Membangun Kerelawanan Penanggulangan Kemiskinan

Posted on 11 September 2009

0


Kerelawanan bukan wacana kata basi untuk selalu kita bahas, gali terus sampai tuntas. Kerelawanan menjadi kata kunci menuai keberhasilan di dalam pendampingan kegiatan di masyarakat. Keberhasilan kita memfasilitasi dapat diukur dari seberapa jauh kemampuan yang dapat diserap oleh para relawan dan seberapa banyak jumlah relawan yang dapat mengambil alih, take over, kemampuan fasilitasi seorang fasilitator dapat berpindah tangan ke relawan. Dalam berproses selanjutnya dengan fasilitasi seorang relawan untuk komunitasnya. Hal ini hanya bisa terjadi jika sang fasilitator sendiri memahami dirinya juga seorang relawan, dan bekerja dengan trampil penuh semangat melakukan proses transformasi nilai-nilai kerelawanan di tengah masyarakat.

Pemahaman kerelawanan, kadang menjadi rancu karena dipahami seorang relawan itu harus rela dan pasrah membantu warga miskin, tanpa mengharapkan balasan uang. Malah diembel-embeli itu adalah ibadah, padahal mereka itu semua taat beribadah tapi nyatanya perintah agama juga tidak dapat berbuat banyak menggerakkan para relawan untuk saling peduli. Seorang fasilitator akan menjadi bualan masyarakat, karena sikap kritis masyarakat, ”enak saja fasilitator ngomong agar kita mau menjadi relawan, karena fasilitator itu punya gajih, kita dapat apa, Cuma capeknya aja, kita berhasil,.eh….malah dia dapat enaknya.” Kira-kira gitulah salah satu pernyataan yang sempat terlontar dilapangan. Lalu mereka bertanya kembali, ”Apakah kamu juga relawan….?”

Dalam konteks inilah, pemahaman kerelawanan perlu dikaji kembali. Kerelawanan tidak bersoal apakah dapat gajih, uang, atau imbalan tetapi dalam konteks profesi seorang relawan. Dengan demikian siapa saja bisa menjadi relawan sesuai profesi, latar belakang pendidikan, pejabat atau bukan, bergajih atau tidak bergajih, karena kata kerelawanan tidak ada hubungannya dengan masalah penghasilan sebagai pamrih.

Kerelawanan atau nilai-nilai seorang relawan adalah persoalan motivasi dan kepedulian dalam aksi nyata karena dia memiliki integritas, kekuatan moral, dan punya rasa percaya diri bahwa dia mempunyai kemampuan untuk melakukan perubahan di masyarakat di dalam persoalan kemanusiaan. Dus, siapapun yang mau berpikir, mencurahkan waktu, pikiran dan tenaganya bagi dunia kemanusiaan, itulah sesungguhnya predikat seorang relawan. Itulah makna kerelawanan sejati. Kalau dia bergajih itu karena latarbelakang pendidikan yang dimilikinya, komitmen, dan pilihan hidupnya dia bekerja di bidang kemanusiaan. Dia bekerja penuh waktu, penuh dedikasi, dan dia hidup dari profesi di bidang kemanusiaan.

Kemiskinan adalah salah satu persoalan kemanusiaan, seorang fasilitator yang bekerja di dalam penanggulangan kemiskinan, dia adalah seorang relawan. Dan karena itu sebagai profesi, dia layak untuk mendapat imbalan tetap setiap bulannya. Contoh lain tidak sebagai profesi, bahwa seorang PNS yang kemudiaan memberikan perhatian dan kepeduliannya di dalam mendukung program kemiskinan, maka dia juga adalah relawan. Tapi dalam konteks ini dia tidak mendapat imbalan karena profesinya adalah PNS dia hidup sebagai PNS itu tanggung jawab utamanya. Kalau dia karena itu mengharapkan imbalan, dia bukan relawan tapi lagi cari obyekan.

Nah, masyarakat yang menjadi relawan di PNPM Mandiri karena kepedulian pada kemiskinan, dia adalah relawan, tetapi karena itu bukan profesi dan juga tidak menghabiskan waktu untuk itu, maka wajar dia tidak mendapat imbalan dalam bentuk materi. Lain cerita pada saat dia mempunyai latar belakang pendidikan yang mendukung dan mau menjadi fasilitator penanggulangan kemiskinan, memilih jadi profesi, tentu dia akan mendapat imbalan.

Kesimpulannya, bahwa fasilitator PNPM Mandiri itu adalah relawan dari tingkat faskel sampai team leader. Karena mereka memilih profesi di dunia kemanusiaan, penanggulangan kemiskinan sebagai misi utama. Namun seorang yang punya profesi tidak didunia kemanusiaan, tapi punya kepedulian dan dedikasi untuk itu, dia adalah relawan, tapi tidak mengharapkan imbalan karena bukan profesinya.

Syarat kedua, bahwa seorang yang berprofesi di dunia kemanusiaan harus punya motivasi keberpihakan dan dedikasi pada perbaikan nilai kemanusiaan masyarakat, kalau motivasi utamanya hanya sekedar mendapatkan penghasilan, itu pun karena tidak ada pekerjaan lain, inilah orang yang sangat berbahaya, karena merusak nilai pemberdayaan dan mengacaukan persolan kemanusiaan itu sendiri. Persoalan kemanusiaan dijadikan lahan objekan, projek, dan selalu berpikir mendapatkan penghasilan tambahan dari profesinya ini. Orang semacam ini salah jurusan, harusnya menjadi pedagang saja.

Intinya, siapa pun dia, apapun profesinya, jika mempunyai dedikasi dan kepedulian pada perbaikan dunia kemanusiaan, itulah seorang relawan, itulah nilai kerelawanan.

Banyaknya pemda baik dilevel kota, provinsi, dan nasional tidak dapat berbuat banyak di dalam penanggulangan kemiskinan, karena nilai kerelawanan itu sangat tipis untuk tidak dikatakan sama sekali tidak ada. Apalagi pada persoalan-persoalan kemanusiaan lainnya. Contoh lain paling nyata, bahwa kita tidak responsif di dalam menghadapi penanggulangan bencana khususnya bencana alam, bersikap reaktif, tidak sistimatis dan terencana dengan baik, karena nilai kerelawanan itu sangat tipis.

Seorang perawat, dokter, dan tenaga penyuluh, mereka adalah profesi relawan karena berkutat membantu yang lemah, namun jika ada rumah sakit yang menolak orang miskin untuk berobat, maka sesungguhnya di rumah sakit itu tidak ada nilai kerelawanan.

Hakikinya, bahwa kerelawanan itu adalah integritas, moralitas, suatu keberpihakan pada nilai kemanusiaan, siapa pun anda, profesi anda, dan dimana anda berada. Tidak perlu bersoal bergajih atau tidak karena keberpihakan itu. Dan sungguh, itulah perintah semua ajaran agama dan kepercayaan. Jadi jangan lagi bersoal itu ibadah atau bukan, atau jangan bersoal itu amal atau bukan.

Sekelompok partai politik yang penuh dedikasi, menjunjung tinggi role and the game proses demokratisasi karena memiliki integritas dan moralitas di dalam merebut kekuasaan, sehingga mempunyai kepedulian pada kemanusiaan, mereka adalah sekumpulan para relawan.

Seorang pedagang dengan memberikan pelayanan yang baik kepada para pelanggan, sesungguhnya dia juga seorang relawan. Ketika anda dengan tertib dan sabar menunggu giliran antrian, anda juga seorang relawan pada saat itu.

Ketika anda mendahulukan kepentingan orang lain, karena anda menganggap dia lebih dulu berhak, sebenarnya anda juga seorang relawan.

Jadi setiap detik dari nafas kita, kapan pun, di mana pun, dan siapa pun, pembelajaran nilai kerelawanan dan aksi nyatanya selalu berada didepan mata kita.

Salam kerelawanan.

”Ditengah kesulitan, …….ditengah kesulitan,…..sekali lagi ditengah kesulitan…., sungguh didepan kita telah menuggu kemudahan….”

”Mencari kemudahan,…….selalu mencari kemudahan, sungguh adalah langkah pasti bahwa di depan telah menunggu sebuah kesulitan yang dalam…”.

”Kekuatan diraih, bukan karena masalah yang kita hadapi itu tidak terlalu rumit, tetapi semua masalah menjadi mudah karena kita sanggup menembus setiap kesulitan berat yang kita hadapi…” wallahualam.

Tulisan ini dipersembahkan bagi para pelaku Program Penanggulangan Kemiskinan PNPM Mandiri. Semoga bermanfaat jua adanya.

salam dialog

Posted in: Pendidikan