Siapa ‘Menunggangi’ Konflik Indonesia-Malaysia?

Posted on 2 September 2009

1


Indonesia dan Malaysia kini sedang dihadapkan pada satu persoalan serius, konflik di tingkat elit yang mulai merambah pada tingkatan ‘the people’ kedua negara.

Sekilas memang, seolah-olah konflik yang timbul lebih disebabkan karena kesalahan di antara keduanya dalam membangun dan membina hubungan diplomatik yang konstruktif. Namun jika ditinjau secara lebih komprehensif, muncul dugaan bahwa ada upaya sistematis dan teroganisir untuk menghadapkan kedua negara pada situasi konflik.

Menariknya, perkembangan konflik kedua negara, sedikit banyak disebabkan karena perilaku aktor non-negara (non state actor). Di luar masalah Sipadan-Ligitan, akar masalah konflik seperti Ambalat, pelecehan produk budaya, penghinaan tenaga kerja Indonesia, bahkan sampai dengan pemicu terakhir yakni pelecehan lagu kebangsaan kedua negara merupakan sulutan yang datang dari aktor privat.

Maka, menarik kemudian mempertanyakan secara kritis, mengapa sumber masalah seolah datang silih berganti yang masing-masing mampu memberikan provokasi kepada publik? Kemudian, mengapa sumber isu konflik diarahkan pada upaya konflik terbuka yang melibatkan dua bangsa serumpun?

Lebih dari itu, siapakah aktor yang sesungguhnya berada di balik konflik kedua negara? Atau dengan kata lain, siapa sebenarnya yang lebih berkepentingan dari konflik antara Indonesia-Malaysia? Dan, untuk apa pemicu konflik ini terus ‘dipelihara’ dan ditebarkan setiap saat?

Aneka pertanyaan di atas tentu saja harus dijawab secara jernih dan bertanggung jawab. Ketika kasus pengeboman dan tindakan serta serangan terorisme menghantui Indonesia yang didalangi oleh ‘putra’ Malaysia, Noordin M Top misalnya, banyak pihak mensinyalir bahwa Malaysia terlibat di dalamnya.

Hal ini diperkuat dengan analisis bahwa Indonesia mesti terus diguncang dengan teror dan ancaman, agar tercipta image atau kesan bahwa negara ini memang tidak aman untuk dikunjungi, berinvestasi, apalagi berwisata. Dengan demikian, Malaysia mendapatkan keuntungan politik dan ekonomi dari buruknya situasi di Indonesia.

Lebih dari itu, dugaan Noordin dilindungi oleh ‘negara’ begitu kuat adanya, mengingat sulitnya gembong teroris ini ditangkap. Analisis lainnya, dalam situasi ekonomi dunia seperti saat ini (resesi), Indonesia satu-satunya negara di kawasan ini yang mencatat pertumbuhan positif, sementara Malaysia membukukan pertumbuhan ekonomi negatif.

Mengalihkan perhatian dunia kepada Malaysia salah satunya dapat dilakukan dengan mendeskreditkan negara tetangganya, Indonesia, dalam kancah internasional. Poin dan pandangan di atas tentu saja bagian dari analisis pertama dalam upaya menjawab akar konflik kedua bangsa serumpun.

Poin berikutnya adalah boleh jadi konflik kedua negara turut didesain dan dinikmati oleh negara ketiga. Dalam bahasa sederhana, ada penunggang gratis (free rider) dari konflik ini. Pertanyaannya adalah siapakah aktor atau pelaku yang dimaksud? Mungkinkah aktor negara berada di balik semua ini? Mungkinkah Singapura misalnya terlibat?

Sebagaimana diketahui, posisi Singapura tepat berada di antara Indonesia dan Malaysia. Selama ini Singapura sangat menikmati posisi, kebaikan, sikap ‘manut’ dan bersahabat yang ditunjukkan Indonesia dan Malaysia. Singapura telah menjadi jembatan emas di antara kedua bangsa serumpun di mata dunia internasional.

Singapura juga ’surga’ bagi para penjahat, termasuk koruptor, dalam hal ini para pengusaha pengemplang utang asal Indonesia dan Malaysia. Dan yang paling penting, Singapura merupakan kepanjangan tangan (negara satelit)bagi kepentingan Barat (Amerika dan sekutunya, termasuk Israel) di Asia Timur.

Dapat dipahami bahwa, konflik antara Indonesia dan Malaysia akan sangat menguntungkan posisi Singapura sebagai jembatan di Asia Tenggara. Pendekatan dalam politik internasional menjelaskan bahwa salah satu cara dalam menguasai suatu kawasan adalah dengan menempatkan negara satelit.

Teori ini berlaku efektif bagi Amerika, dengan menjadikan Israel sebagai negara satelitnya di Timur Tengah, atau kedigdayaan Uni Soviet pasca Perang Dunia Kedua terlihat jelas dengan menjadikan Polandia sebagai negara satelitnya untuk menguasai Eropa.

Kini, saat konflik terus membesar yang mengarah kepada konflik terbuka antarmasyarakat dalam bangsa serumpun, patut untuk kita mawas diri dan mewaspadai potensi perang terbuka. Identifikasi dipraktikkannya ‘psy war’ oleh privat ataupun ’state actor’ harus dilihat sebagai upaya untuk menggoyahkan kawasan (region) secara umum, dan khususnya konflik terbuka dua negara sekandung.

Dengan demikian, perlu menjadi agenda khusus negara untuk menguak tabir tentang potensi ‘free rider’ dalam konflik Indonesia dan Malaysia.

Kiriman Citizen Journalism SYAHRUL SALAM, Medan.

Salam dialog

Posted in: Luar Negeri, Politik