Mbak Ani, Sudikah Dia Jadi Korban ?

Posted on 15 Desember 2009

4


Seperti nyanyian lagu “resah dan gelisah”, inilah sentilan paling pas buat dilekatkan kepada Menkeu Sri Mulyani (mbak ani), menyikapi lakon publik dan pansus yang meminta mengusut tuntas skandal bank century. Di mana sejak awal kasus ini meletup, heboh, stigma publik dan wacana yang berkembang mbak ani dan boediono paling bertanggunjawab atas skandal ini, tuntutan pecat pun melekat kepadanya, dan tuntutan publik ini akan semakin menguat ketika pansus angket juga menetapkan bahwa bailout century, memang sebuah penyalahgunaan kewenangan.

sudikah anda menerima kenyataan ini, mbak ani pun jadi korban dan akan terjungkal dari posisinya, bukan itu saja, predikat ini akan menjadi, karena nila setitik maka rusak susu sebelanga, karir yang kini bak bintang bersinar pun akan redup, sampai kemudian dilupakan orang.

Sudikah anda itu terjadi ?

Jika tidak dan tidak, resah dan gelisah mbak ani juga terasa buat kita.

Betapa tidak resah dan gelisah, :
9/12, dalam peringatan hari anti korupsi sedunia di mana hampir seluruh kota massa turun ke jalan dengan tuntutan tema yang sama, pecat sri mulyani dan boediono, malahan beberapa aksi massa seperti di tugu monas melakukan pembakaran kedua foto mereka.

10/12, resah dan gelisah ini pun meletup, sebagai manusia wajar mbak ani pun melakukan aksi sublimasi, melalui media asing ‘ngember’ kalau pansus punya target menjungkal dirinya, alasannya sederhana, nostalgia masa lalu, menuding ical tidak suka pada dirinya, padahal keduanya dikenal dekat dengan sby, ataukah ini pertanda ada konflik internal dilingkungan sby atau kabinet ?

11/12, dituding dengan serangan mbak ani, tentu solidaritas kader golkar terusik, adalah bambang susetyo dalam rapat konsultasi pansus mengemukakan temuan rekaman pembicaraan antara mbak ani dan robert tantular. Reaksi mbak ani pun semakin gering, resah dan gelisahnya semakin menemukan momentumnya.

13/12, mbak ani melakukan konfrensi pers yang dilengkapi pemutaran video di depkeu, untuk membuktikan robert tantular tidak hadir dirapat KSSK itu 21-22/11. Memang RT tidak hadir dalam rapat itu, tapi boediono mengakui RT berada pada gedung yang sama saat rapat berlangsung, bukankah pula rekaman itu adalah hasil pembicaraan via telpon.

Namun ada hal yang menarik, fakta baru, dari konfrensi pers tersebut, apakah ini memang disengaja atau tidak oleh mbak ani, menghadirkan marsilam simanjuntak ketua UKP3R, suatu unit kerja dibawah kendali langsung sby. Marsilam simanjuntak juga hadir pada saat rapat KSSK berlangsung, baik menurut Raden Pardede maupun mbak ani, menjelaskan kehadiran Marsilam di rapat KSSK sebagai utusan Presiden. Saat rapat KSSK berlangsung dihadiri oleh 30 orang lebih pejabat depkeu, KSSK, BI dan LPS dan dilakukan secara terbuka, buktinya ada rekaman video. Rapat ini kemudian dilanjutkan dalam rapat tertutup di dalam kamar yang hanya dihadiri oleh 3 orang yaitu boediono, mbak ani dan marsilam, dikatakan tertutup karena video rekaman juga tidak ada, setelah rapat ini, ‘goal’ bailout bank century pun terjadi.

Dari fakta ini, lepas sudah resah dan gelisah mbak ani, konfrensi pers itu menyiratkan pengakuan mbak ani, kalau dia itu hanya seorang ‘prajurit’ dan bukan komandan. Setelah peristiwa ini, sampai saat ini mbak ani tidak bicara lagi soal skandal ini.

Menjadi pertanyaan, kenapa marsilam menjadi utusan presiden pada saat itu, urgensinya apa sebagai ketua pengendali reformasi, padahal pada 18/9/2008 jabatan marsilam sebagai ketua UKP3R, termasuk lembaganya sudah tamat. Ketika wartawan menanyakan untuk apa dia hadir, marsilam mengelak diplomatis dalam nada tinggi, “tanya aja ke presiden..!!!”.

jadi perseteruan mbak ani dengan Golkar khususnya dengan ical hanya sebuah kamuflase belaka, mbak ani itu sosok wanita karir cerdas, dia tahu apa yang dilakukannya, tujuan akhirnya dia hanya ingin mengungkapkan fata baru diwilayah ‘remang-remang’, apa yang dilakukannya, itulah strateginya bermain cantik.

saya setuju jika ical punya salah dengan bisnisnya, maka perlu juga segera diusut, tetapi tidak serta merta harus dihubungkan bahwa ketika pansus century menetapkan boediono dan mbak ani bersalah, kebetulan ketua pansus idrus marham (FPG) lalu dituding sebagai upaya balas dendam ical kepada mbak ani karena keputusan untuk itu adalah hasil rapat pleno pansus, dimana anggota pansus di dominasi oleh partai koalisi sby. Selain itu pula sesuai pengakuan priyo (FPG) wakil ketua DPR, saat pilpres sby menawari ical jadi cawapres tetapi ical menolak, yang ada ical menjadi donasi kampanye sby dan membawa golkar kembali dalam koalisi pemerintah.

Mbak ani memang sipil tapi bisa memahami paham militer karena selama lima tahun pernah dibawah kendali seorang mantan militer, sby. Dalam hal ini perlu kita ingatkan kembali, bahwa dalam tatanan militer dikenal istilah, tidak ada prajurit (bawahan) yang salah. Yang salah adalah komandan (atasan). Merujuk pendapat ini, mestinya bukan Boediono atau pun Sri Mulyani yang harus menanggung akibatnya. Namun atasan mereka-lah yang seharusnya mempertanggungjawabkan semua permasalahan yang terjadi. Pertanyaannya adalah mengapa selama ini atasan keduanya sepertinya cuci tangan dalam masalah Bank Century?

Ketika terjadi persoalan Bank Century, posisi Boediono adalah sebagai Gubernur Bank Indonesia. Dan Sri Mulyani adalah Menteri Keuangan yang sekaligus menjabat Ketua Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK). Dan kebijakan pengaliran dana senilai Rp6,7 triliun adalah atas kebijakan mereka. Namun begitu kita semua tahu, bahwa jarang sekali pejabat kita berani melangkah (berimprovisasi), tanpa sepengatahuan pimpinan atau atasan mereka. Setiap langkah, hampir pasti mereka konsultasikan, minta petunjuk kepada atasan.

Artinya, apa yang dilakukan Boediono maupun Sri Mulyani terlebih dahulu dirundingkan dengan atasan mereka. Setidaknya, mereka melaporkan semua yang terjadi kepada pimpinannya. Lagi pula, saat rapat KSSK, hadir pula utusan Presiden, yakni Marsilam Simanjuntak, dalam kapasitasnya sebagai Ketua Unit Kerja Presiden untuk Pengelolaan Program Reformasi (UKP3R). Sehingga secara gambling Presiden pasti mengetahui semua persoalan yang terjadi. Namun, mengapa tudingan miring masyarakat bukan kepada pimpinan Boediono atau pun Sri Mulyani?

Jika benar bahwa Boediono maupun Sri Mulyani telah melakukan penyimpangan, atau tindakan di luar prosedur, sebagai pimpinan mestinya Presiden sudah tahu sejak awal. Dan sebagai atasan mereka, mestinya keduanya sudah ditindak, atau dikenakan sanksi. Faktanya? Tidak ada teguran—kecuali dari Wakil Presiden HM Jusuf Kalla (JK)—bahkan mereka kemudian diangkat menjadi Wakil Presiden dan Mneteri Keuangan. Dengan begitu maka asumsinya adalah, Boediono dan Sri Mulyani tidak bersalah. Kalau pun dianggap bersalah, kesalahan mestinya bukan pada mereka. Lantas kepada siapa semua kesalahan ini harus dilimpahkan?

Yang jelas mbak ani sudah menjawab dan melepas ‘resah dan gelisah’ yang dialaminya. Nah, apakah anda juga mengalami resah dan gelisah, lalu sudikah anda beliau jadi korban, seorang wanita yang saat ini menjadi simbol kebanggaan para penggiat pemberdayaan partisipasi perempuan dalam pembangunan, ataukah ada pendapat lebih bijak dari anda dibandingkan saya yang awam ini.Wallahualam.

SALAM DIALOG

Posted in: Hukum, Politik