Apakah Pak Beye Sama, Semua Serba Pak Harto ?

Posted on 9 Oktober 2009

3


Dua masa pemerintahan yaitu Orde Lama dan Orde Baru dianggap fenomenal di dalam sejarah kenegaraan bangsa ini. Fenomenal orla dibawah kepemimpinan Presiden Soekarno karena masa inilah pergolakan perlawanan penjajahan berakhir yang berujung dengan adanya Proklamasi Kemerdekaan yang dicetuskan oleh Soekarno Hatta, Jumat 17 Agustus 1945. Sedangkan fenomenal orba dibawah kepemimpinan Presiden Soeharto karena mampu berkuasa selama 32 tahun dengan segala keberhasilan dan kegagalannya.

Namun ke dua masa pemerintahan fenomenal ini juga berakhir penuh misteri, Presiden Soekarno lengser melahirkan misteri Supersemar yang sampai sekarang naskah aslinya belum ditemukan sebagai bagian kilasan sejarah proses peralihan kekuasan dari orla ke orba. Sedangkan fenomenal orba berakhir dengan lengsernya Presiden Soeharto melahirkan misteri kerusuhan Mei 1998 yang sampai saat ini juga belum terkuat, siapa dalang kerusuhan ini.

Kebahagian pertama yang diraih Pak Harto di dalam rezim kepemimpinannya adalah saat beliau ditetapkan sebagai presiden dalam sidang MPRS tahun 1966 yang merupakan titik awal kebahagian-kebahagian berikut dapat direngkuhnya. Dalam masa pemerintahan Pak Harto mampu menggalang, malahan memelihara dan memfasilitasi sehingga muncul beberapa konglomerat di Indonesia, sehingga tak seorang pun pengusaha besar yang tidak masuk dalam ring kekuasaannya. Usaha ini membawa kebahagian bagi pak harto karena mampu membawa keluarga cendana menjadi gurita bisnis baru menyaingi para konglomerat yang selama itu dipeliharanya.

Kebahagian kedua pak harto adalah saat mengeluarkan kebijakan azas tunggal Pancasila terhadap semua partai dan ormas yang ada, partai politik pun dikerucutkan hanya menjadi tiga partai nasional; Golkar, PPP dan PDI. Keberhasilan ini terjadi karena pak harto mampu menguasai system yang ada seperti media massa, militer, birokrasi dan para pengusaha besar. Jalur rentang vertikasi kekuasaan pak harto sangat jauh, tiga pilar kenegaraan; eksekutif, yudikatif, dan legislative semua dalam kendali restunya. Sampai penentuan kepala kanwil, rektor PT, bupati, gubernur dan seterusnya semua dalam kendalinya, tanpa persetujuan beliau seseorang tidak bisa mencapai promosi itu.

Selama 32 tahun pak harto banyak merengkuh dan menikmati sejumlah kebahagian di dalam masa kepemimpinannya, namun apa hendak dikata takdir berbicara lain, episode pak harto berakhir tragis, sejumlah kebahagian berakhir sirna penuh pahit kegetiran, ibarat buang handuk tanda menyerah kalah, seperti yang dialami pak karno yang juga berakhir tragis.

Pasca lengsernya pak harto, tiga presiden berikutnya; Habibie, Gus Dur, dan Mega bisa dikatakan tidak merasakan kebahagian itu, seperti kebahagian yang dialami pak harto termasuk mungkin juga kebahagian seperti yang pernah dialami pak karno. Namun berbeda dengan pak beye mampu meraih dan merengkuh kebahagian itu, ketiga presiden tersebut hanya mampu berkuasa antar dan paruh waktu, sedangkan pak beye mampu berkuasa lima tahun penuh plus terpilih kembali untuk lima tahun ke depan. Seolah-olah ada indikasi jika presiden berasal dari sipil masa pemerintahannya seperti telur diujung tanduk. Sementara jika berasal dari militer akan langgeng-langgeng saja walaupun buaya dipelupuk mata tak nampak sedangkan cicak diseberang lautan sangat nampak terlihat.

Kebahagian pertama yang paling dirasakan pak beye ketika mampu mendongkrak spektakuler Partai Demokrat menjadi pemenang Pileg 2009 plus memenangi Pilpres, keduanya dimenangkan secara meyakinkan, dari titik ini pak beye siap merengkuh kebahagian-kebahagian berikutnya. Selama lima tahun bersama pak jeka, pak beye dianggap tidak mendapat kebahagian itu karena ada dua matahari di istana Negara.

Untuk mendapatkan kebahagian berikutnya pak beye tidak perlu mengeluarkan perppu untuk mengerucutkan jumlah partai, kesaktian yang dimilikinya bisa membuat semua partai tunduk dan mau berkoalisi dengannya. Setelah sukses meraih simpati koalisi para partai Islam dengan manuvernya juga berhasil berkoalisi dengan PDIP yang selama ini jadi oposan dengan memilih Boediono sebagai wapres dan merestui pak teka menjadi ketua MPR. Faktor Boediono mampu menjinakkan PDIP karena masa lalu pak boed sebagai menteri keuangan di era mega menyimpan sejumlah ‘aha….rahasia’ yang tidak boleh terungkap, terungkap artinya malapetaka keduanya ?

Setelah PDIP ditundukkan pak beye, manuvernya juga berhasil membawa Golkar dalam gengamannya setelah pak ical berhasil memenangkan pertarungan ketum Golkar dalam Munas VIII di pekanbaru. Setelah kekuatan eksekutif diraihnya, kini kekuatan legislative pun berhasil direngkuhnya. Kebahagian ini bisa diraih karena sebelumnya lembaga yudikatif sudah bertekuk lutut, termasuk KPK dengan manuver Perppu Pltnya. Apatah lagi birokrasi dan militer serta para konglomerat, semua ada dalam barisannya, dalam komandonya, lanjutkan…………………!!!

Jika pak harto membutuhkan 15 tahun dengan tiga pemilu untuk mendapatkan semua kebahagian itu, maka pak beye hanya membutuhkan lima tahun dengan dua pemilu saja.

Jika pak karno dengan anekdot menjadi presiden seumur hidup dan pak harto menjadi presiden sampai mati, namun sayang tak sampai, berakhir tragis, wafat dalam kecewa meninggalkan gading yang retak berurai, kebahagian membawa kemalangan. Lalu apakah anekdot pak beye, cukupkah menjadi presiden 10 tahun saja tetapi berkuasa sampai akhir hayat ? lalu bagaimanakah akhirnya ?

Apakah kebahagian pak beye yang telah diraihnya seperti kebahagian yang telah direngkuh pak harto juga akan membuat pak beye sama, semua serba pak harto ? sandiwara lima tahun ke depanlah yang akan membuktikannya, kita pun hanya sanggup menjadi penonton dan penggembira seperti jaman pak karno dan pak beye. Wallahualam.

Bisa juga di baca di sini salam dialog

Bisa juga di baca di kompasiana.com

Posted in: Politik