SBY ‘Lanjutkan !’ Kesalahan Atau Sengaja ?

Posted on 6 September 2009

0


Ada tradisi yang berubah di ulang tahun kemerdekaan Indonesia yang ke-64 Indonesia.

Pertama, pengajuan jadwal pidato kenegaraan presiden di sidang paripurna DPR RI, yang biasanya disampaikan pada 16 Agustus kini menjadi 14 Agustus.

Kedua, sidang paripurna yang selama ini diawali dengan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya diubah dengan langsung mengheningkan cipta.

Ketiga, mantan presiden tidak pernah lagi hadir dalam upacara peringatan kemerdekaan di Istana Negara.

Keempat, seruan ‘Laksanakan!’ saat inspektur upacara menerima laporan komandan upacara kini diganti dengan kata “Lanjutkan!” Mungkin akan ada tradisi baru lainnya, mari kita sebagai warga negara mengikuti episode-episode lanjutannya.

Adakah yang salah dengan seruan ‘Lanjutkan!’? Sungguh tidak ada yang salah sama sekali ketika inspektur upacara menyeru ‘Lanjutkan!’ pada saat upacara. Dan sederhananya komandan upacara tinggal menjawab ‘Siap lanjutkan!’, bukan mengatakan ‘Siap laksanakan!’

Namun perubahan tradisi itu menjadi sebuah ‘komedi’ Indonesia baru, ketika yang mengatakan adalah seorang Presiden SBY, yang pada saat kampanye pemilihan presiden selau menggunakan slogan ‘Lanjutkan!’ untuk kampanye. Setidaknya, aroma kampanye menjadi terasa dalam upacara kenegaraan.

Apakah SBY masih belum yakin terpilih menjadi presiden periode 2009-2014, sehingga harus terus melakukan kampanye saat memimpin upacara peringatan kemerdekaan di Istana Negara ?

Saya yang kebetulan datang pada saat upacara penurunan bendera di Istana sempat kaget dengan jawaban ‘Lanjutkan!’ itu. Dan yang lebih mengagetkan, sebagian tamu undangan memberkan apresisasi dengan tepuk tangan. Sebuah pemakluman, penghargaan atas ketidakbiasaan ini ? Ataukan tepuk tangan itu berarti persetujuan untuk penggantian seruan tersebut? Sebuah pertanyaan yang masih belum saya temukan jawabannya.

Dalam kebingungan mendengar seruan ‘Lanjutkan!’, saya bergumam lirih: “Kemarin DPR salah, sekarang presiden yang salah.” Ternyata seorang penjaga stand pembagian souvenir mengatakan, “Nggak salah Pak. Kalau salah, ya tidak mungkin dua kali.”

Saya pun menenggok dan menanyakan maksudnya. Ternyata pada saat upacara pengibaran juga dikatakan ‘Lanjutkan!’, artinya ini bukan suatu ketidaksengajaan, tapi jelas kesengajaan Presiden SBY mengatakan seruan itu.

Sejauh pengalaman saya mengikuti upacara serupa, belum pernah saya mendengarkan seruan ‘Lanjutkan!’ seperti itu. Dan komandan upacara, seingat saya tetap mengatakan ‘Siap laksanakan!’, yang artinya memang ini adalah surprise untuk 64 tahun Indonesia merdeka.

Obrolan dengan dua orang penjaga stand berlanjut dan mereka mengatakan kurang pas bila presiden mengganti istilah ‘Laksanakan!’ dengan ‘Lanjutkan!’, apalagi karena istilah itu adalah slogan saat kampanye kemarin. “Nggak tahulah Pak, terserah mereka saja,” begitu jawaban mereka. “Sebenarnya, ya kurang pas, karena kata itu adalah slogan saat kampanye.”

Ini dapat diartikan dalam dua kemungkinan, yaitu Pak SBY sebenarnya belum yakin atas kemenangan yang diperolehnya, atau Pak SBY mulai sombong. Benarkah demikian? Dalam hati, saya tidak yakin Pak SBY sombong, karena beliau selalu santun dalam bertutur kata selama ini. Tapi kalau Pak SBY belum yakin atas kemenangannya, kenapa harus tidak yakin sementara MK sudah memutuskan ?

Menurut pemikiran saya, pastilah ada ‘pembisik’ yang bodoh, konyol, dan iseng, tetapi mampu mempengaruhi Pak SBY untuk menggunakan kata ‘Lanjutkan!’ dalam upacara kenegaraan.

Kalau Ketua DPR Agung Laksono sudah meminta maaf atas kekeliruan dalam sidang paripurna kemarin, akankan Presiden SBY merasa bersalah dan perlu meminta maaf ? Biarkan alam membimbing dengan caranya! wallahualam.

Citizen Journalism
SURYOKOCO ADIPRAWIRO

salam dialog

Posted in: Budaya