Polri Dan Kebun Binatang

Posted on 2 November 2009

0


as2

Istilah cicak dan buaya, berdasarkan catatan pers pertama kali disampaikan Kabareskrim Mabes Polri Komjen Pol Susno Duadji. Cicak merujuk KPK, sedangkan buaya merujuk ke Polri.

Kapolri Jenderal Bambang Hendarso Danuri (BHD) meminta maaf atas istilah cicak dan buaya yang selama ini melambangkan rivalitas polisi dan KPK. Namun BHD tidak menjawab saat ditanyakan sanksi untuk Kabareskrim Komjen Pol Susno Duadji yang melontarkan istilah itu.

Penggunaan bahasa atau istilah dalam bertutur kata bisa mencerminkan banyak hal atas latar belakang si pemakai, bisa berupa latar belakang komunalnya, intelektualitas, pergaulan, sikap perilaku, atau apa saja, minimal referensi yang dimilikinya, bahasa mencerminkan budaya bangsa.

Mendengar kata buaya saja sudah ngeri membayangkannya, apalagi mendekatinya, makna buaya juga selalu berkonotasi negatif, baik buaya sungai terkenal sebagai pemangsa ganas, apa lagi buaya darat. Apakah karena selama ini ada pandangan sinis kepada polisi, konon cuma dua polisi yang baik yaitu patung polisi dan polisi tidur, sehingga secara tidak sadar kabeskrim menggelari dirinya (polri) sebagai buaya dan KPK sebagai cicak.

Pemberian istilah cicak kepada KPK sendiri juga sudah merupakan pelecehan, nyaris sama kalau Anda di maki dengan umpatan, “babi lho…., anjing lho,….pokoe semua isi kebun binatang pindah ke mulutnya,” tetapi secara tidak sadar kabeskrim juga sudah menghina Polri dengan makian, “buaya lho…,” Apa sih yang ditakuti dengan binatang cicak, hanya pemangsa nyamuk, kalau pun takut karena geli aja jika disentuh cicak, tapi jangan salah, kalau anda dijatuhi cicak, bulu kuduk anda juga pasti merinding. Ada anekdot yang dipercaya kalau dijatuhi cicak berarti bakalan ada kesialan, seperti sialnya para koruptor jika sudah dijangkiti oleh cicak (KPK).

Penggunaan istilah nama binatang dalam bertutur sebagai metafora atau personifikasi bisa juga menandakan bahwa suatu komunal sudah dipenuhi oleh perilaku kebinatangan, sisi-sisi kemanusiaan mungkin sudah di titik nadir, yang keseharian adalah manusia tapi bersifat kebinatangan, manusia bisa lebih mulia dari binatang tetapi bisa juga lebih rendah dari binatang melata, buaya dan cicak masuk dalam kategori binatang melata. Apakah sebegitu hinanya Polri dan KPK sampai harus digelari buaya dan cicak ?

Sejak KPK jadi hits pemberitaan karena tudingan SBY, KPK sebagai lembaga superbody, kemudian muncul perseteruan Polri vs KPK dalam istilah Buaya vs cicak, negara Indonesia ini sudah seperti kebun binatang raksasa, isinya buaya dan cicak, kemudian berkembang terus, lalu mulai muncul istilah harimau, “mulutmu harimaumu…!”. Macam-macam yang muncul menyusul, ada keledai, serigala (fox), tikus, ular, beo, monyet lho…, sampai drakula segala, malah penggunaan kata “geram” juga berasal dari personifikasi yang diambil dari penamaan perilaku binatang yang lagi marah. Sepertinya penduduk negeri ini sudah pada berubah menjadi binatang.

Apa makna semuanya ini bagi bangsa ini, jikalau ini sebuah cermin, maka ketika bercermin bukan lagi wajah kita yang muncul, namun sudah berganti dengan wajah salah satu binatang. Dengan kata lain sisi-sisi kebinatangan lebih menonjol dalam suatu kebijakan, apatah lagi keputusan yang dilahirkan, apa lacur sisi-sisi kemanusiaan bukan menjadi pertimbangan, hanya menjadi wacana dan pernyataan normatif belaka. Konsep dipaparkan dalam sisi kemanusiaan, tetapi apa lacur, implementasi riil dilaksanakan penuh dengan nafsu kebinatangan. Anekdotnya kalau kata komandan Polisi, “amankan…!!”, maka pelaksanaan berarti tangkap, hajar baru tanya, kalau perlu babak belur hingga dia mengaku, demikian pula kenyataannya pada sektor-sektor lain.

Saya bertobat dengan bangsaku, Indonesia…!!! wallahualam.

Kunjungi SALAM DIALOG

Posted in: Budaya