemerintahan sby membangun citranya kembali yang terguras oleh kasus skandal bank Century.

Opini sby membangun citra dengan wafatnya gus dur, mungkin sedang meresahkan sekelompok orang sehingga kemudian beredar sms gelap dan disebarkan secara massif, gus dur wafat karena dibunuh.

SMS yang diterima Adik Gus Dur, Gus Sholah dari nomor HP 081399013730 menyebutkan, “gus dur DIBUNUH!30/12 Pk 18.050 WIB SElang oksigen gus dur dicabut paksa!pembunuhan terkait pertemuan gusdur tgl 4 desdi jl denpasar c3 membahas century dan adelin lies. TUNTUT POLISI USUT!(SEBARKAN).

Kematian gus dur pun dianggap sebuah misteri.

Kematian Gus Dur masih menjadi perbincangan hangat. Berbagai sisi pun dikupas tentang latar belakangnya. Benteng Demokrasi Rakyat (Bendera) juga berusaha mengungkap sisi misterius kematian Gus Dur. Tokoh paranormal, budayawan, advokat dihadirkan untuk membedah sisi misterius mantan ketua umum PBNU ini.

Dalam diskusi ini, disinggung soal wasiat Gus Dur yang menyerempet politis. Adalah Sri Bintang dan Ridwan Saidi, yang menuturkannya. Gus Dur, memberikan wasiat kepada 30 tokoh dalam pertemuan tanggal 4 Desember 2009 di kediaman mantan Wakil Ketua DPR Soetardjo Soerjogoeritno (Mbah Tardjo), Jalan Denpasar, Kuningan, Jakarta. “Pesannya dua, turunkan SBY dan gantikan dengan pemerintahan baru,” ujar Ridwan dengan nada serius. Sebelum wafat Gus Dur sempat melakukan pertemuan pada 4 Desember. Dalam pertemuan itu, Gus Dur menyampaikan sikap politiknya terkait dengan Century. Budayawan Ridwan Saidi mengaku, dirinya mendengar cerita tersebut karena berada dalam tempat yang sama saat pertemuan berlangsung.

Ridwan mengatakan, selain bercerita soal aib-aib Presiden SBY, Gus Dur juga bercerita tentang Bank Century, sejarah dan ada juga pernyataan politik Gus Dur soal skandal Century. “Sikap politik Gus Dur saat itu, kita harus mengganti pemerintahan SBY dan membentuk pemerintahan yang baru. Tapi Gus Dur tidak menjawab siapa pengganti SBY nanti,” kata Ridwan menirukan pernyataan Gus Dur.

Seandainya gus dur masih diberikan umur panjang, ketika di tanya soal itu, mungkin akan berujar, ”yah kalau dianggap salah, mau diturunkan, turunkan saja, lha wong saya juga diperlakukan begitu, gitu aja kok repot…!”.

Sekelompok aktivis yang menamakan diri Gerakan Rakyat Menggugat (Geram) meminta agar pihak Istana menjelaskan kunjungan Presiden SBY ke ruang perawatan Gus Dur di RS Cipto Mangunkusumo pada Rabu petang (30/12), sesaat sebelum Gus Dur dinyatakan meninggal dunia. Kalau hal ini tidak dijelaskan, maka spekulasi mengenai penyebab kematian Gus Dur akan berkembang ke arah yang dapat merugikan. Pihak Istana dan RSCM harus menjelaskan kematian Gus Dur dengan memperlihatkan bukti visum. Juga harus dijelaskan mengapa CCTV dimatikan saat SBY menjenguk.

Gus dur selama hidup begitu banyak orang mendekat kepadanya, sebagai media membangun citra dan ajang komoditas politik, lalu apakah kemudian setelah wafatnya gus dur masih harus mengalami hal yang sama ? wallahualam.

Sebagai penutup postingan yang panjang ini, berikut saya posting humor ala gus dur yang banyak diperbincangkan di dunia maya membandingkan Gus Dur dengan Presiden SBY.

Gus Dur tidak peduli pada penampilan, sementara SBY sangat peduli pada penampilan.

Gus Dur adalah orang sipil yang berani melawan kubu militer. Ia, misalnya, memecat Jenderal Wiranto. Sementara SBY adalah pensiunan jenderal yang terkadang takut melawan sipil. Ia, misalnya, tidak berani menangkap Anggodo cs yang telah mencatut namanya.

Gus Dur juga dinilai berani melawan arus meski cuma didukung minoritas. Ini berbeda dengan SBY, yang kendati didukung mayoritas kadang tak berani mengikuti arus.

Hal lain adalah, Gus Dur kerap membuat opini sendiri meski terkadang kontroversial. Adapun SBY selalu kerap mengiktui opini orang lain dan terkadang menunggu hasil polling.

Soal ungkapan yang sering disampaikan keduanya pun dijadikan bahan yang diperbedakan. Gus Dur kerap berkata, “Gitu aja kok repot!” Di sisi lain, pernyataan favorit SBY, terutama belakangan ini, adalah, “Saya difitnah!”

Bagaimana dengan nasib keduanya?

Ya, Gus Dur harus meninggalkan istana pada bulan Juli 2001 setelah ribut-ribut Buloggate yang jumlahnya miliaran rupiah. Sementara nasib SBY belum lagi diketahui. Namun yang jelas, Centurygate yang menyerempet pemerintahannya bernilai Rp 6,7 triliun atau ribuan miliar.

SALAM DIALOG

Iklan
Ditandai: , ,
Posted in: Politik