SBY Kena Fitnah

Posted on 27 November 2009

4


(foto dok.Inka)

(foto dok.Inka)

Jika pidato SBY akhirnya malah menimbulkan multitafsir, mungkin bisa dimaklumi karena begitu banyaknya informasi yang diterimanya, bisa dari staf ahlinya, watimpres, sms, politisi dari PD, para menterinya, dari Po Box, maupun dari Kapolri sendiri yang bagi SBY merasa sangat berutang budi kepada Kapolri BHD atas prestasinya menumpas terorisme.

Pidato itu memang tidak to the point alias blak-blakan menunjuk hidung, namun dari tolok ukur pendekatan kultur Jawa, isi pidato itu sangat tegas SBY memerintahkan penghentian penyidikan dan penuntutan Bibit-Candra, malah beliau berpendapat ada banyak permasalahan di tubuh kepolisian dan kejagung, perlu korektif atau reformasi, ini yang disebut pertama, kemudian menyusul, lembaga KPK terkait akan kasus ini. Jika dipahami itu bahasa halus, kasarnya sih, andai SBY orang batak atau bugis akan bilang, kalian itu polri dan kejagung sebenarnya sudah salah memperlakukan Bibit-Candra demikian, koreksi dan perbaiki dirimu (maksudnya kapolri dan kajagung) agar kembali dipercaya masyarakat tanpa saya perlu memecat kalian.

Jadi kesimpulannya SBY sudah memerintahkan penghentian penyidikan dan penuntutan Bibit-candra kepada kapolri dan kejagung, itu perintah, tapi mekanisme mewujudkan perintah itu ada pada Polri dan kejagung. Ibaratnya SBY mengatakan saat ini kita butuh air, tidak berarti SBY yang akan turun langsung mengangkat air, karena perangkat itu ada dalam birokrasi pemerintahan. Herannya sampai saat ini baik Kapolri dan Kejagung masih lelet di dalam mengambil keputusan, mungkin juga mereka tidak ingin terkesan, memang salah dalam hal ini.

Terkait kasus skandal bank century, pidato SBY juga melahirkan multitafsir karena beliau mengemukakan dua pendapat. Pada salah satu sisi SBY berpendapat seperti pendapat yang telah dikemukakan oleh sri mulyani dan boediono di dalam menanggapi hasil temuan BPK, bail out dilakukan karena kondisional yang memaksa. Namun pada sisi lain SBY juga menghendaki kasus ini dibongkar seperti yang akan dilakukan oleh DPR dalam pengajuan hak angket. Kenapa demikian karena SBY juga tidak bisa mangkir dari hasil temuan audit BPK yang menemukan banyak kejanggalan termasuk kemana aliran dana bail out century mengendap.

Sikap SBY itu dapat dikatakan sikap yang sangat hati-hati karena ke dua kasus ini sangat terkait, isunya, mengarah kepada SBY, beliau menyebutnya kena fitnah.

Namun demikian fitnah ini tidak datang begitu saja, sebagai pejabat publik nomor satu di negeri ini, wajar publik menganalisa ke arah itu. Mengapa demikian, karena sadar atau tidak sadar SBY sendiri yang mendatangkan fitnah tersebut.

Terkait isu tudingan publik SBY berada dibalik rekayasa kriminalisasi KPK, istilah ini ditolak oleh SBY bahwa kriminalisasi KPK tidak ada, yang ada adalah kriminalisasi yang dilakukan oleh media. Tudingan atau fitnah ini ada karena SBY lah orang pertama yang memberi cap menyudutkan KPK.
“Saat bertemu dengan Pimpinan Harian Kompas, pada 24 Juni, SBY menilai kedudukan komisi menjadi seperti superbody. Dalam pertemuan itu, SBY menyatakan, “Terkait KPK, saya wanti-wanti benar power must not go uncheck. KPK ini sudah powerholder yang luar biasa. Pertanggungjawabannya hanya kepada Allah. Hati-hati.”

Pernyataan SBY ini tentu bukan main-main dan keshilafan atau muncul begitu saja, tentu sudah melalui dialog dengan orang-orang dekatnya, karena dikemukakan dalam suatu pertemuan khusus dengan Pimred Kompas, media terbesar dan berpengaruh di Indonesia.

Terkait skandal bank century SBY juga kena fitnah, dana bail out dituding mengalir ke Tim kampanye SBY, fitnah ini muncul karena proses bail out memang menjelang masa-masa pemilu, apalagi beberapa nasabah kakap seperti hartati murdaya po adalah donasi besar kampanye SBY yang dilakukan misalnya di kemayoran. Menjadi pertanyaan besar, seperti pendapat Todung Mulya Lubis, koq ada orang berduit besar menyimpan dananya di bank kelas teri, dan kenapa pula di bail out dengan talangan besar 6,7 trilliun.

Dengan demikian untuk keluar dari kemelut fitnah ini, memang dibutuhkan sikap tegas SBY, saya kira beliau sangat memahami ini. Wallahualam.

SALAM DIALOG di http://www.kompasiana.com/kalimasada07

Posted in: Politik