Indonesial VS Malaysial, Menuju Keharmonisan Rumpun Melayu

Posted on 30 Agustus 2009

2


Kata Indonesia dan Malaysia jika masing-masing ditambah huruf ‘L’ pada akhir kata, maka menjadi Indonesial dan Malaysial, sama-sama menajdi negeri sial. ‘L’ itu apa ? ya anggap saja itu Lembaran masa lalu. Artinya jika konfrontasi antara keduanya terus dilakukan seperti yang terjadi di situs Topix Malaysia Forum, endingnya tidak akan pernah berkesudahan. Termasuk jika seandainya TNI Indonesia berani melakukan invasi dan aneksasi terhadap Malaysia seperti kasus Irak terhadap Kuwait, hasilnya kedua negara ini menjadi negeri sial, yang untung malah AS dan sekutunya yang tampil sebagai juru damai.

Apa yang disebut orang Indonesia dan orang Malaysia keduanya itu tidak ada, yang ada di kedua wilayah ini adalah orang yang berasal dari etnis Jawa, Minang, Melayu, Bugis, Ambon, Aceh, Batak, dan Tionghoa. Negara Singapura dan Kualalumpur yang masuk gugus kepulauan Malaka karena berada dijalur lalu lintas perdagangan selat Malaka merupakan wilayah kekuasaan kerajan Sriwijaya di Palembang. Dan pada jaman Patih Gadjah Mada wilayah Kalimantan Utara (Selangor dan Nunukan) menjadi wilayah kekuasaan Kerajaan Majapahit. Pada abad yang sama sekitar abad 13-15 di Sulawesi bediri Kerajaan Goa dan Kerajaan Maluku di Ambon. Jika semua kerajaan ini langgeng sampai abad 19 maka tentu masing-masing akan berdiri menjadi sebuah Negara.

Pergesekan, disimilasi, dan assimilasi budaya mulai terjadi ketika Islam mulai masuk ke nusantara sekitar abad 16 dan 17 Masehi, peristiwa ini umumnya terjadi di daerah pesisir baik di wilayah Sumatera, Pantura Jawa, dan Goa-Makassar. Perantau, pedagang dan penyebaran agama Islam semua menyatu jadi satu. Ada tiga titik jalur lalulintas budaya ini yang selalu bersentuhan yaitu Selat Malaka yang akhirnya melahirkan Singapura dan Kualalumpur Malaysia, Selat Sunda melahirkan Batavia (Jayakarta), dan Selat Makassar yang melahirkan Kota Surabaya, Kota Makassar, Kota Pare-pare, dan Kota Nunukan Malaysia Barat.

Konsep wilayah ‘Indonesia Raya’ yang digagas oleh para pemuda yong Java, Yong Boerneo, Yong Clebes, Yong Ambon, Yong Minang, Yong Melayu, Yong Aceh, dan Yong Sumatera dalam Sumpah Pemuda tahun 1928 adalah konsep menggabungkan puncak-puncak kekuasaan wilayah Kerajan Sriwijaya, Majapahit, Goa, dan Tanah Maluku-Ambon. Artinya menggabungkan wilayah saat ini di Indonesia, Singapura, Kualalumpur dan Negeri Selangor-Malaysia Barat. Sungguh cerdas para pemuda kita saat itu dan tentu sangat paham dengan perkembangan sejarah yang telah dipenuhi proses disimilasi dan assimilasi budaya yang umumnya terjadi di daerah pesisir.

Pada saat Orla di mana di bawah kepemimpinan Presiden Soekarno yang pada masa itu mengkampanyekan anti AS dan para sekutunya, sensitifitas budaya para pemuda kita sangat bergelora nasionalisme dalam konteks ‘Indonesia Raya’, sedangkan Malaysia pada saat itu di bawah kekuasaan Britis Inggeris sekutu AS artinya lawan bagi Indonesia, akhirnya sensitifitas propaganda “ganyang Malaysia” menemukan momentumnya bagi kaum muda kita di bawah komando Soekarno. Ikatan pergerakan pemuda dan Soekarno sangat kental karena kaum mudalah yang memotivasi Soekarno dalam pertemuan di Rangesdengklok agar segera mengumunkan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia.

Dalam impian kaum pemuda masa itu adalah impian perwujudan “Indonesia Raya” dimana Indonesia Raya juga sebagai symbol dan judul lagu kebangsaan kita, harapannya agar pemerintah Orla dapat menguasai seluruh wilayah Singapura dan Malaysia yang dihuni oleh para perantau Melayu dari Tanah Riau Minang, Jawa, dan Bugis.

Mungkin lagu kebangsan kita di plesetkan oleh beberapa kelompok kaum muda Malaysia karena masih trauma konsep wilayah ‘Indonesia Raya’ ini.

Kembali lagi ke masa silam saat Islam mulai masuk ke pelosok dan pesisir nusantara, beberapa bangsawan yang tidak eksis di wilayah seperti Sulawesi yang dikuasai oleh Kerajaan Goa Bugis-Makassar, dalam epos lagaligo para bangsawan Kerajaan Luwu melakukan perantaun di tanah Malaysia. Para Melayu yang tidak eksis di daerah Minang dengan adanya kerajaan Sumbar, juga merantau ke Malaysia, dan runtuhnya kerajaan Majapahit membuat beberapa raja merantau ke tanah Bali bagi yang beragam Siwa, Hindu-Budha, sedangkan etnis Jawa yang sudah memeluk Islam yang berada di pesisir pantura mereka juga merantau ke Malaysia.

Sialnya bagi Malaysia bahwa beberapa etnis yang merantau itu dan beranak pinak di sana tentu tidak membawa ritual budaya di mana mereka berasal karena budaya itu secara etis dan moral adalah milik para kerajaan di mana mereka berasal.

Sialnya bagi Indonesia bahwa proses assimilasi dan disimilasi budaya itu porak-poranda karena politik ‘devide et empire’ kaum penjajah, sehingga bangsa Indonesia dan Malaysia terbentuk menjadi sebuah Negara berdasarkan otoritas wilayah koloni penjajah.

Konsep Hindia-Belanda kemudian menjadi wilayah Indonesia tentu berbeda dengan konsep ‘Indonesia Raya’ yang merupakan puncak wilayah kekuasaan kerajaan nusantara, Indonesia adalah warisan colonial Belanda, sedangkan Malaysia adalah warisan colonial British Empire. Indonesial dan malaysial karena dikoloni bangsa penjajah.

Jadi Malaysia jaman dulu adalah tanah rantau para imigran etnis di wilayah nusantara kita seperti AS menjadi tanah rantau bagi para imigran eropah. Motivasi dan semangat kerja para imigran umumnya lebih gesit bekerja di tanah perantauannya dibandingkan pribumi yang lahir dan besar di tanah leluhurnya, biasanya hidup lebih manja karena dukungan kerabat, keluarga dan SDA yang melimpah.

Hasilnya Malaysia mampu membangun kemandiriannya sampai saat ini dan itu mereka dapatkan ketika awal-awal Orba mereka banyak belajar di Indonesia. Fenomena partai UMNO adalah duplikasi fenomena single mayority Golkar yang saat itu di bawah rezim Pak Harto.

Malaysia saat ini membuat batas demarkasi yang jelas antar budaya AS dan barat dengan budaya Melayu, nah sialnya ketika mereka kembali ke akar budaya untuk mengokohkan jati diri bangsa malasyia, akar budaya itu berada di Indonesia. Kita masih ingat pada jaman Orba Indonesia-Malaysia sering mengadakan event pertukaran dan kerjasama Budaya, tapi pasca reformasi hal ini seperti terlupakan, semetara Malaysia semakin dahaga dengan akar budayanya yang ada di Indonesia.

Sebenarnya moment ini dapat dipergunakan dalam sejumlah penelitian budaya antar kedua Negara, sehingga beberapa budaya Melayu yang belum tergali di Indonesia dapat dikembangkan di Malasyia. Sialnya bagi Indonesia kita lebih berkiblat pada budaya As dan barat sejak deregulasi kebijakan di sector pengelolaan media termasuk media televisi, Indonesia di serbu oleh berbagai penerbitan media barat, media kita juga jadi ikut arus, sehingga kita masih ingat sinetron telenovela dari barat selalu jadi rating jam siar di TV-TV Indonesia.

Kesialan Indonesia yang lain, bahwa pada awalnya Malaysia sangat kagum atas kepemimpinan Soeharto, namun sayang Pak Harto kelamaan 32 tahun dan tidak melakukan regenerasi kepemimpinan nasional sehingga harus jatuh mengenaskan di sapu gelombang reformasi setengah hati. Sedangkan Malaysia mampu melakukan regenerasi kepemimpinan nasionalnya di bawah Perdana menteri Mahatir Mohammad, mereka happy ending soal ini dan inilah kekalahan, kegagalan dan kesialan kita, nyata kalah dengan Malasyia.

Jadi kebenarannya bahwa Malaysia mampu membangun jiwa nasionalisme kemandiriannya dengan metode sensitifitas budaya, kembali ke akar budaya, sedangkan kita seolah melupakan itu, nasionalisme kita lebih banyak masuk pada ranah politik, sementara ranah sensitifitas budaya kita terlupakan, sehingga nasionalisme yang kita miliki seolah tidak punya akar budaya.

Fenomena bisnis di Indonesia juga penuh dengan ketidakpastian, seperti hutan belukar, siapa yang kuat dia yang Berjaya, artinya bisnis Indonesia sangat kental dengan muatan pendekatan kekuasaan, hasilnya hanya Negara-negara kuat yang berani berbisnis dan berinvestasi di Indonesia, seperti AS, kanada, Jepang, Taiwan, Cina dan seterusnya, sementara Malaysia tidak berkutik dengan sikon ini, padahal beberapa pengusaha Malasyia sangat berminat berinvestasi di Indonesia.

Kita sebenarnya punya banyak kebutuhan di malasyia karena mereka butuh banyak para TKI kita, sialnya kita seolah tidak pernah serius membahas masalah ini dengan Malaysia, karena saudara serumpun, seperti yang selalu mereka akui sendiri, pendekatan ‘rasa’ perlu lebih ditonjolkan sembari pendekatan ‘akal’ karena Malasyia memiliki sensitifitas budaya melayu yang tinggi, hal ini dapat kita lihat proteksi pemerintah mereka terhadap pengusaha melayu agar kompetitif dengan pengusaha keturunan. Dan yang terakhir warga Malasyai melakukan protes kepada rajanya karena TV-TV Malasyia mulai lebih banyak menayangkan wajah-wajah melayu belasteran barat di acara-acara sinetron. Sementara kita malah bangga dan menjadi panutan idola bagi artis-artis kita yang berwajah indo.

Demikian pula dalam hal budaya kita lebih banyak kebutuhan di Malaysia, karena mereka juga butuh dan percaya bahwa akar budaya mereka ada di Indonesia.

Seandainya sensitifitas budaya ke dua negera ini bisa sinergis di dalam sama-sama bahu membahu membangun nasionalisme dan kemandirian masing-masing bangsa, maka tentu Indonesial VS Malaysial itu tidak perlu ada lagi. Wallahualam.

Salam dialog

Posted in: Budaya, sejarah