Teror Menjelang Lebaran

Posted on 18 September 2009

0


Kemiskinan adalah teror. Ketidakpunyaan adalah teror. Para buruh dan pekerja yang belum mendapat THR, jelas menghadapi teror pula. Mengapa?

Bulan ini, tepat delapan tahun yang lalu, WTC New York dibombardir oleh teroris melalui pesawat komersial yang sengaja menabrakkan diri ke gedung tersebut. Sejak saat itulah, perang terhadap terorisme mulai dikumandangkan.

Akan tetapi yang terjadi bukannya aksi teror mereda, malah eskalasinya semakin meningkat, terutama di negeri ini. Memang sempat terjadi rehat sejenak, namun ledakan bulan Juli lalu seolah membangunkan kita dari mimpi indah bahwa terorisme masih eksis di bumi tercinta.

Lupakanlah sejenak jaringan terorisme internasional itu. Mari kita tengok terorisme dalam kehidupan sehari-hari, terutama menjelang hari Lebaran dan kebutuhan THR semakin meningkat. Ketika hendak beranjak ke kantor di pagi hari, ratusan motor bagai semut menjadi ‘teroris’, terutama bagi penyeberang jalan dan di lampu merah. Meleng sedikit, siap-siaplah kendaraan Anda tergores, atau bila berjalan kaki tersenggol roda dua tersebut.

Di dalam bis kota atau di setiap perempatan, ‘teroris’ dalam wujud pengamen atau peminta-minta siap memekakkan telinga Anda dan menunggu uluran recehan dari kantong baju atau celana. Paling sial kalau nyawa sampai melayang gara-gara diteror oleh motor atau mobil yang ngebut di jalanan.

Sampai di kantor, apalagi kantor pemerintah, ‘teroris’ dalam bentuk oknum kuli tinta bodrek dan LSM bodrek setia menanti lungsuran amplop Anda, atau nama Anda akan terpampang di koran lokal sebagai tersangka. Pimpinan tidak lupa selalu menanyakan jatahnya, begitu pula anak buah yang tiap hari merongrong minta THR dipercepat supaya bisa bayar zakat mal. Belum lagi para tamu tidak jelas yang selalu memantau perkembangan di depan kantor, siapa tahu kebagian rezeki nomplok.

Saat mudik tiba, bersiap-siaplah uang recehan banyak, karena ‘teroris’ dalam berbagai bentuk akan menanti Anda di perjalanan. Bagi pengguna bis atau angkutan Lebaran, para pengamen dan pedagang asongan, atau penumpang di sebelah Anda akan selalu siap menyuguhkan minuman memabukkan, yang sanggup menguras harta benda Anda dalam sekejap.

Bagi pengendara kendaraan pribadi, peminta-minta di jalan, oknum pengurus masjid yang mengais sumbangan di tepi jalan, bajing loncat, siap meneror Anda tanpa pandang bulu. Belum lagi sesama pengendara mobil maupun bus antarkota dan motor yang menyemut menjadi teroris ketika tak ada lagi yang ingin mengalah di kala macet atau malah kebut-kebutan di jalan, sehingga terjadi kecelakaan.

Kembali ke awal pembicaraan, wajarlah bila negeri kita menjadi ladang subur bagi pertumbuhan terorisme. Sebagai warga kita memang memiliki bakat untuk menjadi teroris, dan sarana untuk berlatih meneror orang lain, baik dengan cara halus maupun kasar. Jalan raya menjadi tempat berlatih paling efektif untuk menguatkan mental menjadi teroris. Ketidakberdayaan aparat, bahkan cenderung terjadi pembiaran, menyebabkan mental teroris semakin terbina.

Oleh karena itu, dibutuhkan satu generasi dan kesadaran kolektif untuk memberantas akar masalah mental teroris tersebut. Mustahil rasanya budaya teroris akan hilang selama mental teroris masih melekat pada sebagian besar bangsa ini. Jadi, waspadalah terorisme ada di sekitar kita, dan teror itu bisa berupa apa saja.

Dikirim oleh : DIZMAN P. NERUDA Citizen Journalism

Densus 88 boleh berbangga selama 9 tahun dalam pengejaran, kita salut atas keberhasilannya menembak mati Nurdin M Top dalam salah satu penggrebekan di Solo, namun mental bibit teror seperti postingan di atas baik yang terjadi dilingkungan birokrasi pemerintahan maupun dilingkungan keseharian masyarakat kita jelas menjadi lahan subur bagi tumbuhnya generasi pelanjut Nurdin M Top. Sayang, seandainya NMT bisa dibekuk hidup-hidup tentu jaringannya dapat ditelusuri lebih jauh dan menumpas antek-anteknya sampai ke akar-akarnya.

Perilaku mental teror seperti ini seolah sudah menjadi kelaziman di masyarakat, para penegak hukum dan pihak kepolisian bukannya melakukan langkah-langkah preventif dan kuratif, malahan di benak masyarakat malah menjadi bagian dari teror-teror kecil ini.

Saat ini saja Syaifuddin Zuhri masih ngetop, tokoh teroris yang masih bergerilya di bumi nusantara ini, menjadi dalang rekruiter peledakan bom bunuh diri di mega-kuningan. Fenomena kemunculan SZ ini dapat menjelaskan, bahwa para gembong teror di Indonesia memahami kalau suatu saat NMT akan ketangkap dan mati ditangan Polisi, sehingga sejak awal mereka sudah melakukan kaderisasi personal. Dan proses kaderisasi menjadi lahan subur di negeri ini karena mental teror dalam keseharaian kita sudah menjadi bagian dari kehidupan itu sendiri. Maraknya korupsi juga pertanda lemahnya penegakan hukum dan ini adalah celah tumbuhnya para pelaku teror Bom. walalahualam.

salam dialog

Posted in: Budaya, Peristiwa