Jalan Sensualitas, Pintu Spiritualitas

Posted on 5 September 2009

1


Strings_by_alexiussKetika seseorang merasakan kenikmatan ejakulasi atau orgasme, maka ia seperti sedikit merasakan kenikmatan penyatuan diri (‘fana) seperti yang dialami para mistikus.

Sensualitas dan spiritualitas sebagai proses keberagamaan masih diyakini oleh arus utama (mainstream) agamawan, khususnya Islam, sebagai dua aspek yang berposisi opisisional. Sensualitas yang bisa didefinisikan sebagai pencerapan dengan panca indera diasumsikan fakultas tubuh yang menghalangi perjalangan menuju pintu spiritualitas.


Puasa seperti yang dilaksanakan pada Ramadan adalah salah satu cara untuk mengendalikan sensualitas agar tak menutupi pintu ke spiritualitas. Sebenarnya Islam tak menganut paham asketisme ekstrim, karena itu pengendalian sensualitas dalam puasa bisa dipahami sebagai manajemen sensualitas untuk meningkatkan spiritualitas. Sikap asketisme didefiniskan sebagai sikap yang menolak diri dan menjauhi kesenangan duniawi.
Bagaimana sebetulnya hubungan antara sensualitas dan spiritualitas?

Dr. Taufiq Pasiak, dosen fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi Manado pernah menulis di majalah Azzikra Jakarta bahwa banyak penelitian menemukan bahwa orang-orang yang mempraktikkan kehidupan spiritual yang dalam, atau orang-orang melakukan hubungan seks yang didasari cinta dan keterikatan, dapat memperpanjang umur, lebih terhindar dari stroke dan penyakit jantung, memiliki sistem kekebalan yang lebih baik, serta memiliki tekanan darah yang relatif rendah dibandingkan subyek yang menjadi pembanding.

Masih menurut Dr. Taufiq, pengalaman spiritual dan seksual–bagian dari sensualitas–bagaikan dua sisi dari sebuah koin sirkuit sarafi yang diaktori oleh sistema limbicum, bagian yang paling tua dalam evolusi perkembangan otak yang berhubungan dengan spiritualitas. Riset-riset neurosains membuktikan bahwa kegiatan seksual dan penyatuan mistis (mystical union) melibatkan sirkuit yang sama dalam otak manusia. Struktur neurologis yang terlibat dalam pengalaman spiritual adalah juga struktur yang terlibat dalam pengalaman seksual.

Ketika seseorang merasakan kenikmatan ejakulasi atau orgasme, maka ia seperti sedikit merasakan kenikmatan penyatuan diri (‘fana) seperti yang dialami para mistikus. Dalam konteks di atas, kita bisa berhipotesis bahwa hubungan seks yang didasari atas cinta dan keterikatan merupakan jalan pertama menuju penyatuan diri yang hakiki dengan Yang Dicintai. Masuk akal jika kesamaan sirkuit sarafi yang dipakai ini mewujud juga dalam ekspresi bahasa yang relatif sama.

Bukan kebetulan jika istilah dan idiom yang dipakai kalangan mistikus ketika melukiskan penyatuan itu merupakan terma-terma romantisme yang juga dipakai ketika seseorang jatuh cinta. Wallahualam.

salam dialog

Posted in: agama, Budaya