Bank Century Dibeli 6, 7 T Lima Tahun Kemudian Dijual 6, 7 T, “Apa Gunanya ?”

Posted on 2 September 2009

5


Kalau saja anda memiliki dana sebesar 6, 7 trilliun, apakah anda mau menginvestasikan pada sebuah bisnis dengan prediksi pada lima tahun ke depan hasilnya penjualannya juga sebesar itu ? Kalau mau, “lalu apa gunanya ?” padahal secara sederhana jika dana tersebut cukup diparkir saja di devosito selama 5 tahun berapa keuntungan yang akan diperoleh, apalagi jika dimanfaatkan sebagai suntikan modal di sektor riil.

Pengambilalihan Bank Century berpotensi merugikan keuangan Negara. Pasalnya, suntikan modal oleh Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) sebesar Rp6,76 triliun tidak sebanding dengan asset Bank Century tersebut. “Selain mengambil alih Bank, LPS juga sebetulnya menjamin seluruh simpanan nasabah. Pengucuran dana sebesar Rp6,76 triliun, itu berpotensi merugikan keuangan Negara karena aset Bank Century itu sebagian besar bodong,” kata anggota Badan Perkumpulan Indonesia Corruption Watch Yanuar Rizki di Jakarta, Selasa (1/9).

Saat ini, menurut Firdaus, LPS memiliki cadangan senilai Rp 2,2 triliun dalam bentuk Surat Utang Negara dan Sertifikat Bank Indonesia, yang sangat likuid. Selain itu, LPS juga memiliki sejumlah aktiva produktif yang telah dihapus dari neraca, tetapi memiliki nilai recovery. Aset-aset tersebut berupa surat-surat berharga yang telah jatuh tempo, tetapi belum bisa dicairkan dan aset-aset jaminan dari kredit yang macet. Belum bisa diketahui berapa besar nilai recovery yang bisa diupayakan dari aset-aset kotor tersebut.

Pertanyaan besarnya ?, kalau saja LPS sudah memprediksikan akan kembali menjual asset Bank Century 3 – 5 tahun ke depan dengan nilai minimal 6,7 trilliun berdasarkan pengalaman BLBI yang malah sudah ditangani lembaga BPPN alilh-alih semua aset itu bisa dijual malah mengalami penurunan nilai likuiditas.

Siapa yang akan menjamin sejumlah aktiva produktif yang telah dihapus dari neraca dapat memiliki nilai recovery lima tahun kemudian ? karena wilayah ini tidak lagi dijangkau pengawasan publik.

Aset-aset tersebut berupa surat-surat berharga yang telah jatuh tempo, tetapi belum bisa dicairkan karena aset-aset jaminan dari kredit yang macet, nah…, siapa yang berani menjamin aset-aset kotor ini bisa bernilai recovery juga selama lima tahun ke depan ? bagaimana cara menyelematkan dana kredit macet ini yang disinyalir hanya kredit fiktif ?

Sesuai pengalaman tahun 1998 bantuan likuiditas Bank Indonesia (BLBI) di dalam menangani bank-bank bermasalah dengan sistem bail out negara telah dirugikan Rp 600 trilliun, hingga kini bahkan 20 tahun mendatang rakyat harus membayar bunga dan pokok sebesar Rp 60 trilliun melalui APBN. Sementara yang untung siapa, kalau bukan para obligor BLBI yang sudah memarkir dananya di luar negeri.

Kasus BLBI ternyata tidak membuat jera bagi para otoritas moneter kita, BLBI malah menjadi modus operandi para banking crime di Bank Century.

Kenapa semua ini bisa terjadi, karena ini adalah white collars crime diantara para bangkir dan otoritas moneter kita yang diuntungkan dari carut-marut atas penyelesaian kasus ini dan berlindung dibalik prosedur dan perundangan-undangan di mana publik sangat sulit untuk memahaminya. Seperti kasus BLBI tidak bisa terungkap karena sudah terkait dengan masalah politik dan kekuasaan. wallahualam.

Salam dialog

Posted in: Ekonomi, Politik