Manusia Itu Mayat Berjalan

Posted on 5 Desember 2009

0


Seekor burung sudah dua tahun berada dalam sangkar, oleh sang majikan sangkar ini dibuat besar dan indah, kebersihannya juga terjaga dan si burung setiap hari serba berkecukupan. Baik si majikan dan orang yang menengoknya selalu tertarik menggoda si burung mendengar keindahan siulannya. Walau enak, namun si burung setiap hari selalu berpikir bagaimana bisa lepas dari sangkarnya, menikmati kehidupan alam bebas. Sampai suatu hari dia mogok makan dan pura-pura mati, sang majikan pun mulai kuatir karena sejak pagi ampe sore hari si burung tidak bergerak apalagi berkicau seperti biasanya. Akhirnya si majikan membuka sangkarnya dan mengambil si burung karena disangka sudah mati, tanpa disadari dalam moment yang tepat si burung langsung terbang tinggi meninggalkan sangkar dan majikannya. Majikan terlongo, si burung terbang menikmati alam bebasnya.

Ilustrasi ini sehingga muncul pepatah bijak, matilah sebelum mati, agar terbebas dari neraka dunia, hidup dibawah kendali hawa nafsu mengejar harta, tahta dan wanita. Kenapa demikian, karena sejatinya manusia itu hanya mayat yang berjalan, hidup dan bergerak hanya mimpi, sejatinya dunia itu memang mimpi yang dialami oleh manusia sebagai mayat berjalan.

Manusia itu mayat berjalan, busuk dan akan hancur setelah nyawa meninggalkan jasad. Sebelum hancur mayat itu berjalan dan busuk, karena setiap hari setiap detik-menit semua lubang ditubuh manusia mengeluarkan bau busuk, mengeluarkan tai, iya kan, tai hidung, tai mata, tai telinga, dan lain-lain, sampai puncaknya doyan berak dan kencing setiap hari. Walaupun anda kaya, cantik, tampan, hidup mewah, dan pejabat setinggi langit pun, bau itu tetap sama, busuk. Apalagi jika doyang jengkol, petai, dan korupsi, he..he..hehh……

Sejatinya hidup ini tidak mengenal kematian, karena yang hidup itu adalah nyawa/jiwa di mana ruh bersemayam, bukan jasad manusia, dia hanya kerangken jiwa, mayat, yang membatasi gerak jiwa. Selama dia bersama jasad, jadilah manusia itu mayat yang berjalan sampai ajal tiba, mati, jiwa terlepas dari jasad. Di saat itulah jiwa terlepas dari sangkarnya, seperti ilustrasi cerita burung diatas.

Semua manusia pernah mengalami mimpi, mimpi indah, sungguh mengasikkan. Demkian pula jiwa ini ketika terlahir, itulah saat disebut manusia (mayat berjalan), itulah saat jiwa mulai bermimpi dan akan berakhir saat nyawa meninggalkan jasad. Jadi sejatinya dunia ini cuma mimpi bagi manusia atau mimpi bagi si jiwa, saat lahir tidak membawa apa-apa, mati pun tidak membawa apa-apa, demikianlah mimpi itu datang ketika kita tertidur indah banget, seperti dialami, tetapi setelah mimpi berakhir, tak ada apa-apa yang kita dapatkan dari mimpi itu.

Manusia itu mayat yang berjalan, selama mata mayat masih normal, mimpi dunia semakin indah, ketika retina mata sudah rusak, mimpi dunia tidak indah lagi. Makan-minum jadi enak karena kerongkongan masih normal, demikian pula wanita itu menjadi enak dan indah jika mata masih normal dan syahwat masih berguna karena tenaga masih ada dan bisa ereksi. Dunia sejatinya hanya mimpi bagi jasad/mayat manusia yang masih bisa berjalan.

Jadi hidup ini seperti ketika kita tertidur lalu bermimpi, jadi masih banggakah dengan mimpi dunia yang kita capai, namun kata titah sang pencipta, manusia itu bodoh dan pelupa, uda gitu malah sombong, rakus dan tamak, korupsi pula, merasa benar sendiri lalu menghalalkan segala cara. Lupa kalau semua itu cuma mimpi.

Karena manusia itu hanya mayat berjalan dan hidup dalam mimpi dunia, marilah kita sama-sama membuat dunia ini menjadi mimpi yang indah bagi diri sendiri, keluarga, sahabat, masyarakat, negara dan bangsa. Hanya mimpi koq, malah dibuat ruwet dan susah. wallahualam.

SALAM DIALOG DI http://www.kompasiana.com/kalimasada07

Posted in: Paradigma Satu