Kapolri BHD VS Cak Nur

Posted on 8 November 2009

0


Dalam Raker dengan Komisi III DPR, Kamis hingga Jumat dini hari (5-6/11/2099), Kapolri menyampaikan kecurigaannya bahwa KPK tidak menindaklanjuti temuan bukti aliran dana ke mantan Menhut MS Kaban dari PT Masaro Radiokom disebabkan Wakil Ketua Pimpinan KPK Chandra M Hamzah punya kedekatan dengan MS Kaban. Kedekatan ini berkaitan dengan almarhum Nurcholis Madjid (Cak Nur).

Kapolri menduga Chandra memiliki utang jasa terhadap Kaban karena diperkenalkan dengan Nadia Madjid, putri Cak Nur. Lewat Kaban, akhirnya Chandra pun menikahi Nadia pada 1994 silam, meski akhirnya kedua pasangan ini bercerai. Dengan cerita inilah, Kapolri menduga Chandra tidak memproses kasus Kaban itu.

Namun hal ini dibantah oleh istri Cak Nur, Omi Komaria. Menurut Omi, Cak Nur tidak kenal dengan Kaban. Omi mengaku sedih almarhum suaminya dikait-kaitkan dengan persoalan ini. “Saya sedih mendengar berita tentang Kapolri yang menyebut nama Cak Nur dan Nadia,” kata Omi.

Kutipan di atas saya ambil dari salah satu situs online, dengar pendapat itu bukannya meredam persoalan malah memunculkan persoalan dan musuh baru bagi Kapolri. Sepertinya Kapolri sudah kalap dari tekanan public dan kebelet, geram, mau memenjarakan kembali Bibit dan Chandra, mencari segala cara agar KPK bisa rontok bertekuk lutut kepada Polri, terbukti dengan usaha keras Polri segera melimpahkan berkas penyidikan Bibit-Chandra ke pengadilan yang selama ini sudah beberapa kali dikembalikan karena kelengkapan bukti penuntutan tidak memadai.

Antara penyuap dan penerima suap keduanya terkena pasal kejahatan, anggap saja benar Bibit dan Chandra menerima suap lalu disidik dan ditahan Polisi, lalu kenapa si penyuap yaitu anggodo malah tidak disidik dan ditahan, padahal ary muladi sendiri sudah mengakui kalau dia di suruh sama anggodo. Kalau dugaan kapolri benar ada aliran dana ke MS Kaban, seharusnya kapolri kan bisa memeriksa anggodo untuk memastikan kebenaran dugaan itu dan tanpa perlu mengkait-kaitkan apakah Cak Nur, MS Kaban, dan Chandra punya hubungan khusus atau tidak.

Seorang pemabuk kehilangan kunci di malam hari, lalu mencarinya di sebuah pos ronda yang terang benderang kemudian datang seorang bertanya, “pak lagi nyari apa ?,” “nyari kunci saya yang hilang,” jawab si pemabuk. “Emang hilangnya di mana Pak ?,” “ di sana tuh…,” jawab si pemabuk menunjuk suatu tempat yang gelap. “lho koq nyarinya di sini pak ?,” “kan di sini terang, di sana gelap,” jawab si pemabuk sambil mencari-cari kuncinya di seputar pos ronda.

Mungkin demikianlah cara kerja Kapolri mengusut persoalan ini, kepala yang gatal malah dengkul yang digaruk.wallahulam.

Kunjungi di sini SALAM DIALOG

Posted in: Hukum