SBY, Paranoid

Posted on 4 Desember 2009

2


Sejak minggu yang lalu Fadjroel Rachman koordinator Koalisi Masyarakat Sipil Antikorupsi (Kompak) mengkampanyekan akan menghadirkan 100 ribu massa untuk memperingati Hari Antikorupsi sedunia yang jatuh pada hari Rabu tanggal 9/12/2009.

Fadjroel mengakui, pada 9 Desember mendatang Kompak akan mengkoordinasikan aksi besar memperingati Hari Antikorupsi yang digelar di Bundaran HI dan Monas. Dia menyebut aksi itu ditargetkan diikuti oleh 100 ribu massa. Aksi ini juga digelar serempak di 33 provinsi. Dijelaskan Fadjroel, tujuan aksi adalah mengampanyekan gerakan Indonesia bersih korupsi. Tokoh agama, nasional, dan antikorupsi akan hadir. Siapa pun yang antikorupsi harus hadir.

Sementara itu beberapa tokoh masyarakat dan BEM di kampus-kampus sudah menyerukan agar pada hari itu (9/12) dijadikan hari libur nasional, karena diperkirakan massa yang dipelopori aksi mahasiswa akan tumpah ruah di jalan-jalan di berbagai kota besar.

Pada rapat paripurna kabinet (4/12), Presiden SBY mensinyalir aksi massa besar-besaran itu akan dimanfaatkan kelompok tertentu untuk tujuan politis. “Saya mendapatkan informasi, pada 9 Desember akan ada gerakan sosial. Sebagian ingin betul-betul ingin memperingati Hari Antikorupsi. Tapi ada informasi yang saya dapatkan, motifnya bukan itu, tapi motif politik yang tidak berkaitan dengan korupsi,” kata Presiden SBY. Bahkan Ada muncul satu tokoh yang lima tahun terakhir ini tiba-tiba muncul, ya selamat datang,” kata SBY.

Fadjroel menilai tudingan SBY dalam pidato itu sebagai tindakan paranoid, tudingan itu dinilai sebagai intimidasi terhadap rencana aksi Hari Antikorupsi Internasional yang akan dilakukan pada 9 Desember nanti. Sikap SBY ini disesalkan oleh para aktivis Kompak, malah Fadjroel mengundang SBY untuk hadir jika mengaggap dirinya bersih dan antikorupsi.

Dalam rilis kompas.com Fadjroel menambahkan, “Nah, kalau SBY antikorupsi dan bersedia membersihkan pemerintahan dari buaya-buaya koruptor, maka silakan bergabung. Dengan tulus kami mengundang SBY untuk bergabung untuk berkampanye membersihkan Indonesia dari korupsi dan buaya-buaya koruptor.”

Menurut Fajdroel, slogan Kompak selalu terang benderang, “Kalau Bersih, Kenapa Risih”.

Aksi ini diperkirakan akan banyak menyedot perhatian massa, terutama para aktivis LSM dan kelompok-kelompok mahasiswa karena momentumnya bersamaan dengan pengusutan skandal bank century yang dilakukan oleh Pansus Angket century dan KPK, secara tidak langsung aksi ini juga merupakan dukungan moril baik kepada dewan maupun lembaga-lembaga penyidik dan penuntut agar bekerja keras tanpa tebang pilih menuju Indonesia bebas korupsi. Hal ini bersesuaian dengan program pemerintah yang banyak menyedot pinjaman luar negeri yaitu PNPM Mandiri, program pemberdayaan dalam penanggulangan kemiskinan, dimana salah satu asumsi semakin suburnya persoalan kemiskinan di Indonesia karena semakin suburnya praktek korupsi dan sejenisnya yang berkembang seolah menjadi budaya ditengah masyarakat.

Fadjroel Rachman berkata, “kalau bersih kenapa risih…!”, dijawab lagu Bento oleh Iwan Fals, “bongkarrrrr……….!!!”. wallahualam.

Paranoid : adalah ajektiva, kata sifat, untuk penderita paranoia. Paranoia didefinisikan sebagai penyakit mental di mana seseorang meyakini bahwa orang lain ingin membahayakan dirinya. Sedang dalam kamus Webster, paranoia didefinisikan sebagai gangguan mental yang ditandai dengan kecurigaan yang tidak rasional/logis. (Wikipedia).

SALAM DIALOG DI http://www.kompasiana.com/kalimasada07

Posted in: Budaya