Qory Sandioriva Putri Indonesia 2009, Sejak Dulu Memang Tidak Berjilbab

Posted on 11 Oktober 2009

2


Qory menegaskan bahwa ia sejak dulu memang tidak berjilbab dan berharap masyarakat Indonesia tidak meributkan hal itu. “Saya tidak memakai jilbab bukan berarti saya membenci jilbab. Pada aslinya saya memang tidak memakai jilbab, saya tak ingin ada kontroversi, saya hanya ingin dukungan masyarakat untuk mengharumkan nama Indonesia hingga ke tingkat internasional,” tegasnya.

Selengkapnya baca di sini Putri Aceh Qory Sandioriva Putri Indonesia 2009.

Pernyataan qory itu yang merupakan hasil wawancara dengan salah satu media bisa menjadi jawaban untuk mengakhiri polemik jilbab dan kita bisa menempatkan penilaian jilbab kepada seseorang pada proporsi yang sebenarnya. Jilbab sebagai salah satu sisi dan qory pada sisi lain.

Hadis riwayat Aisyah r.a., bahwasanya Asma binti Abu Bakar masuk menjumpai Rasulullah dengan pakaian yang tipis, lantas Rasulullah berpaling darinya dan berkata, “Hai Asma, sesungguhnya jika seorang wanita sudah mencapai usia haid (akil balig) maka tidak ada yang layak terlihat kecuali ini,” sambil beliau menunjuk wajah dan telapak tangan. (HR Abu Daud dan Baihaqi).

Dalam salah satu riwayat yang lain mengungkapkan bahwa perhiasan dunia yang paling baik dan berharga adalah wanita saliha.

Dari dua riwayat itu harus diakui bahwa kodrat wanita memang memiliki daya tarik luar biasa terhadap kaum lelaki dan adalah kodrat yang wajar dan alamiah seorang lelaki juga tertarik luar biasa kepada kaum wanita. Dalam sejarah pertumpahan darah manusia yang pertama dilakukan oleh anak-anak adam yang pertama yaitu kabil membunuh habil karena ingin memiliki calon isteri habil yang lebih cantik dari calon isteri kabil sendiri.

Serasional apapun manusia termasuk intelektualitasnya, dorongan sahwat dari jaman kabil-habil sampai saat ini tidak pernah berubah, pergaulan bebas, sex bebas, hubungan sex diluar pernikahan, dan prostitusi yang tidak pernah hilang termasuk selingkuh adalah bukti kuatnya kodrat sahwat yang dimiliki oleh manusia. Ini berarti adalah sangat wajar jika Islam memberlakukan hukum rajam bagi pelaku berdua-duaan (khalwat) yang bukan muhrimnya dan hukum rajam sampai mati bagi pelaku zina.

Dalam konteks ini kita bisa memahami jilbab sebagaimana proporsi dan substansinya. Jilbab bukan sekedar kain penutup kepala, rambut, leher dan dada seorang wanita. Muhammad Said Al-Asymawi, mantan hakim agung Mesir menyimpulkan bahwa jilbab adalah gaun longgar yang menutupi sekujur tubuh perempuan. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa jilbab adalah simbol pakaian wanita muslimah selain berfungsi menutup aurat fisik kecuali tangan dan wajah juga berfungsi untuk mengurangi daya tarik wanita terhadap dorongan kuat sahwat dari kaum lelaki yang bukan suaminya.

Dengan demikian jika seorang wanita memakai jilbab tetapi masih menonjolkan beberapa auratnya misal memakai pakaian ketat sehingga nampak lekak-lekuk tubuhnya, maka sebenarnya itu bukan jilbab. Demikian pula jika seorang wanita sudah memakai jilbab seperti yang sepatutnya, namun jika dilengkapi banyak perhiasan yang mengundang perhatian termasuk dandanan wajah yang dilengkapi segala macam kosmetika, maka itu juga bukan jilbab.

Jika seorang wanita berpendapat bahwa dirinya berpenampilan agar terlihat indah dan mengatakan tidak ada maksud mengundang perhatian lelaki apalagi dorongan sahwat, apakah lelaki itu muncul nafsu sahwatnya atau tidak, itu adalah urusan lelaki, pendapat ini memang benar tetapi berlawanan dengan kodrat hubungan antara wanita dengan lelaki alias berlawanan dengan hukum alam atau sunnatullah.

Dalam satu perjalanan kereta api saya sempat berbincang-bincang dengan seorang wanita berjilbab sebagaimana patutnya, sederhana dan bersahaja. Apa jawabnya ketika saya tanya apa alasannya dia mengenakan jilbab, ”saya mengenakan jilbab karena merasa lebih aman.” nah, inilah substansi jilbab itu sendiri. Herannya, dia mengaku kalau bepergian jauh saja dia mengenakan jilbab, tetapi sehari-harinya dia tidak berjilbab. Artinya dia cuma butuh fungsinya tetapi tidak butuh ibadahnya. Jilbab seperti inilah yang lebih banyak, mungkin ? wallahaulam.

Bisa juga di baca di sini salam dialog

Bisa juga di baca di kompasiana.com

Posted in: agama, Budaya