Duel Maut Polri VS KPK; Koruptor, “Ha..ha..ha…!!!”

Posted on 16 September 2009

3


Kasus kontroversi Antasari mungkin akan terlupakan, bola panas menggelinding ke pimpinan KPK lainnya yang dipicu oleh pernyataan antasari kalau para koleganya menerima suap dalam beberapa kasus yang ditangani KPK. Dalam pemeriksaan maraton selama 8 jam lebih dua pimpinan KPK, Chandra M Hamzah dan Bibit Samad Rianto, resmi ditetapkan menjadi tersangka oleh Mabes Polri. Pasal yang digunakan bukan karena ditemukannya fakta terlibat suap tetapi karena penyalahgunaan wewenang penyidikan, yaitu melakukan pencekalan atas Anggoro Wijaya dan Djoko Tjhandra padahal belum termasuk subjek maupun perkara yang sedang disidik oleh KPK.

Tuduhan Polri ini dianggap sumir dan meresahkan, seolah mengada-ada atau memang mengada-ada, hal ini terjadi karena adanya sinyalemen KPK bahwa Komjen Pol Susno Duadji terlibat di dalam skandal century. Kabareskrim Komjen Pol Susno Duadji secara gamblang menyebut tengah memainkan skenario terkait dengan penyadapan telepon genggam yang diduga dilakukan KPK seputar skandal Bank Century.

Pemeriksaan para pimpinan KPK ini dilaksanakan sejak sore hari hingga pagi dini hari, sebelum keputusan tersangka ini dilakukan SBY sempat melakukan buka puasa bersama di Mabes Polri, ditengarai bahwa keputusan ini juga sudah mendapat restu dari presiden.

Ada dua pertanyaan besar dibalik keputusan Mabes Polri ini, 1) apa motivasi ketua KPK non aktif antasari atas tuduhannya bahwa para koleganya di KPK terlibat kasus suap, pengungkapan motiv antasari dibalik tuduhan ini dapat menjelaskan kenapa antasari terlibat pembunuhan dan bisa saja antasari adalah korban dari sebuah scenario untuk melumpuhkan KPK. 2) Apa motivasi sby terhadap KPK, di sisi lain beliau melontarkan KPK sebagai superbody dalam aksinya, sementara di sisi lain beliau juga selalu mengkampanyekan pemberantasan korupsi. Sikap SBY seperti melakukan kebijakan ganda atas lembaga KPK, mungkinkah ini terkait di dalam meredam KPK yang akan mengusut kasus skandal bank century di mana salah satu deposan besar bank century yang terselamatkan dengan dana talangan LPS 6, 7 trilliun adalah Hartati Murdaya Poo, salah satu donasi besar kampanye Pilpres SBY ? ataukah ini adalah akumulasi kekecewaan karena besan sby aulia pohan menjadi pesakitan kasus korupsi yang ditangani oleh KPK ?

yang jelas carut-marut kasus ini di mana Polri VS KPK membuat para koruptor saat ini pada tertawa besar, ha..ha..ha….”nyaho lho KPK,” ujarnya.

Scenario duel maut Polri VS KPK saya lengkapi pemberitaan dengan copas berikut ini :

Chandra-Bibit ‘terjerat’ skenario SD

JAKARTA – Dua pimpinan KPK, Chandra M Hamzah dan Bibit Samad Rianto, resmi ditetapkan menjadi tersangka oleh Mabes Polri. Keduanya sama-sama disangka menyalahgunakan wewenang sebagai penyidik. Dan Chandra dan Bibit pun berpeluang besar menginap di hotel prodeo.

Sebelum penetapan status tersangka, kabareskrim Komjen Pol Susno Duadji secara gamblang menyebut tengah memainkan skenario terkait dengan penyadapan telepon genggam yang diduga dilakukan KPK seputar skandal Bank Century. Mantan Kapolda Jawa Barat itu sengaja membiarkan ponselnya disadap. “Saya punya skenario sendiri yang akan saya dimainkan. Mari kita bermain,” jelas Susno.

Dirinya pun mengaku mengetahui siapa pelaku penyadapan sambungan teleponnya itu. “Ada suatu aib bagi saya sebagai Kaberskrim bila sampai tidak tahu kalau sedang disadap. Alat sadap itu banyak termasuk jenis dan harganya. Tapi bagaimana saya tahu saya disadap itu rahasia dapur saya. Saya tahu sedang disadap karena sedang disadap kita biarkan saja mereka menyadap kita, karena inilah skenarionya,” beber Susno.

Dalam analisa pengamat kepolisian, Bambang Widodo Umar, pelabelan status tersangka memang terkait dengan skenario Susno. Dan parahnya, rencana itu justru merupakan bagian dari skenario besar menghancurkan KPK. “KPK kini terjebak dalam skenario yang dimainkan Susno Duadji. Tapi di balik itu ada juga tangan-tangan tersembunyi yang tengah memainkan grand skenario untuk melumpuhkan KPK,” urai dosen S-2 Ilmu Kepolisian UI ini.

Bambang menjelaskan indikasi skenario besar terlihat dari adanya proses lain yang terkait pelemahan kemampuan dan kewenangan KPK. Ia menyontohkan seperti berlarut-larutnya pembahasan RUU Pengadilan Tipikor, pemangkasan hak penuntutan KPK hingga penyadapan yang harus mengantongi izin pengadilan.

“Grand skenario yang dilakukan terhadap KPK saat ini secara sistemik, organisasi dan diperlemah juga dari segi sumber daya manusianya. Karena dengan KPK hanya dipimpin dua orang, KPK cenderung tidak bisa apa. Ini juga seperti memiliki kepentingan menutupi kasus Bank Century,” cetus Bambang.

Dosen Fakultas Hukum Universitas Trisakti, Bambang Widjojanto menambahkan argumentasi yang diberikan Polri dalam menetapkan Chandra dan Bibit sebagai tersangka juga terbilang lemah. Alasan yang dibangun Polri dinilai masih sumir. “Saya mendengar keterangan langsung dari Chandra dan Bibit yang mengatakan langsung bahwa alasan Polri menetapkan tersangka itu sangat, sangat, sangat, sangat, sangat sumir,” kata Bambang yang juga merupakan pengacara Chandra dan Bibit ini.

Di mata mantan Ketua YLBHI ini, apa yang dilakukan Chandra dan Bibit dalam mencekal Djoko S Chandra dan Anggoro Wijaya adalah sah. Sebab, kewenangan tersebut jelas termaktub dalam undang-undang. “Jadi tidak sepantasnya kewenangan itu diuji lembaga penegakan hukum lain. Kalau memang ada yang dirugikan, seharusnya ajukan praperadilan. Teman-teman polisi ini mewakili masyarakat atau dua orang buronan itu (Djoko dan Anggoro)?” tanya Bambang heran.

Akan tetapi, Guru Besar Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Solo Prof Aidul Fitriciada Ashari memiliki pendapat lain. Aidul menilai Polri justru terjebak dengan skenario KPK. “Polri itu sudah terkena skenario KPK terlebih dahulu, lalu membuat skenario yang lain seolah-olah menjebak KPK,” jawabnya.

Karena itu, Dekan FH UMS ini mengusulkan KPK membeberkan hasil sadapan ponsel Susno. Hal ini penting dilakukan agar kisruh Polri-KPK seputar Century bisa lebih jelas. “Sekarang ini ada dua bukti yang bertentangan, antara rekaman suara Susno yang dimiliki KPK dan pengakuan Susno soal skenario dia menjebak pimpinan KPK. Jadi harus dibuka saja apakah itu benar skenario jebakan Susno atau itu tindakan yang memang diniatkan Susno,” usul Aidul.

Apalagi, lanjut dia, pernyataan Susno yang menyebutkan bahwa telah melakukan skenario penjebakan terkait dengan penyadapan ponsel merupakan post vactum. Artinya, pernyataan tersebut bisa dianggap biasa dilakukan seseorang untuk menutupi ataupun berkilah dari perbuatan yang sebenarnya dilakukan.

“Kita bisa tafsirkan itu sesungguhnya pembenaran saja, dia berkilah dari perbuatan yang dia lakukan. Susno seperti mau menutupi dugaan keterlibatannya dalam kasus Century. Sebaiknya, untuk membuktikan itu semua perlu diselesaikan dalam jalur hukum, tidak bisa dengan hanya konferensi pers,” tandas Aidul.

Dengan jeratan pasal 23 UU No 31/1999 junto pasal 421 KUHP dan pasal 12 E UU Korupsi junto pasal 15 UU No 31/1999, kebebasan Chandra dan Bibit memang benar terancam. Keduanya sangat mungkin ditahan terlebih ancaman hukumannya lebih dari 5 tahun. Lalu inikah skenario yang sedang dimainkan Susno?

Benar atau tidak adanya skenario besar membunuh KPK memang sebentar lagi akan terlihat. Cepat atau lambatnya akan tergantung ‘keberanian’ polisi dan juga intervensi Presiden SBY sebagai kepala negara dalam kekisruhan KPK-Polri.

Nah, gimana tanggapan teman-teman blogger kemana duel maut ini akan menggelinding, masihkah akan ada korban lain dari scenario bola panas ini ? wallahualam.

“Korupsi oh… koruptor dikaulah penyebab kemiskinan di negeri ini !?.”, kepada siapa lagi kami akan mengadu ?

salam dialog

Posted in: Politik