Tanggapan Atas Pak Pray, Kasus Century Sebuah Konspirasi Besar

Posted on 24 November 2009

0


Awalnya saya berpikir dengan judul tulisan pak pray, kasus century sebuah konspirasi besar, saya mengaggap pak pray sedang mengulas bangkin crime sebagai sebuah konspirasi besar sehingga skandal kasus century ini mencuat, ternyata justru sebaliknya pak pray pada kesimpulan mengaggap bahwa orang-orang atau para politisi yang mengangkat kasus ini, telah melakukan konspirasi besar untuk menjadikan boediono sebagai target korban permainan politik, yang menurut pak pray adalah politik yang menghalalkan segala cara. Saya pun mahfum karena pak pray adalah fans berat sby, untu lebih jelasnya saya kutip beberapa kalimat tulisan itu :

Dari kasus Bank Century tersebut, nampaknya terbaca sebuah upaya penekanan terhadap pemerintah yang coba dijatuhkan baik “trust” maupun “credibility.” Semula yang terbaca adalah upaya terselubung untuk merusak citra SBY dan Partai Demokrat, disangkutkan dalam penggelontoran pergerakan uang haram tersebut. Penelitian lebih lanjut, rumor yang dilempar ternyata bertujuan untuk menarik perhatian publik kearah kasus tersebut. Pembuat skenario berusaha agar kasus ini tidak masuk angin, dimana hukum di negeri ini nampaknya demikian rapuh dan masuk angin. Banyak pihak meniupkan uang itu masuk kekantong Partai Demokrat demi untuk kepentingan pemilu dan pilpres, bahkan menyangkutkan beberapa pejabat yang menjadi tim sukses presiden. Kini setelah Presiden menyatakan dan mempersilahkan agar kasus Bank Century dibuka lebar-lebar dan transparan, semua menjadi lebih terang. Rupanya hasil investigasi internal memang demikian adanya, oleh karena itu SBY dengan gagah berani menyatakan soal transparansi tersebut.

Nah, bagaimana “ending” kasus ini?. Pasti akan ada yang menjadi korban, karena tercatat adanya aliran dana yang tidak jelas, keluar dari aturan dan berbau kriminal. Dengan demikian, secara juridis formal pasti akan ada yang disalahkan, yaitu Pak Boediono dan Sri Mulyani. Menku bukanlah target utama, yang menjadi “prominent target” adalah Pak Boediono. Keputusannya tentang “bail out” pada saat menjabat Gubernur Bank Indonesia nampaknya akan dapat menyeret dirinya menjadi orang yang disalahkan. Lantas? Posisinya itulah yang kini diincar oleh si pembuat skenario. Kelemahan Boediono yang akan mereka serang, sebagai profesional, bukan politisi yang seharusnya mampu “berkelit” dalam menghadapi upaya perusakan citra dan pelibatan dalam sebuah kasus berbahaya.

Apakah kita pernah berfikir bahwa dalam ranah politik masih terdapat orang-orang yang demikian besar ambisinya untuk menduduki jabatan?. Kini yang mereka incar adalah jabatan wapres itu, mungkin sebagai pijakan untuk menjadi RI-1 pada 2014 nanti. Menghalalkan cara adalah salah satu istilah yang telah ada sejak lama apabila kita berada di arena politik. Jabatan Menteri keatas adalah jabatan politis, yang oleh karena itu dia yang duduk disitu harus faham dan faseh ilmu politik. Jadi, mendatang kita akan melihat sebuah pertandingan adu pintar antara Partai Demokrat dengan partai besar lainnya.more

Dalam pandangan awam saya yang sederhana begini pak pray, tudingan publik saya kira wajar bahwa ada dana century hasil bail out mengalir ke tim PD-SBY karena dikaitkan posisi hartati murdaya sebagai donasi kampanye PD-SBY, itu harus diakui dan pada saat yang sama beliau juga adalah nasabah kakap bank century, seperti juga yang terjadi pada budi sampurna. untuk membuktikan aliran dana ini tentu sangat sulit, saya kira tidak sebodoh itu mereka melakukan dan proses transfer antar bank, tentu dilakukan dengan penarikan cara tunai dan penyerahan secara tunai.

Pada awalnya DPR hanya merestui suntikan dana sebesar 1,3 triliun, namun kemudian yang terjadi lebih dari itu tanpa sepengetahuan anggota dewan.

Robert tantular pemilik bank juga sudah divonis penjara, artinya tentu ada persoalan pelik di bank itu, polisi juga saat ini mengusut kasus pencucian uang di bank century, kenapa semua itu bisa terjadi tentu kata kuncinya ada sama boediono karena kala itu menjabat sebagai gubernur BI, dia pemilik otoritas untuk itu. Belakangan semua mengakui bahwa BI memiliki kelamahan di dalam pengawasan, nah, siapa yang harus bertanggungjawab dengan fakta ini, apakah boediono dianggap khilaf dan lalai, khilaf dan lalai pun sudah terkena KUHAP, seperti seorang pengendara tak sengaja menabrak orang lalu mati. sama-sama lalai. kalau mereka mengganggap ini bisa jadi bank gagal dan berdampak sistemik, harusnya BI juga dari awal sudah mengawasi secara sitemik.

Artinya bank century gagal bukan karena dampak krisis moneter global, sudah gagal baru krisis global itu datang, jadi tidak mendasar alasan bail out dilakukan dengan alasan adanya masa terjadi krisis global, bukankah menurut pengakuan sri mulyani Indonesia tidak terlalu banyak terpengaruh imbas dari krisis global tersebut, ataukah karena telah membail out bank century sehingga indonesia tidak seperti itu. Dengan mengatakan bahwa bank century berdampak secara nasional, sistemik dalam dunia perbankan, lalu apa peran bank-bank milik pemerintah yang umumnya bermodal besar di dalam menjaga stabilitas perekonomian kita ?

lalu sby dalam pidatonya bahwa kasus ini harus dibongkar seterang-terangnya, seperti yang juga diungkapkan oleh anas urbanigrum, persoalannya koq baru sekarang ngomong gitu, setelah DPR mengajukan hak angket, alasannya menunggu hasil audit BPK, bukankah saat pidato sby baru menerima laporan hasil audit BPK dan beliau baru akan mempelajarinya ? demikian juga DPR.

Sekarang sby-PD menganggap hak angket itu perlu, lha kemarin-kemarin mana ada anggota DPR PD yang ikut tanda tangan, malah mereka semua menolak. padahal hak angket itu adalah suatu proses biasa untuk menerapkan fungsi kontrol para wakil rakyat, di mana pak pray juga salah seorang pemilihnya.

Hak angket perlu sesuai slogan sby lanjutkan, agar nampak siapa politisi yang menghalalkan segala cara. kalau dari dulu sby-PD, boediono sudah merasa benar, lalu kenapa takut, bongkar saja, toh sudah ada desakan publik dan meredakan fitnah yang terjadi. Fitnah itu lebih kejam dari pembunuhan, tetapi orang yang berbuat pun sehingga muncul fitnah, itu juga lebih berbahaya.

nah, bagaimana jika fakta membuktikan bahwa boediono terlibat berikut sri mulyani, bukankah ini juga merupakan konspirasi besar termasuk politik menghalalkan segala cara, sehingga boediono bisa menjadi wapres.

lalu diakhir tulisan pak pray bertanya, kapankah kita serius membangun ?, barangkali yang perlu ditanyakan, sudahkah kita selama ini membangun secara benar ?

Saya hanya mengandaikan bahwa selama ini kita minum kopi tanpa gula, jika diberi gula juga tidak diaduk, tapi apa boleh buat kita perlu hidup dan ngopi, kopi pahit pun kita embak, daripada kepala pusing karena belum minum kopi. nah sekarang era reformasi (seperti kata sby pidato) kita sudah disediakan kopi panas dan gula, mari kita masukkan gula itu ke dalam kopi lalu kita aduk-aduk sampai larut, ademkan sedikit, nikmatilah kopi mantap itu, enak kan…!

Maaf pak pray saya menanggapi bapak sebagai kaum muda, di mana bapak generasi terdahulu kami, banyak makan asam garam di tata kenegaraan, seharusnya bapak lebih arif melihat persoalan dan tidak memberi vonis, seperti yang bapak paparkan. wallahualam.

Suwun

SALAM DIALOG di http://www.kompasiana.com/kalimasada07

Posted in: Politik