Pencarian; Cinta, Jiwa, Dan Kebebasan

Posted on 16 Desember 2009

0


Cinta, jiwa, dan kebebasan; ketiganya menjalin berbagai kisah dalam hidup kita. Siapa, apa, kapan, dan di mana itulah yang mengisi detail-detail dan memberi keragaman pada plotnya, namun temanya tetap tidak berubah.

Cinta, adalah yang kita inginkan dalam hidup dan yang pertama kali kita cari. Itulah hasrat kehidupan kita, yang menciptakan lautan di mana jiwa kita berenang. Seperti lautan, cinta mengasuh dan mendukung kita, tetapi ia pun menawarkan suatu tempat di mana kita akan membawa hidup kita.

Cinta menciptakan dunia-dunia yang akan dijelajahi oleh jiwa kita. Siapa dan apa yang kita cintai akan menyalurkan energi kita, mendorong kita mendekati orang ini atau itu, mengambil jalan ini atau itu. Dengan bimbingan cinta, kita berhubungan dengan dunia-dunia di sekeliling kita. Kita menciptakan tempat-tempat di mana kita menjadi bagiannya, di mana jiwa kita mendapatkan santapan berupa makna dan tujuan, serta di mana kita bersantai, bermain, serta bersenang-senang. Melalui kedekatan hubungan, kita jadi mengenal orang-orang lain dan diri kita sendiri dalam cermin cinta.

Cinta membawa jiwa kita ke dalam fokus.

Jiwa, adalah pusat pembimbing kita, alat penguji bagi apa yang kita rasa benar dalam hidup dan apa yang harus kita lakukan. Jiwa adalah alasan kita datang ke sini dan alasan kita tetap tinggal. Jiwa memberitahukan kita tentang kita-bukan seperti yang diinginkan, diharapkan, atau dibayangkan orang-orang lain, melainkan sebagai diri kita di dalam wujud kita yang paling tersembunyi. ketika kita berada di tengah kesedihan, kebingungan, atau keputusasaan, jiwa kitalah yang membawa kita ke sana dan mengetahui diri kita yang sebenarnya. Atau jika kita mengalami kegembiraan, jiwa kitalah yang mengangkat kita dengan pengetahuan yang lebih besar daripada kehidupan : “jadi, begitulah maksudnya !” Jiwa adalah intisari kita, esensi kita, landasan diri kita, meski kita sama sekali tidak yakin siapakah jiwa kita ini atau apa yang dipikirkannya untuk kita.

kebebasan, memberi jiwa kita dan cinta kita udara untuk bernafas. Seperti udara, kebebasan itu merupakan pemberian, setidak-tidaknya sepanjang menyangkut jiwa kita. Itu bukan diberikan atas permintaan kita oleh orang-orang, lembaga, atau pemerintah, sebab jika demikian maka mereka bisa menolak memberikannya.

Kebebasan adalah udara bagi kita, sebab ia memberi kita ruang yang kita butuhkan untuk mengikuti jiwa kita dan mengejar cinta kita. Tanpa kebebasan, jiwa kita tercekik. Dengan kebebasan, mereka tinggal landas; kita mencipta, bereksperimen, meraba-raba, dan belajar. kebebasan mengatakan bahwa apa saja mungkin dan bahwa kita berhak untuk menjelajahi berbagai kemungkinan ke mana pun jiwa dan cinta membawa kita. Kadang-kadang jiwa kita membawa kita jatuh dan kehilangan segalanya, penyakit yang mematikan, perceraian, kebangkrutan, atau skandal untuk menunjukkan betapa bebasnya kita lepas dari segala penampilan. Tanpa “resiko rugi apa pun” kita meninggalkan segala keharusan dan kewajiban dan mengejar impian kita.

Pencarian akan Yang Tak Kasat-Mata : Cinta, Jiwa, dan Kebebasan

Cinta, jiwa, dan kebebasan merupakan teman alamiah, yang bersama-sama menciptakan api di dalam pikiran, hati, dada, perut, atau di mana pun yang dapat membuat kita bahagia saat bangun di pagi hari. Dengan menyatu, cinta, jiwa, dan kebebasan menjadi daya yang mewujud, membimbing kita dan menuyusupkan makna dan tujuan ke dalam hidup kita, meski kehadiran mereka tidak bisa dilihat dengan jelas hingga kita mampu mengingat peristiwa yang telah terjadi.

Cinta, jiwa, dan kebebasan tidak dapat dipisahkan, dan pada tingkatan yang paling dalam dari keberadaan kita, begitulah cara kita mengalaminya. ketika kita sedang berlibur, misalnya, kita merasakan ketiganya hidup dengan bahagia bersama-sama. Kita dikelilingi oleh siapa dan apa yang kita cintai, membiarkan rambut kita tergerai, dan melakukan apa saja sesuka kita. next time.

SALAM DIALOG

Posted in: Paradigma Satu