Malaysia Of The Nation Terror For Indonesia ?

Posted on 31 Agustus 2009

1


Otak dibelakang semua teror ini adalah Dr Azzahari Husein, Noordin M Top, yang keduany adalah warga negara malaysia. Lalu kenapa mereka tidak melakukan pengeboman di Malaysia kalau alasannya ingin melenyapkan Amerika dan kaum kafir ? Di Malaysia ada pusat perjudian Genting highlands, di Malaysia banyak turis asing sejak mereka gencar berpromosi dengan Truly Asianya. Semua yang dijadikan sasaran teroris, Hotel JW Marriott, Hotel Ritz Carlton dan Kedutaan Amerika serta Australia, semuanya juga memiliki cabang di Malaysia, kenapa Indonesia yang di bom ?

Ketika bom Bali pada Oktober 2005 dan bom di Kedutaan Australia pada September 2004. Bali dipilih, karena salah satu lokasi wisata yang paling terkenal di Dunia, setiap tahunnya kunjungan turis asing ke Bali mengalahkan kunjungan turis asing ke Malaysia. Merasa tidak bisa bersaing, maka Malaysia membom Bali. Jumlah turis ke Bali menjadi sepi dan hampir semua berpindah ke Malaysia, yang kemudian gencar promosi dengan Malaysia Truly Asianya.

Sekedar informasi bahwa Malaysia terobsesi menjadikan Negaranya Pusat Kebudayaan se-Asia. Saat Malaysia merebut sipadan dan Ligitan dari Indonesia, dimaksudkan untuk menandingi Bali ? kenapa kedutaan Australia di Indonesia yang di Bom? mengapa bukan Amerika? Karena hubungan antara Indonesia dan Australia yang kurang akur, tetapi walaupun sering terjadi konflik kunjungan wisatawan asing ke Indonesia-Bali banyak yang berasal dari Australia dan korban Bom Bali terbanyak adalah warga Australia, dengan mengebom kedutaan Australia di Indonesia, Malaysia berharap akan terjadi konflik antara Indonesia dengan Australia, Malaysia berharap bisa meraup wisatawan dari Australia yang mengeluarkan Travel warning dan mengalihkan wisatanya dari Indonesia. Dari sejumlah korban yang berjatuhan akibat teror bom di Indonesia tidak ada satu orangpun warga negara Malaysia yang menjadi korban.

Negara yang selamat dari Resesi Global di Asia hanya 3 negara (Indonesia, China & India). Malaysia anjlok dengan pertumbuhan ekonomi minus 6%!. Produk andalan mereka (Kelapa sawit dan karet harganya anjlok di pasar dunia. mereka harus mencari sumber baru). sumber baru itu bernama Ambalat. Lepas pantai ambalat menyimpan banyak cadangan minyak bumi yang nilainya luar biasa. Karena berada di Indonesia, maka malaysia mencoba melakukan provokasi kepada Indonesia dengan harapan Indonesia merespon dan menyerang terlebih dahulu, kalau sudah demikian dan terjadi perang terbuka, maka Malaysia akan mengadukannya kepada Mahkamah Internasional.

Malaysia gagal memprovokasi Indonesia di Ambalat maka Malaysia melakukan terror bom. Disaat Indonesia baru selesai Pemilu dengan kisruh DPT dan bersiap menyambut MU, ditambah dengan kepercayaan dunia Internasional yang tinggi yaitu: konferensi berskala internasional banyak dilakukan di Indonesia. Malaysia membom Hotel Ritz Carlton dan JW Marriot dengan harapan pengeboman terjadi karena orang yang tidak puas dengan Pemilu.

Mengapa di lakukan 17 Juli? mengapa tidak tanggal 19/20 ketika MU sudah berada di Hotel Ritz Carlton ? mengapa dilakukan di saat pagi hari ? karena yang diincar adalah kegiatan CEO Breakfast meeting yang berlangsung. Meeting itu merupakn pertemuan rutin yang dihadiri oleh para petinggi perusahaan TAMBANG yang ada di Indonesia, tujuannya memberikan image kepada dunia bahwa Indonesia bukan tempat yang aman untuk berinvestasi dan berharap pengerjaan blok Ambalat pertambangan, akan jatuh ke tangan mereka.

Perhatikan nama-nama korban dibawah ini, alasan yang kuat mengapa Malaysia melakukannya di pagi hari
1. Kevin S Moore, PresDir Husky, perusahaan energi besar dunia.
2. Gary Ford, PresDir Anadarko Indonesia Company, produsen minyak & gas terbesar di dunia.
3. Garth McEvoy, PresDir Thiess Indonesia, perusahaan yang bergerak di bidang pertambangan asal Australia.
4. Peter Van Wessel, PresDir Oil Tanking Ltd, perusahaan bergerak di bidang layanan penampungan minyak & bahan tambang.
5. James Castle, Chairman dan pendiri Castle Asia, perusahaan konsultan bisnis. Castle adalah tukang lobi terkemuka bagi perusahaan asing yang ingin investasi di Indonesia.
6. Noke Kiroyan, Mantan CEO PT Newmont Pacific Nusantara dan PresDir PT Rio 7. Tinto Indonesia, Noke menjabat sebagai Managing Partner PT Komunikasi Kinerja.
8. Adrianto Machribie, Mantan PresDir PT Freeport Indonesia pada 1996 -2006. Sekarang menjabat PresDir Atlantic Copper, anak usaha Freeport-McMoran Copper and Gold. Dia juga Penasehat Senior Presiden Direktur PT Freeport Indonesia.
9. Dave Potter, Warga negara Amerika Serikat Direktur PT Freeport Indonesia, perusahaan emas besar dunia asal Amerika Serikat.
Timothy Mackay, CEO PT Holcim Indonesia, Holcim merupakan raksasa semen dunia asal Swiss.

Semenjak reformasi terjadi di Indonesia, serangan terror yang dilakukan oleh Malaysia semakian nyata dan intensitasnya juga meninggi. Ketegasan Pemimpin Indonesia sama sekali tidak terlihat meskipun terror tersebut begitu nyata dan menyakitkan bangsa Indonesia. Dimana kita ketahui pada tahun 1998 dan tahun 2009 ini adalah puncak krisis ekonomi global.

1. Puluhan kali kapal-kapal perang milik Malaysia masuk ke wilayah perairan Indonesia, diantaranya wilayah Ambalat dan perbatasan di Kalimantan. Meskipun Pemerintah Indonesia sudah berpuluh-puluh kali melayang nota protes diplomatic, kejadian pelanggaran wilayah tetap saja dilakukan oleh pihak Malaysia.

2. Beberapa wilayah Indonesia sudah diklaim dan akan diklaim sebagai wilayah Malaysia. Salah satu wilayah yang sudah menjadi milik Malaysia yakni pulau Sipadan yang dimenangkan Malaysia dalam sidang Arbitrase Internasional.

3. Beberapa tapal batas antara Malaysia dan Indonesia yang berada di wilayah Kalimantan bergeser kedalam wilayah Indonesia yang mengakibatkan luas wilayah Malaysia bertambah. Pergeseran ini diduga dilakukan oleh oknum-oknum Malaysia untuk menguasai produksi kayu yang ada diwilayah Kalimantan.

4. Perusakan hutan dan pencurian kayu diwilayah perbatasan Kalimantan hampir seluruhnya di otaki oleh pengusaha-pengusaha Malaysia dengan memanfaatkan masyarakat setempat sebagai pelaku lapangan.

5. Pemerintah Malaysia jauh lebih takut dengan keberadaan TKI di negeri Jiran tersebut dibandingkan dengan keberadaan teroris. Hal ini dibuktikan dengan kerapnya Pemerintah Malaysia melakukan rahasia-rahasia terhadap warga Negara Indonesia yang berada di Malaysia, meskipun masyarakat Indonesia yang berada di Malaysia mempunyai dokumen lengkap, banyak juga dari mereka yang tetap dianggap pendatang illegal dan terpaksa dibui.

6. Puluhan bahkan ratusan kasus penganiyaan TKI dan TKW di Malaysia tidak mendapat perlindungan dan kepastian hukum, banyak dari mereka yang pulang ke Indonesia cacat seumur hidup dan bahkan sudah menjadi mayat.

7. Hasil kebudayaan dan seni Indonesia banyak sekali yang diklaim oleh Malaysia, dan secara terang-terangan mereka mengakui semuanya merupakan hasil karya bangsa Malaysia.

8. Hampir semua pelaku terror bom di Indonesia diotaki oleh teroris berkebangsaan Malaysia, dan sampai saat ini belum ada kebijakan tegas dari Pemerintah Malaysia untuk bekerjasama menangkap pelaku yang sampai saat ini berkeliaran di Indonesia.

Hari ini, Senin 31 Agustus 2009, negeri jiran Malaysia berulang tahun yang ke-52. Kemerdekaan Malaysia yang lebih dari setengah abad ini merupakan jerih payah Malaysia melawan penjajah Inggris, tetapi sebenarnya kemerdekaan hadiah yang diberikan oleh kekuasaan Ratu British Empire sebagai koloninya dan saat ini Malasyia adalah salah satu anggota persemakmuran Inggeris.

Adalah Lokananta, sebuah perusahaan milik negara yang bergerak dalam usaha dokumentasi, meyakinkan publik bahwa lagu ‘Terang Bulan’ adalah lagu milik bangsa Indonesia yang telah dijiplak dan hanya diubah syairnya oleh Malaysia untuk dijadikan lagu kebangsaan. “Introduksi maupun nadanya sama persis. Hanya temponya diubah sedikit. Sedangkan syairnya diubah disesuaikan untuk kebutuhan negara Malaysia. Syairnya semula sangat umum karena memang itu lagu hiburan, diubah menjadi sangat patriotik,” ujar Kepala Perum Lokananta Surakarta, Ruktiningsih, Jumat 28 Agustus lalu.

Dalam catatan arsip Lokananta, hanya tertulis lagu tersebut sebagai lagu hiburan atau lagu rakyat populer dalam kategori jenis irama keroncong berdurasi 11 menit 15 detik dan tidak ada nama pencipta. Terang Bulan direkam pada piringan hitam pada 16 Maret 1965, bersama tiga lagu jenis keroncong lainnya. Lagu ‘Terang Bulan’ yang konon dijiplak untuk lagu kebangsaan Malaysia pada tahun 1957, ‘Negaraku’ ternyata juga saduran dari lagu karangan musisi Prancis Pierre-Jean de Béranger.

Sebelumnya, anak Syamsul Bachri, Aden Bachri mengklaim, lagu terang bulan adalah karya ayahnya. Saat ini, Aden tengah berusaha mengumpulkan bukti-bukti yang dapat mendukung pernyataannya itu. Namun demikian jika hal ini benar adalah hasil saduran tetapi itu merupakan hasil kreasi bangsa Indonesia yang dipopulerkan di tanah air dalam bahasa Indonesia. Bagaimana pun malasyia tidak layak untuk melakukan klaim kebenaran atas lagu tersebut.

Lagu Terang Bulan sebenarnya tak diketahui penciptanya. Lagu tersebut pertama kali dinyanyikan secara kor di Radio Republik Indonesia Jakarta pada 1956. Lagu tersebut kemudian dipindahkan ke piringan hitam di perusahaan rekaman Lokananta, yang kini merupakan salah satu cabang Perum Percetakan Negara RI, pada 1965. “Kedua lagu tersebut sangat identik dan sangat mirip, terutama dalam hal introduksi, nada, dan tempo lagu,” kata Ruktiningsih. Ruktiningsih menjelaskan, Negaraku hanya mengubah syair Terang Bulan. Musik pengiring Negaraku dimodifikasi dengan sentuhan orkestra. Adapun lagu Terang Bulan diiringi musik sejenis keroncong.

Konsultan hukum Lokananta, Jaka Irwanta, menceritakan, Presiden Soekarno pernah menghadiahkan piringan hitam lagu Terang Bulan kepada pemerintah Malaysia saat belum merdeka. “Namun, itu hanya hadiah, bukan untuk dijiplak,” katanya. Dalam situs http://www.malaysianmonarchy.org.my, lagu kebangsaan Malaysia Negaraku disebut memang diperkenalkan oleh orkes Indonesia. Berdasarkan cerita Raja Kamaruzzaman, putra Raja Mansur–Sekretaris Khusus Penguasa Kesultanan Perak pada 1887-1916, Sultan Idris Murshidul’azam Syah–lagu Terang Bulan disajikan oleh sebuah orkes dari Indonesia saat menggelar pertunjukan di Singapura. Setelah Negaraku ditetapkan sebagai lagu kebangsaan, lagu Terang Bulan masih diperdengarkan dalam acara masyarakat di Indonesia pada masa itu.

Tak cuma sering mengklaim budaya Indonesia seperti tari pendet, wayang, angklung, keris dan sebagainya, Malaysia ternyata sudah membeli semua karya sastra dan budaya dari Kepulauan Riau dan Mentawai. Hal ini diungkapkan oleh pegiat masyarakat nusantara Bondan Gunawan Sabtu 29 Agustus kemarin dalam sebuah acara diskusi. Bondan menilai, langkah Malaysia yang membeli karya sastra dan budaya Indonesia dapat dikategorikan teror budaya. Malaysia telah mendeklarasikan perang budaya terhadap Indonesia.

Koran Kompas Senin, 31 Agustus 2009 | 03:20 WIB, Baskara T Wardaya menulis :

Negeri Tak (Lagi) Bergigi?

Betapa bedanya keadaan kita kini. Bukan hanya lagu dan tarian yang satu per satu diklaim negara lain, sumber-sumber alam dan sumber daya manusia kita pun banyak yang ada di bawah kendali orang luar.

Baru-baru ini kita disadarkan, barang yang kita gunakan dan konsumsi sehari-hari ternyata sebagian besar merupakan hasil impor. Belum lagi jika benar jaringan terorisme yang membuat tewasnya para korban bom maupun orang-orang muda Indonesia berhasil dirayu menjadi kaki tangannya, ternyata didanai orang dari kawasan tertentu.

Itu semua mendorong kita bertanya, jangan-jangan kita sedang tidak dihormati oleh banyak kalangan di luar Tanah Air. Lebih dari itu, jangan-jangan kita ini sedang dilecehkan dan dimanfaatkan berbagai pihak untuk melayani kepentingan mereka sendiri, dari kepentingan ekonomi, budaya, politik, hingga radikalisme transnasional.

Jika itu benar, tampaknya tugas kita kini bukan hanya menyatakan rasa berang dan protes terhadap negeri jiran yang suka main klaim itu, tetapi juga berjuang agar bangsa ini kembali disegani bangsa-bangsa lain karena kepeloporannya.

Kita perlu tunjukkan kepada dunia bahwa bagai seekor harimau, kita tidak hanya gagah perkasa, tetapi juga bergigi lengkap dan tajam, siap menerkam setiap bentuk kesombongan, main klaim, terorisme antarnegara, dan setiap wujud ketidakadilan.

Dalam tulisan saya sebelumnya Indonesial VS Malaysial menjelaskan :

jika kita kembali lagi ke masa silam saat Islam mulai masuk ke pelosok dan pesisir nusantara, beberapa bangsawan yang tidak eksis di wilayah seperti Sulawesi yang dikuasai oleh Kerajaan Goa Bugis-Makassar, dalam epos lagaligo para bangsawan Kerajaan Luwu melakukan perantaun di tanah Malaysia. Para Melayu yang tidak eksis di daerah Minang dengan adanya kerajaan Sumbar, juga merantau ke Malaysia, dan runtuhnya kerajaan Majapahit membuat beberapa raja merantau ke tanah Bali bagi yang beragam Siwa, Hindu-Budha, sedangkan etnis Jawa yang sudah memeluk Islam yang berada di pesisir pantura mereka juga merantau ke Malaysia.

Sialnya bagi Malaysia bahwa beberapa etnis yang merantau itu dan beranak pinak di sana tentu tidak membawa ritual budaya di mana mereka berasal karena budaya itu secara etis dan moral adalah milik para kerajaan di mana mereka berasal.

Artinya apa makna dari lakon sejarah ketika eksodus etnis ini terjadi ke wilayah Malasyia sekitar abad 17, Malaysia kontemporer saat ini ketika mereka kembali akan mengukuhkan jati diri akar budayanya sebagai lambang supremasi promosi pariwisata, mereka menemukan berasal dari leluhur para pelarian yang kecewa dan tergusur di tanah nusantara pada masa itu. Tentu secara mistik ini adalah luka lama dan dendam sejarah yang perlu diraih kembali demi keagungan leluhur mereka, secara psikologis dan kosmologi Malaysia memang punya potensi The Nation Terror For Indonesia dalam lakon sejarah Kerajaan Malaysia ?

Indonesiaunite, maka perlu kita sadari bahwa klaim Malaysia ini tidak jauh berbeda dengan penguasaan beberapa SDA Indonesia yang dikuasai oleh pihak asing seperti gas dan minyak di Aceh, Blok Cepu, PT Freport, HPH yang dimiliki oleh beberapa perusahaan asing, dan seterusnya. Arus reformasi pasca Soeharto tumbang di mana kebebasan informasi begitu meluas di tanah air telah membuka kesadaran rakyat dan pemerintah Malaysia yang selama ini merasa direpotkan oleh para TKW dan TKI kita, bahwa bangsa Indonesia sebenarnya di dalam penguasaan ekonomi pihak asing.

Atas kondisi ini, kongklusinya di dalam pencaturan diplomasi politik Internasional, pihak asing di Indonesia melalui company-companynya mempunyai persamaan persepsi dengan Malaysia, mempunyai kepentingan yang sama di Indonesia, sehingga semisal kasus pulau sipadan-ligitan dapat dimenangkan oleh Malaysia di arbitrase international.

Hasilnya, walaupun Malaysia dalam kebijakan politik dalam negerinya sangat anti budaya AS dan barat, namun kebijakan diplomasi politik international mereka sangat bersahabat dengan AS dan dunia barat yang nota bene semua afiliasi Yahudi-Israel. Indonesia kalah dalam percaturan diplomasi politik international dengan Malaysia, jadi segala sengketa dalam arbitrase mahkamah international sangat jelas akan menguntungkan negeri jiran tersebut.

Indonesia adalah negara besar baik luas wilayah dan besaran penduduk di dukung oleh kekayaan alam setelah Cina, AS, dan India, plus mayoritas muslim, jadi semua bangsa merasa punya kepentingan besar atas kelansungan bisnis mereka di Indonesia termasuk masalah ideologi.

Nah, kembali lagi kepada kita, harus kemana bangsa ini menghadapi kemelut ini, gurita era globalisasi neoliberalisme dimana kita hanya menjadi penonton dan penikmat sesaat ?

Kita pernah punya Soekarno dengan slogan ‘Ganefo’ disegani oleh dunia AS/barat dan Malaysia, kita juga pernah punya Soeharto disegani karena kepeloporannya dalam gerakan non blok dan ASEAN, ternyata kepeloporan itu banyak negara-negara asing yang punya kepentingan besar di Indonesia menjadi risau dan gundah gulana. Artinya kita memang butuh figur yang menganeksasi dan mengkolaborasi misi dan visi kedua pemimpin tersebut agar dapat menuai suksesi yang tertunda dalam satu tangan seorang presiden dan dengan dukungan parlemen yang kuat agar gerakan politik keniscayaan konfrontasi itu lahir dalam diplomasi politik international yang elok.

Lima tahun ke depan langkah-langkah itu terasa mendesak untuk segera dilakukan, gerakan nationalisme dalam bentuk aksi sensitifitas budaya di forum international harus menjadi pilihan mutlak sebagai stimulus menggerakan semangat membangun dari dalam negeri. Namun secara paralel PR dalam negeri seperti pemberantasan korupsi perlu dengan tegas-tegas diberantas karena berdampak di dalam menguatkan gerakan penanggulangan kemiskinan dan penguatan fondasi perekonomian negara serta metode pendidikan dapat dijangkau oleh semua kalangan dari dasar sampai erguruan tinggi. Stabilitas ekonomi yang mapan didukung sensitifitas budaya nasionalisme yang tinggi akan berdampak positif di dalam penguasan sistem keamanan dan pertahanan nasional yang kuat di tangan profesionalisme TNI dan Polri. Dan pada sisi lain PR yang menunggu adalah reformasi kinerja birokrat pemerintahan kita.

bagaimanapun itu, semua kembali kepada diri kita, bahwa diri kita sendiri yang bisa membuat kita bermartabat dan dihargai serta disegani oleh pihak luar. Bagaimana kita bisa berwibawa di hadapan negara lain kalau ternyata korupsi dan kemiskinan adalah penyakit akut yang tidak bisa kita sembuhkan ?

karena Malaysia of nation terror for Indonesia itu tidak perlu ada dan sejenisnya kalau para pemimpin nasional bangsa ini bisa mengelola peran-peran itu.

Permintaan maaf Malaysia atas klaim tari pendek sebagai momentum awal melakukan gerakan itu, mereka tidak cukup sekedar meminta maaf, pemerintah Indonesia harus menggalang konsesi dari negeri jiran sebagai wujud niat baik mereka “meminta maaf” atas klaim-klaim berbau terror selama ini, bukankah Nurdin M Top adalah warga negara Malaysia.

Jika Malaysia tidak mau melakukan ini, maka jalan konfrontasi dalam bentuk aksi pemboikotan produk malaysia dan pemutusan hubungan diplomatik adalah alternatif terbaik. Jika jalan ini tidak menemukan solusi terbaik, maka kemungkinan besar gejolak di dalam negeri Malaysia segera akan terjadi, pemerintah dan WNM akan terprovokasi melakukan diskriminasi dan pengusiran terhadap para TKW dan TKI kita yang secara kasar berjumlah antara 1 – 3 juta orang. Salah penanganan pemerintah Malaysia mengelola ‘chaos’ ini akan mengakibatkan lahirnya tragedi kemanusiaan international, inilah scenario terburuk yang akan meluluhlantakkan famor malaysia di dunia international, berani ?

Bagi saya secara sederhana harus berani dan segera mungkin ? wallahualam,
lalu bagaimana tanggapan teman-teman blogger lainnya ?

Salam dialog

Iklan