Mubarok Keselip Lidah, HNW Meradang

Posted on 29 Agustus 2009

1


Mantan Presiden Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Hidayat Nurwahid menganggap serius pernyataan Ahmad Mubarok soal merapatnya PD ke PDIP untuk menekan PKS. Meski bernada guyonan, pernyataan itu dianggap tidak pantas diutarakan oleh seorang pengurus partai.

“Ia (Mubarok) bukan pelawak yang harus membuat orang tertawa, bukan (pula seorang) guyonan,” kata Hidayat kepada wartawan usai buka puasa bersama di kediamannya, Jl Widya Chandra, Jakarta Selatan, Sabtu (29/8/2009). Menurut Hidayat, sebagai seorang wakil ketua umum partai, seyogyanya Mubarok bisa bersikap lebih elegan. Yaitu, dengan saling menghormati satu sama lain sesama pendukung SBY.

“Kita bukan sedang berada di lapangan sepakbola yang kemudian bisa ditendang ke sana ke sini,” jelasnya.

Pernyataan meradang HNW karena di picu oleh pernyataan Ahmad Mubarok WakilKetum PD bahwa manuver PD ke PDIP sebagai manuver politik untuk menekan partai koalisi PD. Mubarok malah menambahkan bahwa pernyataan ini hanya sekedar menegaskan bahwa terkait penyusunan kabinet semua harus tahu itu adalah hak prerogratif Presiden terpilih SBY.”Kewenangan memilih menteri ada pada SBY bukan partai pendukung,” imbuhnya.

Sikap meradang PKS yang diwakili oleh HNW mungkin juga dipicu oleh keinginan PKS mendapat 3 sampai 4 jatah menteri di kabinet yang baru, selain itu pula HNW juga masih berkeinginan untuk tetap menjadi ketua MPR 5 tahun berikutnya.

Kegerahan HNW ini muncul sebagai kelanjutan atas sikapnya melihat manuver PD yang merapat ke PDIP, pasca pertemuan di Teuku Umar yang dihadiri oleh Hadi Utomo Ketum PD dengan TK dan Bu Mega, di mana pada pertemuan ini sempat muncul opsi TK akan menjadi kandidat kuat sebagai ketua MPR plus PDIP akan mendapat 2 jatah menteri. Pertemuan ini di tuding oleh HNW sebagai manuver politik dagang sapi, atas tudingan ini Ahmad Mubarok pun melontarkan pernyataan itu.

Pernyataan Mubarok ini sudah di anulir oleh Andi Mallarangeng, demikian pula oleh Anas kalau pernyataan Mubarok itu cuma guyonan saja dan mengatakan tidak ada agenda untuk menekan partai koalisi. “Syarif Hasan (Ketua Fraksi PD) sudah minta maaf. Kata Anas Urbaningrum (Ketua DPP) itu hanya guyonan. Kalau itu kelasnya Mubarok, ya kasian betul beliau,” pungkasnya.

Sebelumnya, Mubarok juga pernah melontarkan pernyataan kontroversial. Saat itu, ia menyampaikan ke media bahwa perolehan suara Parta Golkar pada Pemilu Legislatif 2009 bisa jadi tidak mencapai 2,5 persen. Pernyataan itu lantas membuat kubu beringin bereaksi keras. Tidak hanya itu, pernyataan Mubarok juga membuat Ketua Dewan Pembina PD Susilo Bambang Yudhoyono mesti turun tangan untuk mendinginkan suasana.

Menjelang SBY nyusun kabinet baru di bulan Oktober, intensitas gerilya dan manuver politik akan meningkat di tubuh politisi PKS dan PDIP serta PD, PKS dan PDIP tentu masing-masing mengincar posisi ketua MPR karena posisi ini cukup berpengaruh di suksesi pemilu 2014 nanti.

Bagi PDIP posisi ketua MPR sangat urgent dengan menempatkan TK karena dua pemilu terakhir famor Bu Mega semakin terguras, mungkin Bu Mega tidak akan terpilih lagi atau mundur jadi Ketum PDIP, itu berarti TK sebagai Ketua MPR sangat layak menjadi pengganti Bu Mega. Politisi PKS tentu tidak rela dong posisi ini lepas, apalagi selama ini PKS sejak Pemilu 2004 sangat setia koalisi dengan PD karena kemungkinan besar SBY akan mengambil sikap ketua DPR akan dipegang oleh salah satu politisi PD.

Kalau saja PDIP siap berkoalisi dengan PD di parlemen dengan konsesi Ketua MPR, partai besar lain yaitu Golkar tentu tidak akan ketinggalan mendukung pemerintahan SBY apalagi jika Pak Ical terpilih jadi Ketum Golkar, nah, bagaimana dengan peran oposisi, barangkali kita ucapkan saja, selamat tinggal oposisi parlemen Indonesia.

Bagaimana tanggapan para netter, wah nampaknya masih sibuk dengan propaganda anti terorisme dan sikap “ganyang” Malaysia ? wallahualam.

Salam

Posted in: Pilpres 2009, Politik