SBY, Merenung

Posted on 6 Desember 2009

3


foto kompas.com

Presiden SBY dalam beberapa hari ini terlihat resah dan gusar menanggapi tudingan LSM bendera, ini terlihat setiap tampil pidato di depan publik hal ini selalu ditanggapinya, ini adalah fitnah yang sangat kejam, terlalu. Beliau mengatakan, ia dan keluarga besar Partai Demokrat tengah dirudung musibah dan cobaan terkait kasus Bank Century. Tudingan aliran dana Bank Century kepadanya dan sejumlah aktivis Partai Demokrat dinilainya sebagai musibah dan cobaan bagaikan halilintar di tengah hari bolong, seperti mimpi di siang bolong dan disambar gledek. SBY tak habis pikir bagaimana keluarga dan partainya dituduh menikmati aliran dana talangan Bank Century. SBY dan keluarga pun merenung. Hasil perenungan itu dibeberkan SBY saat berbicara dalam Rapimnas III Partai Demokrat (PD). SBY menuturkan, Allah dan para kader PD tahu, tidak satu rupiah pun yang tidak halal, tidak seharusnya menjadi pendanaan perjuangan partai. Itu adalah doktrin, falsafah dan praktek yang dilakukan PD.

Selain itu SBY juga merisaukan rencana aktivis Kompak yang akan mengerahkan 100 ribu massa turun ke jalan pada tanggal 9/12 dalam rangka peringatan hari Anti Korupsi Se Dunia, aksi ini seolah-olah SBY mengalami buah simalakama, dilarang ma’e mati, tidak dilarang p’e mati.

Kerisauan SBY menghadapi yang menurutnya ini musibah dan cobaan, akhirnya menuturkan beliau bersama keluarga pada tengah malam melakukan perenungan dan zikir, sehingga melahirkan kesimpulan seperti yang disampaikan dalam sambutan pembukaan Rapimnas PD di JHCC. Pertama, aksi massa itu dalam jangka pendek akan menggunakan isu skandal bank century untuk mendiskreditkan dan menjatuhkan pemerintahan SBY-Boediono, dan kedua, dalam jangka panjang akan mendiskreditkan PD agar kalah di pemilu 2014. Kedua tujuan ini dianggap sebagai aksi untuk pembunuhan karakter baik SBY maupun PD dan ini adalah fitnah yang kejam. Benarkah demikian……?

Selain kesimpulan hasil SBY merenung, beliau juga mengutarakan kalau sudah memegang data, fakta skenario aksi massa itu untuk menjatuhkan SBY, untuk soal ini akan saya tulis kemudian.

Sementara itu Fadjroel Rahman Koordinator Kompak, penggagas dan pengerah aksi massa ini, membantah keras tudingan SBY ini, kalau bersih kenapa risih, siapa takut ?, malah media massa ia mengundang SBY untuk hadir. Sikap SBY ini dianggap berbagai kalangan sebagai sikap yang berlebihan, panik, kekuatiran berlebihan alias paranoid menurut Fadjroel.

Patut di simak bahwa pernyataan hasil SBY merenung ini berikut fakta skenario yang diakuinya benar, sangat kontradiktif dengan pernyataan Ketua BIN sehari sebelumnya bahwa aksi 9/12 itu nanti tidak berbahaya.

SBY kemudian dalam Rapimnas PD meminta para peserta Rapimnas menyampaikan pada seluruh kader di Tanah Air agar menjaga kehormatan dan harga diri partai sebaik-baiknya. “Saya berpesan, di dalam memerangi kemungkaran, jangan kita gunakan cara-cara yang sama mungkarnya. Janganlah kita hancurkan nilai-nilai demokrasi dan etika dalam berpolitik,” demikian SBY.

Jika demikian halnya kenapa fitnah dilawan fitnah, jika SBY yakin dengan skenario yang diterimanya itu adalah wajar beliau segera menahan aktor iktelektual dibalik aksi massa itu, atau penumpang gelap yang akan menggunakan momentum itu untuk menjatuhkan pemerintah. Fitnah vis to fitnah hanya menjadi wacana berpolemik, membingungkan, lambat dan tidak tegas, sehingga wajar pula publik melihat, skandal bang sianturi ini seperti diulur-ulur dan adanya keterlibatan serta permainan politik tingkat tinggi, setinggi langit sehingga tiada orang mencapainya, bang sianturi pun berlalu tanpa ending yang jelas seperti kasus kriminalisasi Bibit-candra. wallahualam.

SALAM DIALOG

Posted in: Politik