SBY; Peragu Atau Benturan Kepentingan ?

Posted on 22 November 2009

2


Alih-alih mensukseskan program 100 hari SBY-Boediono, kira-kira sampai hari ini 100 hari lewat sudah perseteruan Polri vs KPK (bibit-candra) yang tak kunjung selesai, akankah hari ini atau besok SBY akan memberi keputusan penting terhadap persoalan ini atau kembali SBY menyerahkan persoalan ini ke jalur prosedur hukum (baca=sesuai keinginan Kapolri dan kejagung). Pembentukan Tim 8 oleh SBY sebenarnya public sudah bernafas lega dan berharap hasil kerja tim 8 dapat menjadi rekomendasi penting bagi SBY untuk segera menuntaskan persoalan ini, namun kehadiran tim 8 seolah menambah kusut persoalan ini di mata SBY, maka tak pelak lagi sejumlah kalangan baik personal maupun kelompok menuding SBY memang lamban karena seorang peragu.

Pembentukan tim 8 memang terjadi diluar scenario atau perkiraan SBY, tim ini dibentuk tiba masa tiba akal karena munculnya kekuatiran semakin maraknya aksi massa dan opini public yang mengecam Polri, ujung-ujungnya kemudian SBY menjadi sasaran sorotan public karena dianggap tidak peduli dengan persoalan ini. Hasil rekomendasi tim 8 kemudian tidak sepenuhnya di terima oleh SBY, mungkin, ternyata hasilnya di luar dugaan yang diperkirakan sebelumnya. Akhirnya pemunculan tim 8 hanya menjadi sesi jeda, mengulur-ngulur waktu, tentu harapannya akan ada solusi yang tidak mempermalukan Kapolri dan Kejagung.

Ungkapan SBY yang tidak ingin di dorong-dorong dan dipaksa-paksa untuk mengambil keputusan sudah merupakan jawaban tegas, SBY sangat sulit menerima dan merealisasikan rekomendasi tim 8. SBY mungkin menyesali membentuk tim 8 atau merasa terpaksa telah membentuk tim tersebut, namun perlu diketahui inisiatif pemanggilan beberapa tokoh ke istana Negara sebagai titik awal terbentuknya tim 8 itu merupakan inisiatif SBY sendiri.

Salah satu kesimpulan rekomendasi tim 8 adalah menyoroti kinerja penyidik dan penuntut yang tidak profesional, tentu hal ini terkait kasus penyidikan Bibit-Candra. Klausul itu mengatakan bahwa tim penyidik tidak bisa bekerja secara lepas, bebas dan independent di dalam mengembangkan penyidikan karena adanya tekanan dari atasan yang memiliki benturan kepentingan. Dengan kata lain baik Kapolri maupun SBY dapat dikatakan ada ‘scenario’ kepentingan yang ingin dicapai sehingga Bibit-Candra perlu dijadikan tersangka., asumsi ini sudah jamak diamini oleh para penggiat peduli KPK.

Benarkah SBY seorang peragu sehingga dianggap lamban dan lelet mengambil kebijakan ? seperti yang juga diamini oleh para pengamat politik, bagi saya yang awam tidak sepenuhnya benar.

Seorang jenderal TNI (mantan) mengakui bahwa sejak berkarir di militer, SBY memang dikenal peragu dan lamban di dalam mengambil keputusan. Di jaman Orba Pak Harto menjadi lokus utama pengendalian jenjang karir baik di birokrasi dan militer, tanpa restu beliau atau sedikit saja ada kata terucap yang membuat pak harto tersinggung, jangan berharap seorang TNI bisa mencapai jenjang kepangkatan perwira terutama perwira tinggi, jenderal. SBY adalah mantu dari jenderal Sarwo edi wibowo, di jaman Orla pak harto punya pengalaman buruk dengan pak sarwo sehingga beliau ada rasa tidak suka, kesuksesan pak harto adalah masa tenggelamnnya karir militer pak sarwo di masa itu. Kondisi ini secara cerdas sangat dipahami oleh SBY, sehingga beliau sangat hati-hati di dalam karirnya dan pak harto sangat diguguinya. SBY sebagai perwira jenderal tampil sebagai anak manis, namun sikap itu tidak membuat pak harto membawanya dalam ring satu gerbong kekuasaan yang dimilikinya.

Menjelang kejatuhan pak harto, SBY sedikit demi sedikit mulai menampakkan tajinya, seorang jenderal kutu buku, karena pak harto jarang memposisikan beliau sebagai jenderal lapangan, SBY menjadi penggagas merevitalisasi peran dwi fungsi ABRI (TNI), sampai kemudian peran ini dibubarkan.

Pada masa pemilu 1999 bintang SBY belum bersinar karena masa ini gerakan reformasi menguatkan ketokohan Amin Rais, Gus Dur, dan Mega sebagai kekuatan sipil sehingga SBY sebagai militer masih menunggu momentum, waktu baik untuk muncul sebagai pemimpin nasional karena masa ini adalah masa paceklik kepercayaan terhadap militer yang umumnya merupakan kaki tangan pak harto. Gayung pun bersambut, SBY dipercaya memegang jabatan Menko Polkam. Posisi ini tidak disia-siakan oleh SBY, ditengah carut-marut ketidak puasan public atas kepemimpinan Gus Dur, termasuk kepada partai politik besar yang ada, tanggal 9 september 2001 SBY mendirikan Partai Demokrat. Niat mendirikan partai ini sudah merupakan pertanda SBY memiliki obsesi besar tampil sebagai pemimpin nasional, sehingga di jaman Mega SBY berani mundur sebagai menko polkam, kembali merapatkan barisan menyusun langkah politik meraih bintang.

Pada pemilu 2004 diluar dugaan semua orang, SBY berani dalam surat tertulis pribadi menawari JK sebagai pasangan yang saat itu JK mengikuti konvensi Golkar pemilihan capres-cawapres yang akan diusung oleh Golkar. Menguatnya isu KTI adalah momentum bagi munculnya ketokohan JK, pilihan SBY saat itu dianggap sangat cerdas sebagai solusi keluar dari kekusutan carut-marut politik di dalam memilih pemimpin nasional.

Dari kisah diatas jelas SBY sebenarnya bukan seorang peragu apalagi lamban, SBY adalah tokoh yang pandai menemukan dan memainkan momentum untuk tampil ke depan. Pada awalnya dijadikannya Bibit-Candra sebagi tersangka, tidak mungkin dan anak kecil juga tahu, bahwa Kapolri tidak mungkin bertindak sendiri tanpa konsultasi dari SBY. Setelah peristiwa ini SBY malah bereaksi cepat, akan segera mengeluarkan Perppu dan kepres Plt pengganti 3 pimpinan KPK, peristiwa terakhir SBY tak diduga tiba-tiba mengganti 3 kepala staf TNI.

Dengan demikian rekomendasi tim 8 untuk menghentikan penyidikan Bibit-Candra sebagai temuan, tentu SBY tidak bisa begitu saja mengikuti dan menyalahkan Kapolri, karena penyidikan itu memang atas restunya. Jadi sebenarnya SBY bukan peragu tetapi beliau adalah ‘savety personality’ alias slumun-slumun slamet. Selama tidak ada benturan kepentingan yang mengganggu savety personality itu, maka SBY bisa mengambil keputusan cepat. Selain itu ciri-ciri kepribadian seperti ini adalah bersikap reaksioner, contoh sikap ini barangkali saya tidak perlu ulas, karena untuk membangun citra dan rasa simpati public sikap reaksioner memang dibutuhkan. Wallahualam.

SALAM DIALOG DI http://www.kompasiana.com/kalimasada07

Ditandai: , ,
Posted in: Politik