Komporsiana Ala Kompasiana, Idealisme Adalah Nyawamu

Posted on 15 Oktober 2009

1


Kompasiana I Love You Fulll.....

Sampai hari ini atau 358 hari Kompasiana mengudara telah mempublish artikel tulisan dari berbagai blogger sebanyak 10.406, jika dirata-ratakan terdapat 29 postingan setiap hari. Saya sendiri sudah memposting tulisan, alhamdulillah, sebanyak 231 artikel dan termasuk beruntung dua kali mendapat hadiah dari admin Kompasiana untuk liputan Pilpres dan kampanye Indonesiaunite. Satu kali ikut blogshop kompasiana, satu kali mengikuti Kopdar Kompasiana di JHCC Jakarta, dan satu kali Kopdar blogger Kompasiana di Jakarta yang disponsori oleh Prof. Nurtjahjadi, alhamdulillah, bisa dapat teman baru.

Pada awalnya sampai bulan kemarin saya mengira Kompasiana sudah cukup berumur, tau-taunya.., eh..setahun juga belum, 22 Oktober ini baru ultahnya yang perdana. Bergabung di Kompasiana terjadi karena iseng-iseng saja, seperti biasanya jika saya membuka internet untuk mengecek email dan membuka website yang disediakan khusus untuk program pemberdayaan di mana saya bergabung serta bermain-bermain di salah satu situs jaringan pertemanan, untuk membaca berita saya mengklik kompas.com itu pun pada fitur kompas cetak. Setelah membaca beberapa berita atau artikel yang saya anggap penting kemudian lalu saya tutup kembali.

Entah kenapa seingat saya pada tanggal 12 April 2009 iseng-iseng membuka satu persatu menu atau fitur-fitur kompas.com termasuk kompasiana yang kemudian membuat saya berjam-jam membaca beberapa artikel yang lagi tayang, mengasikkan karena artikel-artikel cukup singkat namun padat isi ide dan gagasan, bahasanya juga sederhana serta tata bahasa yang nampaknya sesuai selera penulis. Beberapa komentar penanggap juga saya lalap habis untuk beberapa artikel yang menarik, lalu apa yang terjadi saudara-saudara….., saya pun kadang tersenyum-senyum sendiri bercampur geli habis karena tidak kepikir muncul komentar seperti itu, malah kadang para komentator saling perang sementara si penulis sendiri tidak memberi tanggapan balik. Antara komentar yang lucu-lucu dan sinis sama menggelikan, “gak nyangka bisa lahir komentar begitu bah…!.” dan komentar sinis biasanya malah penuh caci maki semakin menggelikan bagi saya karena sepertinya si pemberi komentar sangat tersiksa dengan isi tulisan. “sepertinya kenapa dan ada apa gitu lho…, koq sinis banget sih..komentarnya, he..he..he..”

Kalau tertarik saya juga turut memberi komentar, kesalnya setiap mau komentar harus ngisi ulang namalah, email dan huruf verifikasi. Udah gitu malah nunggu moderasi admin lagi, capek deh…..Dua hari berturut-turut saya mengamati dan melakukan hal tersebut, dengan tidak kehabisan akal saya pun kemudian melakukan registrasi. Setelah konfirmasi via email, sukses, sekali login semua fitur kompasiana kemudian saya olah dan sampailah pada halaman untuk memposting tulisan. Kompasiana tidak terlepas dari nama besar Kompas, timbul tanya di hati saya, waktu masih kuliah beberapa tulisan pernah saya kirim ke redaksi Kompas hasilnya selalu kembali dengan berbagai alasan penolakan, apakah hal ini juga akan terjadi di Kompasiana ?

Namun tanpa pikir panjang, intuisi saya mulai jalan, biasanya media konsen pada pemberitaan dan artikel pada moment-moment penting alias lagi in dan menjadi isu yang lagi hangat dibicarakan, apalagi kalau bukan soal pemilu. Malam tanggal 15 April, saya memberanikan diri, walau sifatnya coba-coba, memposting sebuah tulisan, alhasil kurang lebih satu jam kemudian langsung tayang di Kompasiana. “wah gembira banget dunk…!”.tayang tanpa satu kata pun berubah dan terkena editing dari pak admin. Saking gembiranya, pada malam yang sama kembali saya memposting dua tulisan. Saking kepincut Kompasiana hampir tiap hari saya memposting dua sampai tiga tulisan beberapa hari berikutnya. Saking getolnya sampai seorang kawan di Malaysia mengirim pesan via ym, “koq mau-maunya capai-capai nulis di Kompasiana padahal gak ada horornya, he..he…”, nah inilah yang jadi pokok bahasan, kenapa ?

kompasiana1

Bagi saya ada dua alasan kenapa Kompasiana walau belum berumur satu tahun mampu menjaring banyak penggemar termasuk di manca negara. Pertama, karena terkait nama besar koran Kompas, dan kedua apa yang sebut komporsiana, tukang ngompori ala kompasiana.

Koran Kompas sebagai media arus utama selama ini sudah menjadi merek standar pemberitaan media cetak, selain memiliki oplah besar juga di kenal sampai ke manca negara. Baik sebagai pembaca maupun penulis rasanya belum afdhol, plong dan mantap kalau belum melalap pemberitaan Kompas dan tulisan termuat di harian Kompas. Saya termasuk salah satu contoh dan mungkin juga beberapa penggemar lainnya. Uniknya mungkin karena masih trauma kebijakan terbatas zaman Orba termasuk menjaga nama besar Koran kompas, sehingga tampil lebih santun. Namun di Kompasiana, Kompas tampil lebih galak, tanpa tedeng aling-aling, menerabas segala isu, uniknya lagi dalam persfektif wacana yang mungkin tidak akan kita temui di media-media arus utama.

Komporsiana ala Kompasiana sepertinya bay design, diluncurkan 22 Oktober 2008 mengambil momentum Pemilu 2009. Tepat dan topcer, seperti sebelum-sebelumnya isu seputar pemilu selalu menyedot banyak perhatian, serba banyak, ada yang pengin menjadi pengamat, penulis dan komentar, malah ada yang mencari referensi atau informasi untuk menyusun strategi pemenangan, malahan lagi Kompasiana menjadi ajang promosi dan kampanye, ini sangat nampak saat Pilpres berlangsung. Pada masa ini dibuktikan banyaknya tulisan berstatus schedule dan pending review serta draft di laman public kompasiana, antriannya panjang menuju publish. Dibanding sekarang antrian itu cukup pendek. Penulis dan komentator pada nimbrung berdatangan, apalagi kalau tulisan itu mendukung salah satu calon kontestan Pilpres atau balik menyerang yang lain, sepertinya pro kontra para komentator tiada habis-habisnya.

Setelah Pemilu usai, satu persatu pergi entah kemana, mungkin juga masih tapi sudah berganti nama, namun yang kepincut terus masih lebih banyak, intensitas menulis juga berkurang, mungkin saban hari cuma ngintip doang kompasiana. Seperti mati satu tumbuh seribu, penulis-penulis lain juga bermunculan.

Komporsiana ala Kompasiana, ya…, kompas sudah menyediakan kompornya, kompasiana, menu dan panas apinya ada pada public kompasiana, para penanggap walau gak pernah nulis juga melengkapi sebagai kayu bakarnya, membuat menu masakan selalu hangat, populer merangsang adrenalin para penulis mengagas ide tulisan baru. Rasanya gak ada lho gak rame deh…, he..he..he..ekstrimnya seperti menu Mariska menggiring komporsiana memotret konteks sosial budaya dalam kacamata seksual.

Linda Djalil
Terlepas dari hal itu, nyawa kompasiana ada pada idealisme, bahasa kang Pepih tulisan yang bermanfaat dan mencerahkan atau bahasa mas Inu menulis yang tidak penting agar yang penting tetap penting atau bahasa mbak Linda, rumah sehat kompasiana.

Persfektif idealisme membidik persoalan pada kondisi yang ada, menjadi atau membawa pada kondisi yang seharusnya. Media arus utama hanya memfocus pada peristiwa yang ada, datar-datar saja, kompasiana kemudian tampil memberi makna, mencoba memahami dalam pandangan yang berbeda dan mungkin tampil dalam makna oposan pada setiap fenomena status quo yang ada.

Ya, kompasiana memang tampil menggelitik konservatisme, menggelitik status quo, mengkitik-kitik kejumudan, mengkitik-kitik sekulerisasi dan materialisme, serta mungkin mendorong mobil yang lagi mogok.

Kompasiana menggelitik rasa kepedulian kita, menggelitik rasa kejujuran dan keadilan kita, mengkitik-kitik sok penguasa, mengkitik-kitik sang manipulatif, mengkitik-kitik sang koruptor dan kalau perlu menghajarnya, landasannya dalam wacana paradigama idealisme, mencerahkan dan memberdayakan. Itulah nyawamu Kompasiana, menjadi wahana berpikir alternatif egaliter, tampil beda memberi manfaat bagi banyak orang dan memberi sumbangsih bagi pembangunan wawasan berbangsa dan bermasyarakat.

Selamat ulang tahun perdana Kompasiana 22 Oktober 2008 – 22 Oktober 2009, teriring doa, sukses selalu buat kru kompasiana. Indonesia hidup karena komporsiana ala Kompasiana. Wallahualam.

Bisa juga di baca di sini salam dialog

Bisa juga di baca di kompasiana.com

Iklan
Posted in: Budaya, Peristiwa