Golkar Nafsu Besar Tenaga Kuat Namun Ejakulasi Dini

Posted on 19 Oktober 2009

0


Kesimpulan terkini dari dunia perpolitikan pasca pemilu dan terbentuknya kabinet SBY jilid dua, menandaskan bahwa politik aliran yang dilandasi perbedaan agama dan latar belakang primordial semakin sirna. Itu pendapat beberapa praktisi partai terutama dari kalangan PD, namun pada sisi lain keinginan SBY membangun koalisi dengan partai nasionalis seperti PDIP dan Golkar dengan berbagai alasan pertimbangan, salah satunya agar pemerintahan SBY tidak mencerminkan kekuatan Islami yang bagi dunia politik eropa barat dan AS nota bene masih dianggap ancaman bahaya laten bagi kepentingan mereka di Indonesia. Sebagaimana diketahui partai koalisi PD SBY pada saat pemilu semua berasal dari partai yang mengaku berlandaskan Islam.

Alasan lain, hipotesis, kebijakan SBY merangkul hampir semua kekuatan partai dalam koalisinya, bisa jadi pada pemilu 2014 SBY masih memegang peran kekuasaan, siapa yang akan direstui menjadi penggantinya, artinya pada saat inilah kesempatan bagi SBY menanam budi baik dan mencengkramkan kekuatannya pada semua partai. Lemahnya posisi Wapres Boediono yang tidak memiliki basis massa partai, semakin mengukuhkan besarnya kekuatan kekuasaan yang dimiliki SBY lima tahun ke depan.

Politik aliran dan primordial memang sudah memasuki era paceklik, namun itu tidak menandakan cerminan majunya demokrasi di Indonesia, dengan kata lain dapat dikatakan semakin terpuruk, hiruk pikuk dan carut marut loby politik telah berganti menjadi orientasi kepentingan kekuasaan baik secara personal maupun kelompok. Dan tim sukses SBY di mana salah satunya The Fox (mallarangeng tim), sangat memahami perubahan trend politik ini. Masuknya Ketum PKS dan PPP dalam susunan kabinet II SBY, termasuk Agung Laksono WaKetum Golkar, direstuinya Taufik Kiemas PDIP oleh SBY menjadi Ketua MPR, serta adanya keinginan PD membangun koalisi dengan PDIP baik di parlemen dan kabinet, semakin menegaskan kuatnya arus politik kepentingan yang jadi muatannya. Anekdot dalam politik itu tiada kawan dan lawan tetapi yang ada adalah kepentingan, bagi para pengamat politik semakin mengkuatirkan lemahnya jiwa kepemimpinan nasional yang dimiliki oleh kader partai.

Dalam trend politik seperti ini di mana kepentingan lebih diutamakan yang disebut kecenderungan pragmatisme, maka syarat utama yang harus dimiliki para politisi di dalam meraih tampuk kekuasaan dan jabatan adalah adanya dukungan solid dari para pengusaha besar, simboisis mutualisme diantara keduanya. Satunya punya merek dan satunya lagi punya susu. Ironisnya dukungan dari para konglomerat itu juga berorientasi pada kepentingan, kronisnya mereka para konglomerat ini umumnya memiliki catatan buruk pada kasus dana BLBI yang sampai sekarang masih misteri crime. Kasus bank century hanya kembali menegaskan kuatnya hubungan simbiosis mutualisme ini pada trend kepentingan, penguasa dengan pengusaha. Hampir dikatakan baik oleh SBY maupun para politisi partai kondang lain sama sekali tidak menyoroti kasus bank century sebagi sebuah kejahatan besar yang merugikan rakyat. Apa untungnya bagi mereka, toh bank century telah menjadi milik pemerintah.

Trend pragmatisme politik ini selain sudah dinampakkan oleh PDIP, PD dan koalisinya, paling mutahir dinampakkan oleh Partai Golkar dalam Munas VIII di Pekanbaru. Kemenangan Ical atas paloh yang hanya bertaut beberapa suara, sementara judy dan tommy nol suara, sinyalemen bertabur uang dan politik uang dalam munas dapat dikatakan memang nyata. Kemenangan ical tidak bisa digugat oleh siapapun dari kader Golkar, judy dan tommy jelas tidak berkutik karena memang sama sekali tidak mendapat dukungan satu pun, paloh pun demikian. Bagaimana halnya paloh akan menggugat bahwa kemenangan ical karena politik uang, sementara paloh sendiri juga melakukan hal yang sama, kekalahan paloh hanya terletak kalau ical didukung oleh presiden SBY, adalah wajar jika kemudian Golkar mendapatkan jatah Menkokesra.

Ditempatkannya Akbar Tanjung sebagai ketua Dewan penasehat Golkar, kembali menegaskan trend pragmatisme politik ini. Waktu jamannnya JK menjabat Ketum Golkar saking antinya sama JK karena beberapa anggota kelompoknya terbuang, termasuk dirinya sendiri, Akbar Tanjung di dalam meraih gelar Doktornya menyusun disertasi bahwa sangat riskan dan tidak layak seorang saudagar atau pengusaha menjadi pimpinan partai apalagi Golkar, eh..eh..tau..taunya sekarang malah ngedukung saudagar ical, lagi.

Sejak ical terpilih menjadi ketum Golkar, sebagai orang terkaya di Asia Tenggara menurut majalah forbes, bisa dianggap Golkar memiliki nafsu besar tenaga kuat untuk meraih impiannya seperti pernyataan ical Golkar akan memenangkan pemilu 2014, termasuk menempatkan AT agar Golkar bisa kembali memenangkan pemilu seperti prestasi AT di Pemilu 1999. Namun apakah ical akan sanggup merelakan isi koceknya terkuras terus untuk membangun kejayaan Golkar pada trend politik pragmatisme ini lima tahun ke depan.

Susunan DPP Golkar ical seperti AT, Agung Laksono, Theo L Sambuaga, Idrus Marham, Rizal Mallarangeng dan beberapa lainnya termasuk ical sendiri sudah tidak mengakar di hati masyarakat. Agung Laksono saja tidak lolos caleg di dapil DKI. Susunan DPP ini juga tidak mencerminkan terakomodasinya semua kelompok kepentingan dalam tubuh Golkar, termasuk dari para mantan militer. Posisi menkokesra di tangan Golkar, jelas tidak strategis hanya mengurusi kesusahan dan kemelaratan rakyat, tidak basah kata orang, berhasil pun tentu SBY yang menuai sukses. Kondisi ini akan melestarikan kembali konflik-konflik pragmatisme di tubuh Golkar.

Selain itu pula, kebijakan ical berkoalisi dengan menandatangani fakta integritas koalisi partai dengan semua partai koalisi PD SBY menandakan Golkar yang memiliki nafsu besar tenaga kuat hanya mampu ejakulasi dini. Wallahualam.

Bisa juga di baca di sini salam dialog

Bisa juga di baca di kompasiana.com

Posted in: Politik