Dilema SBY

Posted on 8 November 2009

2


P1130376

Baliho penyambutan kunjungan SBY ke Kab.Simalungun Sumut (dok.Ika)

Bagai makan buah si malakama, di makan ibu mati, tidak di makan bapak mati, dibuang atau ditanam malah awak yang mati. Dibalas teman saya, “kalau saya sih tidak usah di makan, toh…bapak saya sudah lama almarhum.” Mungkinkah di lema ini dialami SBY dan ke mana akan memilih ?, menghadapi perseteruan Polri vs KPK.

Pastinya dilema ini dalam pandangan awam sudah ada di benak SBY, ironinya terjadi di awal-awal kepemimpinannya yang kedua, kondisi ini bisa menimbulkan pertanyaan lanjutkan, benarkah SBY-Boediono memang menang telak 60, 89 % di Pilpres kemarin, atau bisa juga karena besarnya dukungan itu, perhatian dan kepedulian publik kepada SBY begitu besar, sehingga adalah wajar kemudian sikap awal SBY tidak akan campur tangan dalam kasus ini, termasuk kasus bank century.

Dikatakan SBY tidak campur tangan, tidak sepenuhnya benar, karena seperti pendapat Thamrin Tomagola, Sosiolog UI, kriminalisasi KPK berawal dari tudingan SBY sendiri, KPK sebagai lembaga superbody, pendapat SBY ini menjadi stimulus bagi Polri untuk mengobok-obok KPK. Tindakan SBY mengeluarkan Kepres Plt terhadap pergantian Pimpinan KPK Bibit-Chandra, walaupun mereka belum terbukti benar, sudah merupakan bukti nyata SBY campur tangan terhadap persoalan ini. Pembentukan Tim 8 TPF adalah modus SBY untuk mengembalikan citra bahwa beliau tidak campur tangan terhadap masalah ini, namun hasilnya kemudian bisakah SBY merealisasikan semua rekomendasi TPF, ataukah hasil akhir nanti TPF hanya bernasib sama dengan TPF fakta lain yang pernah dibentuk seperti kasus kematian Munir atau kasus kerusuhan Mei 1998, atau yang lebih nyata kasus BLBI, semua menguap entah kemana juntrungannya.

Ada yang menarik dari hasil pemeriksaan TPF terhadap Kabeskrim Komjen Susno di watimpres, di mana Susno lebih banyak diam, menurut pendapat Amir Syamsuddin (anggota TPF, pengacara dan Politisi PD) ketika menemukan fakta bahwa Anggodo, Ary Muladi, dan Yulianto sebagai aktor pelaku suap kepada pejabat KPK seharusnya mereka ini dulu yang disidik dan ditahan untuk pengembangan penyidikan, bukan malah Bibit dan Chandra disidik duluan dan ditahan dengan alasan pemerasan kepada Anggodo. Kesimpulan TPF ini malah tidak ditanggapi oleh Susno alias diam saja.

Kasus Polri vs KPK saat ini bisa dikatakan sudah menjadi benang kusut, semakin berevolusi karena rekayasa-rekayasa baru, fakta lama bisa berubah menjadi fakta baru, adalah keniscayaan akan terjadi konspirasi-konspirasi baru, yang akhirnya bukan lagi masuk dalam ranah persoalan hukum tetapi ranah politis, hasil akhirnya terjadi pada pilihan siapa yang akan diselamatkan dan siapa yang akan dikorbangkan. Semua ini terjadi karena Polri lebih berfokus pada penyidikan Bibit dan chandra, sementara anggodo, ary muladi, yulianto seperti awalnya hanya dijadikan saksi, terutama yulianto malah terlupakan oleh Polri untuk dikejar padahal yulianto menjadi tokoh kunci menguak keberadaan kasus ini.

Cara kerja Polri ini membuat rasa keadilan masyarakat terkoyak dan wajah penegakan hukum juga tercoreng padahal sudah lama bopeng, sehingga yang terjadi adalah perang opini. Adalah wajar sikap publik ketika menyoroti Polri dan Kejaksaan maka targetnya kepada kebijakan SBY menyikapi persoalan ini karena ke dua lembaga ini dibawah kekuasaan presiden.

Tekanan publik kepada Polri dan pembelaan kepada KPK yang begitu besar, seharusnya menjadi cerminan aspirasi masyarakat luas begitu ‘muaknya’ masyarakat melihat selama ini kinerja Polri dan kejaksaan di dalam penegakan hukum, terutama menyangkut pemberantasan korupsi. Hal ini sejak awal seyogianya SBY lebih apresiatif menyikapi persoalan ini, bukankah walau KPK dibentuk di jaman Mega, namun SBY mengklaim keberhasilan KPK sebagai keberhasilan SBY di dalam pemberantasan korupsi. Alih-alih pada sikap ini, SBY malah orang pertama yang menyudutkan KPK.

Kabeskrim Konjem Susno sudah mundur tanpa alasan jelas, namun kemudian akan diaktifkan kembali sesuai kemauan Kapolri setelah pemeriksaan TPF tuntas, ini menjadi pertanyaan besar lagi bagi publik, kartu trup apa yang dimiliki Susno sehingga keberadaannya begitu penting, hal ini juga terkait adanya indikasi keterlibatan Susno dalam kasus bank century.

Di mata publik sikap SBY jelas mendukung sikap Polri, termasuk DPR yang umumnya adalah koalisi PD SBY, sehingga tekanan publik semakin besar untuk membela KPK, di titik inilah SBY dalam posisi dilema, pembentukan TPF adalah upaya SBY melepaskan diri dari dilema ini. Apa pun hasil akhir rekomendasi TPF, SBY tentu akan melakukan kalkulasi politik, kemana bola panas ini akan bersarang, Goal politic. Wallahualam.

Kunjungi di sini SALAM DIALOG

Ditandai: , , , ,
Posted in: Politik