Qory Mengidolakan Tjut Nya’ Dhien Tokoh Pahlawan Wanita Aceh Yang Mampu Bersikap Islami Dalam Keseharian Walaupun Tidak Menggunakan Jilbab

Posted on 13 Oktober 2009

3


Kemenangan Qory Sandioriva, mahasiswi Universitas Indonesia, pada pemilihan Puteri Indonesia 2009 mengundang banyak komentar negatif. Pasalnya, di ajang pemilihan tersebut, Qory mewakili Provinsi Aceh tanpa memakai jilbab. Qory mengungkapkan bahwa selama ini banyak pihak yang menyalahartikan susunan kalimat yang dia gunakan pada malam final Puteri Indonesia 2009 yang baru berlalu. Ketika itu, Qory menjawab pertanyaan sang pembawa acara yang menanyakan mengenai masalah penggunaan jilbab.

“Mungkin saya salah memilih kata ketika itu. Akibatnya, banyak yang mengartikan bahwa demi keikutsertaan saya di ajang Puteri Indonesia, saya melepas jilbab. Padahal, saya semenjak kecil, dari dulu memang tidak pernah pakai jilbab,” ujar Qory.

Sebagai seorang wanita keturunan Aceh Gayo, Qory mengaku mengidolakan Tjut Nya’ Dhien, tokoh pahlawan wanita Aceh yang mampu bersikap Islami dalam keseharian walaupun tidak menggunakan jilbab. “Dialah panutan saya selama ini. Selain dengan sikapnya yang heroik, Tjut Nya’ Dhien merupakan tokoh pahlawan wanita Islami, walaupun dalam kesehariannya, dia tidak menggunakan jilbab,” ujar Qory.

Selengkapnya baca di sini Qory; Saya Memang Tidak Berjilbab

Polemik jilbab kembali muncul karena di picu oleh dua hal; pertama, karena qory mewakili propinsi Aceh yang telah memberlakukan pelaksanaan syariat islam plus wajib mengenakan jilbab bagi wanita muslimah Aceh. Kedua, jawaban qory saat ditanya dalam kontes Putri Indonesia, kenapa tidak mengenakan jilbab, qory menjawab seolah-olah rambut wanita adalah mahkota jadi sangat disayangkan jika ditutupi dengan jilbab. Walaupun salah satu sisi pendapat qory ini benar, namun terkesan bagi khalayak karena qory ikut kontes sehingga rela melepas jilbabnya. Polemik ini mungkin tidak akan menuai kritik jika qory menjawab bahwa memang selama ini dia tidak mengenakan jilbab.

Kali ini dibahas bukan soal jilbab qory karena memang dia tidak pernah memakai jilbab, tetapi memcoba secara sederhana melihat talenta yang dimiliki si qory sebagai Putri Indonesia 2009 yang nota bene akan menjadi duta budaya dan promosi wisata Indonesia ke mancanegara.

Sebagai duta Provinsi Aceh apalagi sudah meminta ijin kepada Gubernur Aceh seperti pengakuannya, termasuk dibolehkannya qory tidak memakai busana jilbab, seharusnya qory sudah mempersiapkan jawaban cerdas yang tidak melukai ummat Islam dan mungkin citra Aceh jika ditanya soal jilbab. Dalam konteks ini jelas bahwa qory tidak memiliki wawasan keagaamaan yang baik atau baik namun memiliki persepsi berbeda dengan pemahaman umum yang dimiliki oleh mayoritas muslim Indonesia. Dengan demikian jawaban qory tersebut terkesan sekenanya saja.

Sebagai duta budaya minimal qory memahami sejarah Aceh yang diwakilinya walaupun sebuah keharusan Putri Indonesia memahami sejarah nasional bangsanya. Seperti judul di atas qory seolah hanya memaksakan diri mengidolakan Tjut Nya’ Dhien, walaupun itu tidak dilarang. Sejarah Aceh selain sangat kental dengan syiar Islam, juga sangat terkenal kegigihannya di dalam melawan penjajah yang dipelopori oleh tokoh wanita Tjut Nya’ Dhien. Jangan-jangan qory malah tidak memahami sejarah perjuangan idolanya.

Busana kerudung wanita Indonesia sebelum jilbab dikenal memang telah menjadi simbol budaya nasional seperti kopiah yang dikenakan oleh lelaki Indonesia. Namun jika ditelusuri sejarah perkembangan syiar Islam di tanah jawa yang dilakukan oleh para wali songo, adalah Sunan kalijaga yang pertama kali memperkenalkan dan mengadopsi jilbab menjadi sebuah bentuk kerudung pada masyarakat jawa yang telah menganut agama islam. Kerudung jadul pada masa itu berbentuk sehelai kain yang bisa menutupi kepala, rambut dan dililitkan ke depan sehingga bisa menutupi dada wanita. Adaptasi Sunan Kalijaga ini dilakukan mengingat busana wanita pada jaman itu umumnya hanya seperti sarung yang melilit dari atas payudara sampai lutut, selain itu semua terbuka.

Adaptasi kerudung ini dari jilbab hampir sama dengan munculnya kopiah/peci atau seperti baju koko yang diadaptasi dari baju gamis orang Arab. Namun dalam perkembangannya, kerudung jadul yang islami itu mengalami evolusi menjadi kerudung-kerudungan, dililit ke depan masih nampak dada wanita dan rambut yang terjumbai dibelakang.

Nah, apa yang dipakai oleh Tjut Nya’ Dhien adalah kerudung seperti yang diadaptasi oleh Sunan Kalijaga tersebut melengkapi busananya yang longgar menjuntai ke tanah. Seperti itulah yang dipakai Tjut Nya’ Dhien dalam kehidupannya sehari-hari yang tidak menghalanginya berjuang melawan penjajah, namun akan menghalangi qory menjadi juara, di mana masa itu belum dikenal istilah jilbab, namun substansi jilbab itu sudah dipahami oleh Tjut Nya’ Dhien yang merupakan ciri khas busana yang dikenakannya.

Seperti judul tulisan ini yang dikutip dari pernyataan qory di atas, menandaskan bahwa qory sebenarnya tidak memahami sejarah Aceh terutama sejarah perjuangan Tjut Nya’ Dhien sendiri, apatah lagi sejarah Islam Indonesia. Semoga saja keliru.

Fenomena qory ini menampilkan bahwa kontes pemilihan Putri Indonesia hanya konteks kemolekan nan sexy para wanita Indonesia yang dikemas pentas budaya dan intelektualitas, Mungkin ? wallahualam.

Bisa juga di baca di sini salam dialog

Bisa juga di baca di kompasiana.com

Posted in: Budaya