White Collar Crime & Banking Crime Bank Century; Mengulang Kisah Sukses Kasus BLBI

Posted on 1 September 2009

0


white_collar_crime

white_collar_crime

white collar crime; suatu perbuatan (atau tidak berbuat) dalam sekelompok kejahatan yang spesifik yang bertentangan dengan hukum pidana yang dilakukan oleh pihak profesional baik oleh individu, organisasi atau sindikat kejahatan ataupun dilakukan oleh badan hukum.

Banking crime suatu jenis kejahatan yang secara melawan hukum pidana dilakukan baik dengan sengaja ataupun dengan tidak sengaja yang ada hubungannya dengan lembaga, perangkat dan produk perbankan sehingga menimbulkan kerugian materiil dan atau immateriil bagi perbankan itu sendiri maupun bagi nasabah atau pihak ketiga lainnya.

Banking Crime telah terjadi di bank century yang ditukangi oleh white collar crime bank century sendiri ? kisah ini hanya mengulang kesuksesan di kasus BLBI tahun 1998. Otaknya adalah 60 % corporasi di bawah naungan PT HM Sampoerna, siapakah orang-orang di balik ini adalah orang yang sangat dekat malah menjadi donasi suksesi kekuasaan saat pemilu.

Rekam jejak Bank Century berbasis di bisnis valas ini dari awal banyak mengundang misteri di mana Per 30 September 2008, PT. Antaboga Delta Sekuritas tercatat sebagai salah satu pemegang saham terbesar Bank Century (dengan total kepemilikan 7,44%). Bank Century dalam operasinya juga melakukan penjualan reksadana bodong padahal bank ini tidak mempunyai perizinan untuk menjual Reksadana melalui PT. Antaboga Delta Sekuritas.

”Modus kejahatan perbankan yang diduga dilakukan manajemen Bank Century adalah penempatan dana yang sembrono di pasar uang (money market-red),” kata Pengamat ekonomi Ichsanuddin Noorsy, Senin (24/11). Hal ini terlihat dari penyimpangan yang dilakukan manajemen Bank Century yang memiliki kewajiban surat berharga valas sebesar US$ 210 juta. Menurutnya, kasus Bank Century ini menunjukkan ada praktik-praktik yang menyimpang di bank sentral menyangkut tes kelayakan dan kepatutan (fit and proper test) yang tidak akurat. Lengkapnya baca : Bongkar Kejahatan Bank Century

Saat ini ada tiga pemilik yang bertindak sebagai pemegang saham pengendali, yaitu Rafat Ali Rizvi, Hesham Alwarraq, dan Robert Tantular. Kesulitan likuiditas yang dialami oleh bank tersebut mengakibatkan rasio kecukupan bank itu tergerus, pada September 2008 bank itu masih memiliki rasio kecukupan modal (CAR) 14,88 persen dan tiba-tiba anjlok menjadi minus 2,3 persen (bank sehat, CAR minimumnya delapan persen).

Pengambilalihan Bank Century berpotensi merugikan keuangan Negara. Pasalnya, suntikan modal oleh Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) sebesar Rp6,76 triliun tidak sebanding dengan asset Bank Century tersebut. “Selain mengambil alih Bank, LPS juga sebetulnya menjamin seluruh simpanan nasabah. Pengucuran dana sebesar Rp6,76 triliun, itu berpotensi merugikan keuangan Negara karena aset Bank Century itu sebagian besar bodong,” kata anggota Badan Perkumpulan Indonesia Corruption Watch Yanuar Rizki di Jakarta, Selasa (1/9).

LPS yang dibentuk undang-undang, menurut Yanuar, mengelola dana publik melalui premi perbankan. “Jadi, pengelolaan keuangan LPS yang tidak tepat dalam kasus Bank Century berpotensi menimbulkan kerugian keuangan Negara. Tidak ada alasan, karena dana itu dari pihak bank-bank yang dikumpulkan LPS, lalu dikatakan bukan uang Negara. Uang Negara itu bukan hanya dari ABPN, tapi juga uang publik yang dikelola lembaga yang dibentuk undang-undang termasuk BUMN,” ujar Yanuar.

Bank Indonesia mengakui pembengkakan dana talangan PT Bank Century Tbk disebabkan adanya kejahatan oleh pemilik lama. Kejahatan tersebut misalnya tidak transparannya laporan dan penggelapan dana.

Deputi Direktur Pengawasan Bank Indonesia Heru Kristyana mengatakan, hitungan suntikan dana yang diperlukan Century terus membengkak. Penyebabnya, dari waktu ke waktu bank sentral menemukan beragam catatan fiktif dalam pembukuan. Sehingga, perhitungan berubah-ubah seiring bartambahnya data yang masuk.

“Sebelumnya kami tidak tahu karena dulu masih ditutupi pegawainya, setelah manajemen diganti, barulah mereka jauh lebih transparan,” kata Heru di Jakarta, Senin (31/8). Heru menyebutkan catatan yang ditemukan belakang hari diantaranya temuan transfer dana sebesar US$18 juta yang dilakukan Dewi Tantular tanpa seijin pemiliknya. Selain itu, temuan adanya L/C fiktif senilai lebih dari US$100 juta. “Ada juga kredit fiktif yang kami temukan,” tambah Heru.

Pengamat ekonomi sekaligus anggota Komisi Keuangan dan Perbankan DPR, Dradjad Wibowo, mengatakan, persoalan keuangan yang dihadapi Bank Century tak hanya dipicu oleh krisis. Ia sepakat dengan Wakil Presiden Jusuf Kalla, yang memandang ada unsur kejahatan perbankan di dalamnya. Kejahatan perbankan, menurutnya, harus diselesaikan secara hukum dengan mengacu pada UU Perbankan. Bank Century mendapat kucuran dana talangan dari pemerintah sebesar Rp 6,7 triliun.

“Kalau Komisi XI mempertanyakan mengapa BI memutuskan Century sebagai bank gagal yang bersifat sistemik. Kalau ada kejahatan perbankan di situ maka penyelesaiannya melalui kejahatan perbankan,” kata Dradjad. Kejahatan perbankan, menurut politisi PAN ini, tak mengharuskan negara ikut menalangi kerugian yang diderita. “Kalau negara yang menalangi, ibaratnya ada seseorang rumahnya kemalingan, kerugian diganti negara. Padahal, tidak ada kaitan dengan negara,” ujar dia.

Bank Century, Kasus BLBI Terulang Kembali Negara dan Rakyat Akan Dirugikan 6,7 Trilliun. Tanya kenapa ? karena orang-orang Bank Century adalah sesuai rekam jejaknya adalah white colars crime, melakukan banking crime di bisnisnya sendiri.

Koq mau-maunya otoritas moneter kita di BI mau menalangi bank kecil dan busuk ini ? wallahualam.

Salam dialog