Sesungguhnya Kapankah Kita Berlebaran ? Sementara Korupsi, Kemiskinan Dan Ketidakadilan Semakin Merajalela

Posted on 19 September 2009

1


sahabat

ALLAHU AKBAR….ALLAHU AKBAR….ALLAHU AKBAR
LA ILAHA ILLALLAHU ALLAHU AKBAR
ALLAHU AKBAR WALILLAH ILHAM

Untuk Sahabat…Makhluk Allah yang Paling Sempurna
Allahuakbar…Allahuakbar..Allahuakbar..laaillahaillallahuallahuakbar..walillah ilham… Ya Rabb Bulan Pembawa gembiraMu kini berlalu begitu cepat…Tiada sempat hati ini bersimbah dihadapanMu khusu dan istiqomah.. Ya Rabb pertemukan kami kembali dengan Bulan penerangMu ini… Ya Rabb satu bulan kami berlatih untuk mencapai kesempuranaan iman dan islam dihadapanMu..

ALLAHU AKBAR….ALLAHU AKBAR….ALLAHU AKBAR
LA ILAHA ILLALLAHU ALLAHU AKBAR
ALLAHU AKBAR WALILLAH ILHAM

Puji syukur atas karunia dan AmpunanMu.. Ini saatnya kami mengamalkan…Sesungguhnya berat jikalau engkau biarkan kami dalam keangkuhan..Maka semoga kami termasuk kedalam golongan orang yang bersabar dan berdzikir kepadaMu dengan Ikhlas… Air mata tak sanggup menghapus dosa ini.. Hanya engkau Tuhan Yang Maha Menggenggam… Tuhan Yang Memiliki Panggilan Paling Sempurna.. Semoga kami kembali kefitrah..Rabb Yang Maha Perkasa… Semoga Permohonan Maaf Kami Menggugurkan Dosa..Seperti daun yang kering terpisah dari rantingnya…

Selamat Merayakan Hari Lebaran Idhul Fitri 1430 H Minal aidhin walfaizdhin Mohon Maaf Lahir batin.

Semoga Magefirah Ramadhan selalu membawa keberkahan dan jalan keselamatan bagi kita semua. Amin.

ALLAHU AKBAR….ALLAHU AKBAR….ALLAHU AKBAR
LA ILAHA ILLALLAHU ALLAHU AKBAR
ALLAHU AKBAR WALILLAH ILHAM

Sesungguhnya, Kapankah Kita Berlebaran ? Sementara Korupsi, Kemiskinan Dan Ketidakadilan Semakin Merajalela

ALLAHU AKBAR….ALLAHU AKBAR….ALLAHU AKBAR
LA ILAHA ILLALLAHU ALLAHU AKBAR
ALLAHU AKBAR WALILLAH ILHAM

Dalam hukum dualitas atau quran mengatakan semua tercipta berpasang-pasangan manusia terdiri unsur dualitas hati dan pikiran. Alam semesta juga tumbuh dan bergerak dalam hukum dualitas ini atau Islam menyebutnya Sunnatullah. Iradat dan kodrat manusia dan alam semesta berjalan pada hukum ini, Tuhan ternyata melakukan desentralisasi maha kuasanya pada sunnatullah ini agar semua yang tercipta berproses tumbuh dan berkembang menuju kesempurnaan. Kenapa perlu kesempurnaan karena manusia yang bersumber dari kesejatian ‘Ruh Tuhan’ akan kembali pada rumahnya yang sejati, ilahirajiun.

Selain itu, untuk menuju proses kesempurnaan semua yang tercipta adalah rangkaian amanah Tuhan, seperti eksisitensi keberadaan Tuhan sebagai rahmatanlilalamin. Manusia pun tercipta mengembang amanah ‘khalifatullah’ pemimpin alam semesta agar visi Tuhan rahmatanlilalamin mengejawantah ke dalam diri manusia, sehingga segala implikasi dan implementasi kehidupan perilaku manusia membawa rahmatanlilalamin atau keberkahan dan jalan keselamatan bagi manusia dan alam semesta. Dalam bahasa Rumi, manusia adalah makrokosmos sementara alam semesta adalah mikrokosmos. Artinya keselamatan dan kehancuran manusia dan alam semesta sepenuhnya berada di tangan manusia. Inilah blue print Tuhan di dalam mencipta manusia.

Masih dalam hukum dualitas, kosmologi alam ini mengenal alam nyata dan alam gaib, sehingga manusia dibekali hati dan pikiran untuk mengenal alam nyata, dan untuk mengenal alam gaib manusia dibekali jiwa dan batin. Lalu terpatri menjadi jiwa pelaku berpikir dan hati pelaku membatin atau batiniah. Kongklusinya ketika semua unsur ini berjalan sinergis akan membawa pemahaman dan kesadaran sejati manusia untuk meretas menuju kesempurnaan, menuju ilahirajiun. Disebut ‘menuju kesempurnaan’ adalah proses implementasi olah pikir, rasa, dan karsa agar konsep amanah rahmatanlilalamin dapat dilakoni semua manusia. Keberhasilan menjalankan konsep rahmatanlilalamin adalah jalan menuju kesempurnaan.

Metafora riwayat quran, Tuhan telah menawarkan kepada gunung, lautan dan kepada siapa saja untuk memimpin alam semesta, semua tidak ada yang sanggup kecuali manusia yang menjawab “yes” mengiyakan kesanggupan itu. Atas kesanggupan ini quran menyebut manusia sebagai bodoh dan tak tahu diri. Malah dalam riwayat quran yang lain, malaikat mempertanyakan kepada Tuhan, kenapa Engkau menciptakan manusia yang akan menumpahkan darah bagi dirinya sendiri (sesama manusia) dalam artian lain merusak alam semesta. Namun Tuhan menjawab Aku lebih tahu segalanya.

Jawaban Tuhan, Aku lebih tahu segalanya, adalah jawaban karena Tuhan telah menitipkan spirit “Ruh Tuhan” ke dalam diri manusia. Tempatnya berada di dalam hati, pikiran, jiwa dan batin manusia pada saat yang sama. Selain itu kekuasaan dan kekuatan Tuhan juga diletakkan dalam jasadi manusia berupa hawa nafsu. Rumi menyebutnya semua manusia itu adalah kuil Tuhan. Dengan demikian hawa nafsu bukanlah sesuatu yang negatif tetapi sama dengan spirit itu sendiri atau Ruh Tuhan itu sendiri. Hal ini bersesuaian dengan hukum dualitas bahwa manusia dilengkapi kekuatan hawa nafsu dan spirit.

Manusia yang mengandalkan hawa nafsunya akan sanggup menguasai dunia tetapi akan tampil sebagai dajjal, perusak manusia dan alam semesta. Hal ini terjadi karena spirit menjadi makmun atau beriman kepada hawa nafsu. Inilah manusia yang dikategorikan kafir seperti riwayat quran.

Manusia yang mengandalkan spirit yang dimilikinya disebut spritualitas atau sedang menempuh jalan mistisisme, manusia seperti ini telah menjadikan hawa nafsu sebagai makmun atau hawa nafsu beriman kepada spirit manusia atau ‘ruh tuhan’ itu sendiri. Inilah yang disebut manusia ‘beriman’. Dan inilah manusia yang siap tumbuh dan berproses menjadi orang-orang yang “takwa”.

Dengan demikian Tuhan menciptakan ‘desentralisasi’ kemahakuasa-Nya dalam bentuk sunnatullah atau hukum dualitas atau dikenal hukum alam. Dan pada saat yang sama Tuhan menciptakan ‘sentralisasi’ di dalam spirit ‘ruh’ yang berada di dalam jasadi manusia bersamaan keberadaan hawa nafsu. Disebut sentralisasi karena spirit manusialah yang bisa online dengan Tuhan.

Dengan demikian pula, kodrat dan iradat manusia tidak hanya tergantung pada sunnatullah tetapi hasil kolaborasi dengan spirit yang dimiliki manusia sebagai capaian kadar masing-masing, seperti riwayat quran bahwa semua tercipta dalam takaran yang pasti dan seimbang.

Kemudian Tuhan mewajibkan puasa kepada manusia agar spiritualitas bisa menjadi iman bagi hawa nafsu, artinya puasa adalah ajang pengendalian hawa nafsu agar dapat menjadi makmun kepada spirit manusia. Puasa ini tidak hanya dikenal dalam Islam tetapi semua agama punya perintah puasa walaupun bentuknya berbeda-beda, demikian pula yang tampak dari alam, seperti ayam berpuasa untuk menetaskan telornya menjadi anak ayam. Kepompong berpuasa agar melahirkan ulat sutra, dan seterusnya masih banyak contoh yang lain. Dalam bahasa Rumi agar alam ini sampai kepada musim semi di mana semua tumbuhan bermekaran dan berbuah dan berbunga-bunga, maka harus melalui musim gugur dan musim dingin.

Quran meriwayatkan bahwa Tuhan mewajibkan berpuasa bagi hambanya yang beriman atau diwajibkan bagi manusia yang sudah menjadikan hawa nafsunya beriman kepada spirit, karena tipe manusia seperti inilah yang siap menuju takwa. Sementara manusia yang menjadikan spiritnya beriman kepada hawa nafsu, tidak diwajibkan berpuasa karena kafir atau orang semacam ini baru berada diangka 1 s/d 8, sedangkan orang beriman sudah diangka 9 dan orang takwa itu berada diangka 10, kira-kira begiculah metaforanya.

ALLAHU AKBAR….ALLAHU AKBAR….ALLAHU AKBAR
LA ILAHA ILLALLAHU ALLAHU AKBAR
ALLAHU AKBAR WALILLAH ILHAM

Rasulullah bersabda bahwa jihad atau perang palin akbar adalah melawan hawa nafsu, maksudnya agar hawa nafsu tidak dikebiri tetapi dikendalikan agar tetap menjadi makmun kepada spiritualitas manusia. Jadi beruntunglah kita diwajibkan berpuasa, kata ‘wajib’ dalam bahasa Tuhan artinya adalah suatu “kebutuhan” bagi manusia. Tuhan itu maha adil dan maha tahu sehingga mewajibkan sesuatu yang sesungguhnya adalah kebutuhan manusia, Tuhan berfirman sekali-kali tidak pernah menzalimi manusia.

Marhaban ya ramadhan, 1 syawal 1430 H, kita pun meninggalkan ramadhan, kita menyebutnya berlebaran, meraih kemenangan, kembali menjadi fitrah dan seterusnya.

Berlebaran maksudnya kita telah berhasil mengendalikan hawa nafsu agar tunduk, patuh dan menjadi makmun taat pada spiritualitas manusia. Itulah kemenangan, itulah kembali fitrah, itulah derajat takwa.

Sepuluh akhir ramadhan, manusia berpuasa dihimbau melakukan ikhtikaf agar spirit mempunyai sinyal penuh dan kuat untuk selalu online kepada Tuhan setelah duapuluh hari sebelumnya kita telah mampu membuktikan mengendalikan hawa nafsu. Dan pada akhir ramadhan sebelum gema takbir lebaran kita diwajibkan membayar zakat fitrah untuk dibagikan kepada fakir miskin. Ini adalah simbol bahwa manusia yang telah menempuh jalan spritual harus kembali ke masyarakat mengabdikan dirinya, paling bermanfaat bagi sesama atau menjalankan visi amanahnya sebagai rahmatanlilalamin.

Metaforanya, ibarat seorang pesilat yang telah memiliki sejumlah jurus, selalu dibutuhkan untuk kembali naik gunung berguru menempa ilmunya, setelah tiba masa akhir berlatih, maka harus turun gunung memberantas kejahatan.

Alam pun bersikap demikian, air hujan lebih subur dari air tanah untuk menyirami tumbuhan, pohon dan bunga. untuk menjadi air hujan air harus kembali dulu ke sumber awalnya yaitu lautan, setelah melalui metamorfosis alam, air lautan naik melangit menjadi tetesan awan, dan saat tiba masanya, turun menjadi air hujan yang siap menyuburkan bumi.

Satu syawal kita memang secara simbol telah berlebaran, namun apakah selama 11 bulan berikutnya kita juga sudah berlebaran dan berlebaran.

Kalau kita sudah berlebaran selama 12 bulan lalu kenapa korupsi, kemiskinan dan ketidakadilan semakin merajalela di negeri ini ?

Bukankah ini pertanda bahwa masyarakat kita berimana kepada hawa nafsu ?

Okelah, kita mengaku sudah berlebaran, pertanyaan besarnya, “apa yang sudah kita lakukan dilingkungan pengaruh dan tanggungjawab kita masing-masing agar korupsi, kemiskinan, dan ketidakadilan itu tidak semakin merajalela ?”, semakin besar dan tinggi posisi anda di masyarakat, maka sesungguhnya semakin besar tantangan yang anda hadapi untuk mengatasi persoalan itu di masyarakat atau di negeri dan bangsa ini di bumi pertiwi nusantara, Indonesia.

Kalau bukan untuk itu buat apa kita beragama dan bertuhan, dan buat apa kita berpuasa ?
Rasulullulah diutus sebagai rahmatanlialamin, untuk sampai kepada hal itu, rasulullah diutus bukan untuk yang lain kecuali menyempurnakan akhlak manusia, sebagaimana telah diajarkan dan dikabarkan oleh nabi-nabi dan rasul pendahulunya. Karena hanya manusia atau pemimpin yang berakhlaklatul karimahlah dapat mengembang visi rahmatanlillalamin. Manusia seperti inilah sesunggunya yang sedang berlebaran setelah menjalani puasa ramadhan. Wallahualam.

ALLAHU AKBAR….ALLAHU AKBAR….ALLAHU AKBAR
LA ILAHA ILLALLAHU ALLAHU AKBAR
ALLAHU AKBAR WALILLAH ILHAM

salam dialog

Posted in: agama