Celoteh Cewek Vs Cowok

Posted on 14 November 2009

0


Ilustrasi Foto by_noahandharoldsgirl

Ilustrasi Foto by_noahandharoldsgirl

Cewek adalah makhluk yang bukan cuma menikmati enaknya menjadi pihak yang mengambil sebagian besar keputusan dalam hubungannya dengan cowok. Kebebasan cewek jauh lebih luas daripada itu, dan melihat hal ini, sepertinya nasib cowok makin sial aja. Kalau kamu cowok, coba liat di sekeliling kamu. Berapa banyak cewek yang kerja sambilan, nganggur, main-main aja, kerjanya menghamburkan uang ortu (atau uang pacar), sekolah gagal tinggal kawin, sengaja hamil untuk menjerat cowok, dan sejenisnya?

Coba liat pengakuan seorang cewek di bawah ini. Mirip seperti kebanyakan cewek-cewek di sekitar kamu nggak? “Abis kuliah saya pengen kerja dulu. Moga-moga aja kemudian saya ketemu Mr. Right. 1-2 tahun setelah nikah, saya pengen punya anak. Supaya saya bisa merawat anak, mungkin nanti saya berhenti kerja. Kalo anak saya udah agak gede, mungkin saya mulai kerja lagi part-time, supaya waktu saya bisa fleksibel. Oh iya, saya juga ada hobby menjahit lho. Mungkin nanti saya coba iseng-iseng merancang pakaian wanita. Jual kosmetik juga saya suka tuh, dan saya tertarik sekali untuk iseng-iseng. Siapa tau laku. Kalo semuanya nggak jalan juga saya nggak usah takut. Kan ada suami saya. Siapa tau malah suami saya pengen punya anak lagi.”

Pernah liat atau denger cerita nyata semacam itu? Kalo nggak pernah, kamu nggak usah pusing carinya. Tengok aja ke kiri dan ke kanan. Coba liat berapa banyak cewek yang sebentar mau kerja, sebentar mau stop, sebentar mau kerja lagi tapi part-time, sebentar cuti hamil, dan seterusnya. Liat juga yang sama sekali nggak mau kerja dan tinggal “layani” suami kalo suami “lapar.”

Apa sih maksud Prof di sini? Begini lho. Prof sih nggak ada problem sama apa pun maunya cewek, tapi Prof punya problem besar sama cewek yang protes dan mengeluh melulu tentang apa yang mereka lakukan. Kalo cewek merasa hidupnya nggak berarti dengan diam di rumah dan mengurus rumah tangga, kenapa nggak angkat pantatnya dan kerjain sesuatu aja? Kenapa dia harus menggerutu melulu sama suaminya mengenai susahnya jadi ibu rumah tangga? Kenapa dia harus ngomel sama suaminya bahwa kerjaan rumah lebih berat daripada kerjaan cowok di luar rumah?

Terus terang aja, kalo kamu cowok, kamu nggak bisa punya pilihan seenak cewek. Kamu nggak bisa pilih jadi bapak rumah tangga. Kamu nggak bisa pilih diam di rumah untuk mengasuh anak, sementara istri kerja di luar rumah. Kamu nggak bisa juga berpenghasilan lebih kecil daripada istri kamu, karena nanti istri kamu mulai memandang kamu rendah. Dengan kata lain, kalo kamu cowok, seumur hidup tangan kamu “diborgol” ke meja tulis kamu di kantor (atau di mana pun juga kamu bekerja). Kecuali kamu nanti bisa jadi segelintir orang-orang hoki yang bisa santai menikmati masa pensiun, kamu BAKAL KERJA SAMPAI MATI!!!

Kalo kamu cowok yang nggak percaya perkataan Prof mengenai nasib cowok, coba aja kalo kamu nge-date sama cewek, kamu ikutin test Prof ini. Kalo cewek itu tanya mengenai cita-cita atau rencana masa depan kamu, kamu bilang bahwa kamu pengen urus rumah, asuh anak, dan kerjain pekerjaan rumah tangga (nyuci, masak, sapu lantai, ngepel lantai, berkebun, betulin genteng bocor, dsb.). Kamu bilang juga bahwa kamu lebih suka istri kamu yang kerja di luar, karena menurut kamu pekerjaan rumah tangga itu lebih berat daripada pekerjaan di kantor. Coba kamu itung berapa banyak cewek yang masih mau keluar nge-date sama kamu lagi! Itung juga berapa banyak yang mau kasih kamu coba vaginanya lagi! Prof jamin hasilnya NIHIL!!!

Sebaliknya, kalo cewek yang bilang seperti yang di paragraf sebelum ini, cowok hampir nggak pernah keberatan kan? Itulah sebabnya Prof bilang cewek lebih punya banyak pilihan. Mau berkarir bisa, dan mau jadi ibu rumah tangga pun bisa. Di lain pihak, cowok nggak punya pilihan. Dari kecil cowok udah diprogram untuk menjadi kuda pekerja, dan sebagian besar kuda-kuda pekerja ini harus kerja sampai mati. Cowok nggak pernah bingung mikir mau kerja atau mau diem di rumah, karena pertanyaan semacam itu nggak perlu dipertanyakan lagi. Kalo cowok mau punya cewek, dia harus kerja sampai mampus.

Selain itu, siapa bilang pekerjaan rumah lebih berat daripada kerjaan di luar rumah? Orang yang kerja di luar rumah nggak bisa seenaknya. Kalo hari ini rasanya males, nggak bisa tidur sampai siang dan masuk kerja lagi kalau malesnya udah hilang. Kalo sakit pun harus berusaha sembuh secepatnya, supaya boss nggak berpandangan buruk. Orang yang kerja di luar rumah setiap hari harus menghadapi macet di jalan dan menghirup asap beracun dari kendaraan bermotor, harus rajin supaya dapet kenaikan gaji dan nggak dipecat boss, harus bertanggung jawab kalau hasil kerjanya ngaco, harus membina reputasi profesionalnya, harus bersaing dengan rekan-rekan kerjanya, harus mengikuti perkembangan lapangan pekerjaannya, harus bisa menyelesaikan tugas dalam batas waktu yang diberikan boss, harus bisa bertindak cool dan berkepala dingin dalam situasi mendesak, harus bisa mempertahankan dirinya kalau ada kritik pedas dari orang lain, dan masih banyak lagi.

Di lain pihak, orang yang bekerja di rumah (misalnya, mengurus rumah tangga) nggak diteror oleh tekanan-tekanan semacam itu. Kalau kerjaan rumah nggak beres, masih bisa sambung lagi keesokan harinya. Kalau hari ini males belanja makanan, mungkin bisa tinggal panasin makanan microwave yang ada di kulkas. Cewek yang masaknya nggak enak nggak bakal dipecat sama cowoknya. Cewek yang kerjanya males pun masih ketolongan kalau di rumah punya pembantu. Cowok yang kerja di luar rumah nggak punya kenyamanan seperti ini. Karena itu yah, cewek-cewek whiny (whiny= cerewet minta ampun)…stop menggerutu hari ini juga!

Sebagai pencari nafkah utama, setiap hari cowok diuber-uber oleh cicilan rumah, cicilan mobil, rekening listrik, rekening telepon, pajak properti, iuran rumah tangga, uang sekolah anak (bagi yang udah punya anak), dan masih banyak lagi. Suka atau nggak, cowok harus lari lebih cepat daripada semua tuntutan itu.

Sialnya, kerja rodi cowok ini kurang mendapat penghargaan. Cewek memang selalu bilang bahwa usaha mereka mengurus rumah tangga yang kurang dihargai dan kurang mendapat recognition dari masyarakat dan cowoknya sendiri. Prof bilang, mau dihargai seperti apa lagi? Udah jelas pekerjaan rumah tangga itu lebih santai dan lebih kecil resikonya. Bayangkan kalau cowok sampai kehilangan pekerjaannya. Salah-salah dua-duanya tinggal di jalanan!

Kerjaan rumah cewek nggak dievaluasi setiap 3 atau 6 bulan. Kalau kerjaan kurang beres pun nggak bakal ada penurunan gaji. Cowok (terutama cowok kaya) jarang keberatan kok punya cewek yang nggak begitu rajin dan pandai mengurus rumah. Cuma satu hal yang bisa bikin cowok keberatan: kalau ceweknya nggak good in bed atau kalau ceweknya pelit kasih pinjam anunya. Kalau di department ini cewek itu pintar, cowok mah kebanyakan mau aja kok.

Akhirnya, perlu Prof tekankan di sini bahwa kurangnya penghargaan bagi kerja keras cowok di luar rumah itu juga memberi beban tambahan bagi cowok. Hanya karena cowok dipandang sebagai kaum yang lebih kuat tenaganya daripada cewek, bukan berarti cowok bisa jadi superman yang pulang kerja masih harus bantu istri/pacarnya mengerjakan pekerjaan rumah. Ini salah satu penyakit sosial di jaman sekarang.

Kalo kamu adalah cowok yang mencari 100% nafkah bagi kamu sendiri dan pacar/istri kamu (mungkin juga bagi anak kamu), kamu berhak menolak untuk membantu cewek kamu dengan pekerjaan rumah tangga. Kamu nggak punya kewajiban untuk menyapu lantai, mengepel lantai, cuci kamar mandi, masak, seterika pakaian, cuci pakaian, dan sebagainya. Apalagi kalau kamu punya pembantu rumah. Udah jelas kerjaan cewek kamu semakin ringan lagi.

Cewek-cewek yang baca artikel ini pasti protes bahwa dalam hal ini posisi cowok enak sekali, karena tinggal keluar uang untuk bayar tagihan-tagihan dan keperluan hidup. Yang nggak dipikirkan oleh cewek adalah kegigihan cowoknya untuk memeras tenaga dan pikiran, serta kemauannya untuk membanting tulang dalam pekerjaannya setiap hari. Tanpa semua itu, cowok nggak bisa tinggal keluarin uang seenak jidat. Hei, mau datang dari mana uangnya? Memangnya jatuh dari langit? Memangnya ada orang yang sumbang secara suka rela? Nggak ada!

Kenapa cewek cenderung berpikir bahwa cowok enak-enakan dan tinggal merogoh kantongnya? Karena cewek hampir nggak pernah liat gimana susahnya cowok di tempat kerja. Karena cewek nggak dengar keluhan cowok yang memaksa dirinya setengah mati untuk bangun setiap pagi dan pergi kerja, walaupun rasa lelah dari kerjaan di hari sebelumnya belum hilang (cowok normal jarang mengeluhkan hal-hal kecil). Karena cewek, terutama cewek cakep, nggak perlu kuatir seperti cowok mencemaskan keuangannya. Inilah penyebab dipandangnya cowok sebagai pihak yang “tinggal merogoh kantongnya.”

Apapun argumentasi yang diluncurkan oleh cewek-cewek, pada akhirnya harga pasaran seorang cowok hanya berkisar pada hal-hal yang erat hubungannya: uang, kekuasaan, dan gengsi (prestige). Cowok yang nggak memilih (dan memiliki) hal-hal semacam itu biasanya kurang menarik bagi cewek-cewek.

Yang Prof persoalkan di sini bukanlah pilihan cowok yang terbatas. Itu memang udah nggak bisa diubah lagi. Yang Prof permasalahkan adalah komat-kamitnya mulut cewek yang nggak puas dengan pilihan hidupnya tanpa melakukan sesuatu yang nyata untuk mengubah ketidakpuasannya. Tentu saja, Prof juga puji cewek yang urus rumah tangga tanpa protes bahwa kegiatannya kurang dihargai sementara cowoknya cari uang di luar.

Terutama, Prof acungkan dua jempol bagi cewek yang nggak memaksa cowoknya untuk membantu pekerjaan rumah kalau semua pemasukan 100% datangnya dari kerjaan si cowok di luar rumah. Buat cewek-cewek yang pendapatnya 180° berlawanan, SILAKAN NIKMATI JARI TENGAH PROF!!!

Ini bukan bias gender, cuma sekadar permaianan sarkasme liku-laka kehidupan, jadi buat cewek dan cowok jangan marah ya……

Kunjungi di http://www.kompasiana.com/kalimasada07