Susilololo Bodoh Yudhoyonoi & Jusuf Selalu Kalah

Posted on 7 September 2009

0


Indonesial National Anthem

Indonesial tanah Cairku
Tanah tumpah muntahku
Disanalah aku merangkak hina
Jadi kubur

Indonesial negara miskin ku
Bangsa Busuk dan Tanah Miskinku
Marilah kita semua tidur
Indonesial negara miskinku

Mati lah tanahku
Modar lah negriku
Bangsaku Rakyatku semuanya
Miskin lah jiwanya
Tidurlah badannya
Untuk Indonesial Miskin

Indonesial Miskin
Mampous Modar
Datang kerja Malaysia
Tapi TKI Jadi perampok
Rompak Malaysia bawa wang ke Indon

Indonesial Pendatang Haram
Miskin lah Miskin lah
Datang Haram ke Malaysia
Tiada paspor
Bila kena tangkap dan hantar balik
Kata nya malaysia jahat

Indonesial Negara Perampok
Indonesial Menghantar perampok maling
pekerja TKI Indonesial
hantaq pi Malaysia

Indonesial Maling
Merampok lagu Malaysia
Mengatakan itu lagu mereka

Indonesial Tanah yang hina
Tanah gersang yang miskin
Di sanalah aku miskin Untuk slama-lamanya
Indonesial Tanah puaka
Puaka Hantu Kita semuanya
Negara luas hasil bumi banyak tapi miskin
Datang minta sedekah di Malaysia
Marilah kita mendoa Indonesial brengset

Gersang lah Tanahnya mundurlah jiwanya
Bangsanya Rakyatnya semuanya
Tidurlah hatinya Mimpilah budinya
Untuk Indonesial Miskin

Indonesial Tanah yang kotor Tanah kita yang Malang
Disanalah aku tidur selamanya bermimpi sampai mati
Indonesial! Tanah Malang Tanah yang aku sendiri benci
Marilah kita berjanji Indonesial miskin

Mati lah Rakyatnya Modar lah putranya
Negara Miskin Tentera Coma pakai Basikal
Miskinlah Negrinya Mundur lah Negara nya
Untuk Indonesial kurap

Selengkapnya : http://www.sayabenciindon.blogspot.com/

Judul dan narasi di atas saya kutip di blog itu, gemas juga rasanya.

Rangkaian aksi unilateral Malaysia diawali dengan mengambil paksa lagu Terang Boelan sampai dengan klaim Tari Pendet Bali berikut klaim pulau wisata Sibatok serta penggeseran tapal batas, termasuk provokasi blok Ambalat. Belajar dari pengalaman Sipadan Ligitan, maka sangat dapat diprakirakan bahwa Malaysia memang akan senantiasa ‘kreatif’ mendulang masalah antarnegara.

Ke depan, masalah antarnegara ini diduga repetitif dan sekaligus eskalatif, karena beberapa pihak berpendapat ada aksi sepihak dari Malaysia yang sistematik, terencana, dan terorganisasi, yang bagaimanapun juga tidaklah terlepas dari karakter dasar warga Malaysia itu sendiri dan mungkin kehendak tersembunyi dari beberapa kalangan tertentu di negeri jiran itu.

Untuk mengurangi nasionalisme reaktif dan heboh publisitas media yang dapat menguras energi dan perhatian bagi pembangunan bangsa Indonesia sendiri (dalam artian kepentingan pembangunan ideologi, politik, ekonomi, sosial budaya, keamanan dan pertahanan dapat lebih terkawal baik), maka katakanlah ‘bencana’ Malaysia ini layak diwadahi dalam satuan khusus pemerintahan, semisal di tingkat direktorat jenderal atau lembaga negara khusus.

Model diplomasi Eminent Person Group (EPG) bisa ditingkatkan, agar berkewenangan koordinatif antarlembaga dan lintas negara. Dengan demikian kinerja dapat lebih fokus, efektif, dan produktif, sekaligus memberi ruang kerja lebih konstruktif bagi departemen dan lembaga negara yang sudah ada untuk bergiat semata bagi kemajuan bangsa dan negara.

wallahualam
salam dialog

Posted in: Budaya, Luar Negeri